BAB 3. Divya Si Putri Tidur

1151 Words
Pria tampan dengan pakaian seragam lengkap itu memasuki rumah mewah yang berada tepat disebelah rumah keluarganya “ pagi bunda” sapa pria itu pada wanita paruh baya yang sedang menyiram tanaman “ udah rapi aja..anak perempuan bunda jam segini pasti masih tidur” aku Bu Rina Mendengar hal itu membuat Davian tertawa, tampan sekali. Sudah tidak heran lagi pada satu hal itu, setiap pagi Davian akan selalu datang untuk membangunkan gadis yang masih bergelung dengan selimut tebalnya itu. Dasar gadis tukang tidur “ Vya” panggil Davian mencoba membangunkan gadis itu Divya, gadis itu masih nyenyak tidur bahkan setelah Davian mencoba membangunkannya berkali kali, gadis itu masih bergeming. “ Divya Elakshi” panggilnya dengan suara yang lebih keras Gadis itu tiba tiba saja terbangun, mungkin terkejut mendengar suara Davian. “ Dave, banguninya jangan gitu banget dong” protes Divya dengan wajah ngantuknya “ habisnya kamu itu susah banget dibangunin, kek putri tidur aja” protes Davian “ are you ookay?” tanya Davian melihat wajah  pucat Divya, gadis itu tidur atau habis berlatih sih, wajahnya lemas seperti orang yang baru melakukan sesuatu “ Vya sakit?” Davian menyentuh kening Divya, suhunya terasa normal “ Dave, kenapa ya setiap Vya bangun tidur itu rasanya capek banget, badan Vya pegal semua, seperti baru aja melakukan aktivitas berat gitu, dan sampai hari ini Vya sama sekali belum pernah yang namanya mengalami mimpi. Vya bingung deh” terang Divya menjelaskan keanehan yang dialaminya , mengherankan memang, setiap orang setelah tidur pasti akan merasa segar dan tenaga yang hilang setelah beraktivitas akan kembali, namun berbeda dengan Divya, gadis itu justru merasa lelah seolah olah baru saja melakuukan aktivitas yang berat “ udah pernah cerita sama bunda?” tanya Davian, sejujurnya pria itu juga tidak mengerti hal seperti ini “ udah, bunda bilang mungkin karna Vya tidurnya gak bener” adu gadis itu Davian mengelus rambut Divya, lalu tersenyum hangat “ mungkin itu benar” “ gimana kalau dibawah alam sadar Vya terjadi sesuatu..seperti misalnya seseorang mengambil jiwa Vya saat Vya tidur” tutur Divya Davian menggeleng tidak percaya pada pemikiran gadis itu, sepertinya sering membaca novel fantasi membuat otak gadis itu ikut berfantasi dan memikirkan hal hal yang tidak mungkin terjadi “ aw” ringis Divya saat Davian malah menjitak keningnya “ kok dijitak sih, sakit tau Dave” protes Divya “ lagian pemikiran kamu itu aneh aneh aja sih, mana ada yang kayak gitu. Itu cuma ada di novel fantasi yang sering kamu baca. Udah deh, mungkin bunda benar, kamu tidurnya gak bener makanya terasa pegal pas bangun”  cerocos Davian, Divya cemberut “ dasar cerewet, sama kayak bunda” cibir Divya masih dengan wajah cemberutnya “ sana mandi” perintah Davian menghiraukan wajah kesal sahabat kecilnya itu “ iya iya…” pasrah Divya Sembari menunggu sahabatnya itu bersiap, Davian memperhatikan kamar bernuansa biru milik Divya, dasar gadis pencinta biru. Hampir semua benda yang dimiliki gadis itu termasuk boneka dan ikat rambut seluruhnya berwarna biru. Netra Davian beralih pada foto masa kecil keduanya yang dipajang di meja belajar Divya. dalam foto itu terlihat keduanya sedang tertawa saat bermain ditaman. Ada sebuah tulisan yang ditempatkan dibelakang foto” double D lovers, Davian Divya”. Davian tersenyum melihatnya. “  Dave” panggil Divya “ hem?” “ Divya gak masuk dulu aja kali ya, badan Vya pegal banget tau” rengek Divya, gadis itu duduk didepan cermin tanpa sedikitpun berniat merapikan rambut pirang panjangnya, yang masih tergerai bebas. “ ada mata pelajaran olahraga ya?” tebak Davian tepat sasaran Divya menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal sama sekali, gadis itu seperti ketahuan melakukan sesuatu, tetapi soal rasa pegal Divya sama sekali tidak berbohong “ ayolah..Vya malas banget harus disuruh olahraga, apalagi disuruh lempar bola ke ring, sumpah Vya ga suka Dave..yaya bantuin Vya ngomong sama bunda, please”adu Divya berharap Davian mau mengerti. Davian mendekati Divya mengambil sisir lalu mulai merapikan rambut sahabatnya itu “ Dave ih” “ tenang aja, nanti Dave bantuin”  Divya menggerucutkan bibirnya, kesal karena Davian tidak berada di pihaknya. Jika Davian suka olahraga terutama basket maka Divya benci itu, jika Davian tidak suka belajar maka Divya adalah gadis berprestasi. Sifat keduanya memang berbanding terbalik, tetapi itulah yang membuat hubungan keduanya semakin erat, saling melengkapi. “ sudah rapi, ayo pergi” ajak Davian, Divya bergeming tidak berniat beranjak sama sekali “Vya..ayo” ajak pria itu lagi, mengambil tas dan menarik tangan Divya membuat sang empunya mau tidak mau harus beranjak. Menyebalkan sekali. Sampai di sekolah pun wajah cemberut Divya masih menjadi sorotan “ dih masih ngambek” goda Davian “ Dave” panggil seseorang Davian dan Divya mau tidak mau menghentikan langkah menuju kelas, saat seorang gadis yang yah amat cantik menurut penglihatan Divya. Gadis bernametag Amira iitu salah satu queen di SMA Bhintara Jaya, keeksisannya di sekolah serta kecantikannya membuat banyak orang berharap gadis itu jadi pacar serang most wanted boy, siapa lagi kalau bukan Daavian. “ kenapa Mir?” Merasa direspon baik oleh Davian, Amira tersenyum senang, tentu semua perilaku gadis cantik itu tidak lepas dari perhatian Divya “ ehm ada waktu gak, temanin gue daftar akademi yuk nanti” ajak gadis itu berharap Davian akan menurutinya “ ehm, sorry Mir, lo ajak yang lain aja ya, gue udah janji mau menemani Divya ke launching novel kesukaan dia” tolak Davian Mendengar hal yang dikatakan Davian seketika mata Divya berbinar, gadis itu tidak lagi cemberut seperti saat mereka tiba. Ah sangat mudah membujuk gadis polos seperti Divya “harus gitu lo yang nemani dia, kan dia udah bisa sendiri” ucapa Amira seolah membuat posisi Divya yang salah disini. “ enggak, dia gak bisa pergi sendiri, btw seharusnya hal itu yang lo bisa lakuin sendiri bukan” balas Davian terlihat mulai tidak menyukai Amira. Semua orang mengagumi kecantikan gadis itu, juga betapa ramahnya gadis cantik itu pada semua orang, tetapi tidak dengan Davian. Pria itu sama sekali tidak tertarik dengan Amira, menurutnya gadis itu terlalu berlebihan soal apapun. “ ehm yaudah deh, hati hati kalau gitu” ucap Amira akhirnya, sepertinya gadis itu tidak ingin dipandang lebih buruk lagi oleh Davian karena memaksakan kehendak “ kalau gitu kita duluan ya” pamit Davian, menggenggam tangan Divya dan pergi begitu saja, meninggalkan Amira dengan wajah kesal yang coba disembunyikan dari Davian. “ beneran pulang sekolah ke launching novel fantasi yang lagi trend itu?” tanya Divya memastikan, Davian mengangguk membuat gadis berkepang satu itu tersenyum senang, semua yang berada disana sedikit terkejut melihat betapa indahnya senyuman seorang Divya, selama ini yang mereka lihat hanya gadis berkepang satu yang kemana mana membawa novel dan sama sekali tidak tersenyum, kalau dilihat lebih dekat Divya bahkan lebih cantik  daripada Amira jika saja gadis itu mau mengekpos kecantikannya. Sayangnya gadis itu memilih menyembunyikannya lebih tepatnya diminta untuk meyembunyikan kecantikannya. “ masih kesal sama Dave?” tanya pria itu, Divya menggeleng dengan senyum yang masih stay di wajahnya. “ gitu dong..” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD