Namaku Raline. Jika ada yang memanggilku dengan Rosemary, aku akan mengacuhkannya dan tak akan sekalipun menyahut. Tidak ada yang tidak tau tentang peraturan tak tertulis ini. Semua orang di kampus ini tau, tanpa terkecuali.
Meskipun aku dipanggil Rosemary dengan teriakan tiga oktaf dan ratusan ribu kali, aku akan tetap diam dan mengacuhkannya. Menurutku itu bukan sesuatu yang salah. Mereka sudah tau peraturan yang aku buat itu. Jika mereka tak mematuhinya, bukankah aku juga berhak mengacuhkan mereka? Lagipula yang butuh itu mereka, bukan aku.
Yah, jika aku kesal... paling akan aku kasih pelajaran dengan cara cantik. Aku tak akan 'melenyapkan' orang itu secara terang-terangan. Tak akan ada yang tau bagaimana caraku membalaskan kekesalan hatiku. Mereka tak akan menyadarinya sampai akhirnya tiba-tiba berita kehancuran orang itu tersebar. Koneksi dan uangku itu memang cukup kuat untuk diam-diam memberikan 'pukulan' hebat pada setiap musuhku.
Kenapa aku tidak mau dipanggil Rosemary? Aku benci nama itu!
Ketika aku mempertanyakan ke Mama apa alasan dibalik pemberian nama itu, aku justru mendapat jawaban yang memuakan. Katanya nama itu berasal dari kenangannya bersama Papaku dulu. Mamaku bilang ketika mereka bertemu, Papaku memberikannya bunga rosemary yang dikemas dengan cantik.
Aku langsung tertawa ketika mendengarnya. Aku memang tidak tau wajah Papaku dan tak pernah bertemu dengannya. Namun aku tau cerita dibalik kisah cinta mereka. Kisah cinta? Sebenarnya kalimat lebih tepat untuk menjelaskannya yaitu kisah cinta satu malam. Aku lahir diluar penikahan dan tanpa direncanakan.
Tidak ada yang menginginkan kelahiranku, kecuali Kakekku. Yah bagaimanapun juga Kakek memang butuh regenerasi untuk menjadi penerus bisnis perusahaan maskapai penerbangan miliknya. Saat itu, Mamaku anak satu-satunya dan tidak memiliki ketertarikan akan pernikahan, bahkan sampai sekarang. Mamaku lebih memilih bergonta-ganti pria daripada terikat dengan satu pria dalam pernikahan. Jadi ketika Kakekku mengetahui kehamilan Mamaku, ia justru menyambutnya dengan bahagia tanpa mempedulikan siapa pria yang telah menghamili anaknya.
Lalu apa arti nama Rosemary hanya sebatas seikat bunga yang diberikan oleh pria tak dikenal? Aku selalu tertawa setiap kali teringat jawaban Mamaku itu. Seputus asa itukah dia mencari nama, hingga menamai anaknya dengan bunga? Bahkan di KTP dan akta kelahiranku saja, namaku hanya terdiri dari satu kata 'Rosemary'. Biasanya orang tua akan memilihkan beberapa kata yang mengandung doa dan harapan mereka pada bayinya. Namun Mamaku hanya menamaiku satu kata dan tanpa punya makna mendalam dibaliknya.
Aku sempat mencari di internet apa makna dibalik bunga rosemary. Aku semakin tertawa ketika melihat tiga kata yang tampil dilayar ponselku. Kenangan, komitmen, dan kesetiaan. Tiga kata itu terasa sangat konyol dan memuakan. Itu sangat tidak cocok dengan history kelahiranku dan kisah orang tuaku.
Keluargaku memang lucu. Ah... keluarga? Aku hanya merasa keluarga itu sebatas hubungan darah dan keterangan di selembar kertas kartu keluarga. Aku bisa menghitung dengan jari berapa kali bisa bertemu Mamaku. Apalagi sejak Kakekku meninggal, Mamaku seolah tak punya ketrikatan dengan rumah dan memilih tinggal di hotel.
Sejak aku lahir, aku tak pernah tau wajah Papaku. Setiap kali bertanya, Mamaku hanya tertawa dan mengatakan kalau ia juga tak tau keberadaannya. Bahkan ada kemungkinan pria itu telah meninggal atau jadi gelandangan di jalan. Mamaku tak pernah mencari keberadaannya dan sibuk berkencan dengan berbagai pria. Dia lebih memilih berpesta dan sesekali bekerja, daripada harus mencari pria yang sudah lama dilupakannya itu.
Kenangan... kesetiaan... komitmen? Itu benar-benar omong kosong. Namaku hanya tak memiliki arti. Hanya sekedar nama. Bahkan mungkin keberadaanku juga tak memiliki makna. Hanya sekedar sebagai penerus keturunan dan bisnis keluarga. Cih! Karena itu, aku benci jika ada yang memanggilku Rosemary. Aku lebih menyukai dipanggil dengan nama Raline.
Ya, aku sendiri yang memilih nama itu. Pertimbangannya hanya sederhana, karena nama itu terdengar keren. Aku tidak butuh nama yang memiliki makna khusus. Aku hanya ingin tak perlu merasa muak setiap kali mendengar orang meneriakan namaku. Raline... aku suka nama itu, meski tanpa makna berarti.
Dengan kecantikan, kekayaan, dan kepopuleran yang aku punya tentu banyak orang yang ingin mendekatiku. Mereka berdalih ingin menjadi teman atau karena menyukaiku. Berbagai pria juga menyatakan cintanya padaku dengan banyak cara. Namun aku selalu menolaknya. Aku terlalu muak dengan kepalsuan. Mereka hanya menginginkan sesuatu dariku, bukan karena benar-benar menyukaiku. Entah menginginkan uang, kepopuleran, atau bahkan tubuhku.
Cinta? Aku tak percaya itu benar-benar ada. Aku tak pernah menemukan dan merasakan ketulusan. Jadi aku meragukan setiap kata cinta yang dilontarkan berbagai pria itu. Aku selalu muak setiap kali kaum pria mengatakan berbagai kalimat yang menyajungku. Kalimat-kalimat yang aku anggap penuh dengan kebohongan.
Hanya Syeiba dan Claudia yang aku biarkan berada didekatku. Meski aku sebenarnya tak percaya mereka benar-benar temanku. Namun membiarkan dua lalat mengelilingiku tidak akan membuat nyawaku terancam. Rasanya akan aneh jika aku berjalan sendirian di kampus, meski sebetulnya aku memang telah terbiasa sendirian. Namun orang lain pasti akan memandang aneh jika aku sendirian sepanjang waktu.
Syeiba dan Claudia bagai dua lalat yang aku pelihara. Aku memberikan apa yang mereka minta selama itu masih dalam batas wajar. Mengadakan party dan mentraktir makan bukan perkara sulit untuk ku berikan. Dua lalat itu memang mengganggu, tapi aku masih sedikit membutuhkan kehadiran mereka.
Jadi inilah aku Raline, bukan Rosemary.
CONTINUED
*************
Hai guys!
Gimana cerita ini? Menarik gak? Kalo iya, masukin cerita ini ke Library kamu, biar gak ketinggalan notif hihihi ^^
Jangan lupa love dan komen yo! :)