Hoamm ....
Mulutku menguap menahan kantuk yang begitu mendera setelah aku membuka mata, ada dari semalam aku tidur tepat waktu dan aku sama sekali tidak kekurangan istirahat. Akan tetapi entah kenapa rasanya tidur yang aku lakukan selalu saja terasa kurang.
Atau sebenarnya semua ini karena tidurku saat ini sangat nyenyak tanpa memikirkan apapun yang berhubungan dengan rumah ini?
Tidak kusangka setelah kedatangan Amira dan perempuan itu juga menyetujui semua syarat yang aku berikan kepada dia dengan dalil agar aku mau menerima pernikahan kedua mereka dengan lapang d**a, aku bisa tidur dengan begitu nyenyaknya seolah tanpa beban sama sekali.
"Ah, perutku terasa lapar! Apakah Amira sudah memasak makanan untuk makan siang hari ini?" Dengan sedikit malas aku mencoba menggerakkan kedua kakiku untuk menuruni ranjang dan berniat mengecek ke dapur untuk mencari tahu apa yang sudah disiapkan oleh Amira untuk makan siang kali ini.
Akan tetapi betapa terkejutnya aku saat melihat barang belanjaan yang dibeli oleh Amira masih terbengkalai di atas lantai bersama keranjang belanjaan yang dibawanya. Barang-barang tersebut sama sekali tidak ditata dengan baik di dalam lemari es, bukan hanya itu saja, akan tetapi meja makan yang ada di sana pun terlihat kosong tanpa ada satupun makanan yang menghiasi.
Enggan untuk membereskan semua yang terjadi di sana, aku memilih untuk berjalan keluar dari dapur dan kemudian melihat mereka dalam kamar tamu, dimana di dalamnya berisi Mas Panji dan Amira yang sedang sama-sama terlelap.
'Pantas saja meja makan di dapur tidak terisi dengan makanan, rupanya dia hanya belanja saja dan tidak mengolahnya menjadi makanan! Baiklah, kalau begitu akan aku tunjukan apa akibatnya kalau tidak memasak, hahaha!"
Gegas aku melangkah kembali ke dalam kamar, mengambil ponsel milikku dan kemudian memesan beberapa makanan di dalam aplikasi berwarna hijau. Setelahnya menunggu beberapa saat hingga pesanan yang aku inginkan akan diantar menuju ke rumahku lalu segera menyantapnya hingga habis, kemudian kembali menunggu pasangan pengantin baru itu bangun dari tidurnya.
Tidak lupa aku juga langsung membuang bungkus makanan yang sebelumnya aku beli agar tidak menimbulkan jejak, aku ingin lihat bagaimana mereka menyikapi semua ini. Saat bangun tidur nanti, pasti mereka akan merasa lapar, lalu bagaimana jadinya kalau tidak ada makanan yang tersaji di atas meja makan?
Aku tahu, mas Panji termasuk salah satu orang yang tidak bisa menahan lapar. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya saat istri mudanya itu tidak menyiapkan makanan untuknya.
Huh! Dia pikir aku akan membuatkannya makanan dan dia bangun lalu tinggal makan, begitu kah?
Jangan mimpi! Sudah cukup aku mau menerima kalian di rumah ini, dan aku tidak akan melakukan yang lainnya lagi.
Dalam kepalaku sudah terbayangkan betapa hebatnya keributan yang akan terjadi nanti hanya karena makanan yang belum tersedia di meja makan saat Mas Panji bangun tidur nanti.
Beberapa puluh menit kemudian, mereka benar-benar bangun dari tidurnya. Dari kejauhan aku juga melihat Mas Panji berjalan menuju ke dapur, aku berani bertaruh kalau dia pasti akan mencari makanan setelah ini.
"Maya ...."
Aku menghembuskan nafas panjang sebelum menghampiri Mas Panji di dapur, sepertinya dia lupa kalau sekarang urusan rumah bukanlah urusanku lagi!
Rasain kamu mas! Makan tuh istri kedua mu.