Kakak Adek Good Looking

2219 Words
Sejauh ini kinerja Annisa sangat bagus meski ia membawa kekuarangannya itu, Adrew juga melihatnya dubbing untuk pertama kalinya dengan alasan ingin melihat proses dubing. Akan tetapi Adrew bahkan rela menunggu dua jam untuk giliran Annisa yang melakukan tugasnya dengan baik. Ia senang melihat betapa cerianya Annisa di dalam ruang rekaman itu bersama seorang rekannya, ia melihat pancaran aura bahagia dari wajah Annisa. Adrew semakin yakin untuk melindungi Annisa dengan baik, ia akan mencoba menjaganya dan mencintainya dengan caranya. Annisa melakukan banyak hal untuk hidupnya dan ia merasa menjadi penjahat yang melepaskan pertanggungjawaban atas sikap buruknya pada sang korban. Namun ia paham, ia aka pergii dan mencoba menjadikan Annisa sebagai prioritasnya, tidak ada yang bisa menyentuhnya barang seujung kuku pun. “Hebat kamu, Nis!” puji Dania sebagai rekan dubbignya hari ini. “Kamu juga, Kak Dania,” balas Annisa malu-malu. Mereka keluar dari ruang rekaman dan langsung membungkuk pada Boss besar mereka sekarang, Annisa diberi isyarat oleh Dania untuk melakukan hormat pada bos mereka. Annisa pun mengangguk dan memikirkan semuanya dengan benar. “Kerja bagus,” ujar Adrew mengapresiasi. Annisa agak akrab dengan nada bicaranya, seperti seseorang yang pernah ia kenal, tetapi ia tak yakin hanya berpikir sejenak. Hingga ia mengikuti Dania untuk duduk di sebuah kursi tunggu, mereka bergantian dengan Yudha dan Nico yang saat itu akan mendubbing adegan action yang cukup menguras tenaga. Adrew tak lagi melihat ke arah dubber, tapi ia memperhatikan Annisa yang duduk di sampingnya sekitar semester dari tempatnya duduk. Sepertinya Dania juga merasakan hal itu, sehingga ia seilah membiarkan Annisa duduk di bagian kiri agaria tak menghalangi pandangan Adrew. Sore jam empat, Annisa pulang setelah salat asar tadi, ia mengoperasikan tongkatnya untuk memandu jalannya, hingga ia menabrak sesuatu. Bruk! Ia langsung panik, “Maaf Pak, Mas, Mbak, Bu, Dek … saya gak sengaja!” ujarnya bertubi-tubi. “Hey, tenang … gak papa kok,” ujar suara bass itu. Annisa mundur beberapa langkah, ia tersenyum tipis dengan raut wajah merasa bersalah. “Sekali lagi saya mohon maaf, saya pamit dulu, assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam,” gumam orang itu kemudian. Annisa kembali melanjutkan jalannya, ia tersenyum pada siapapun itu yang menabraknya tadi sebelum oergi. Ia juga merasa bersalah karena sering menabrak orang, tak jarang mereka melayangkan banyak sekali hinaan dan hujatan yang menunjukan bahwa orang buta sepertinya adalah manusia rendahan yang tak pantas hidup. Tentu ia merasa sakit hati, mungkin karena terlalu sering hatinya jadi kebal menerima hinaan yang paling hina sekalipun. Ia bahkan pernah dilecehkan dan hamper diperkosa tatkala ia baru pulang kerja, tetapi seseorang menolongnya dengan baik sehingga kejadian mengerikan itu tak pernah terjadi lagi padanya. Ia berjalan menyusuri jalanan, trotoar yang membantunya merasakan dan beberapa orang yang menyapanya membuatnya ingat jalan untuk kembali pulang. Seberapa banyak ia merasa sakit, semuanya akan baik-baik saja jika ia melihat hal positif lain yang ada di dunia ini, bahkan sebobrok apapun dunia ini. Akan tetapi perasaan Annisa semakin tidak enak ketika ia melangkah semakin masuk ke hang tempatnya tinggal. Ini masih jam 17.00 WIB, tetapi jalanan sudah sepi. Memang lingkungan tempatnya ngontrak tahun ini juga tak jauh beda dengan yang dulu, tidak aman dan banyak orang mabuk-mabukan di jalan. “Hai, Neng!” Benar, ini tidak aman, Annisa merinding mendengar ada sekelompok orang yang tengah bersenang-senang dan bau menyengat alcohol mulai mendekati penviumannya yang tajam itu, ini situasi darurat. “Maaf Pak, biarkan saya lewat,” ujar Annisa takut sambil terus berjalan maju berusaha menghindari orang yag menghadangnya itu. “Gak semudah itu Neng geulis,” balas orang itu. “Iya, sini Neng, kita main sebentar yok!” “Gak mau, pergi!” bentak Annisa mencoba kabur tetapi ia malah jatuh tersandung batu. “Weh jangan gitu dong neng, udah buta gak usah jual mahal,” ujar yang lain. “Lepasin!” Namun semua usahanya tidak berhasil, seseorang memegangi tangannya, lalu menyeretnya untuk mendekati teman-temannya yang lain. Annisa merontah dan minta tolong. “Tolong siapapun!” “Santai dong Neng, kita cuma mau main sebentar, ya gak Sob?” “Gak mau lepasin, tolong!’ Belum ada juga yang menolong, sampai sebuah tinjuan sampai di wajah seseorang yang memegang Annisa, ia meniju penjahat itu dan berkata. “Lepasin, calon bini gue, a*u!” “Wah ngaku-ngaku lo ….” Ujar preman lainnya. Akan tetapi orang yang ditinju tidak terima dan segera membalas, tetapi pahlawan itu mampu menangkisnya dan melemparkan apapun pada keempat preman itu. Pria itu langsung membawa Annisa kabur dan melarikan diri dari keempat preman yang mabuk dan oleng itu. Keempat preman itu tak bisa mengejar Annisa dan dirinya, hingga mereka sampai di tempat aman. “Hos hos hos! Aku sudah gak kuat, Mas ….” Ujar Annisa melepas pegangan tangan laki-laki itu. “Iya udah aman kok, kamu gak papa kan?” tanya pria itu. “Alhamdulillah gak papa, makasih yah Mas,” ujar Annisa. “Sama-sama, kamu harusnya jangan lewa sana,” ujar pria itu. “Tapi saya gak tau lagi harus lewat mana selain jalan itu, kami baru sebulan pindah ke gang ini,” ujar Annisa lesu. “Ya udah saya antar kamu ke rumah ya,” ujar pria itu. “Boleh, makasih yah Mas, maaf ngerepotin.” “Its oke, yang penting kamu aman.” Mereka pun berjalan dalam keheningan, hanya suara tongkat Annisa yang membuat suasana mencekam itu mulai berirama. “Aku ada kontrakan punya Ayah saya, tempatnya aman dan gak jauh dari jalan utama, mudah akses kendaraannya. Kamu mau coba di sana,” tawar pria itu. “Hem, biayanya berapa yah tiap bulan?” “Satu juta sih, bisa dinego kok karena kamu kenal saya,” ujar pria itu. “Masa Mas, biasanya segitu sudah mentok kalau gak jauh dari keramaian, malah kebanyakan lebih mahal sekitar 1,5 juta.” “Enggak juga sih, orang Ayah saya niatnya bantu para perantauan,” jawab pria itu dengan suara menenangkan. “Em, oke Mas,” ujar Annisa mengeluarkan ponselnya, “Bisa ketik nomornya Mas?” “Oke, nama kontaknya Kris,” ujarnya. Annisa agak kaget, tetapi ia tersenyum dan mengangguk, “Iya Mas, makasih.” “Sama-sama, jangan sungkan. Kapan-kapan kalau kamu ma uke tempatnya, panggil saya aja.” “Iya Mas, makasih.” +++ “Kev, kamu tolong belikan saya rumah kontrakan di sekitar kantor pusat J-Production, ya.” “Oh iya Pak, sebentar saya hubungi seseorang dulu.” Kevin yang merupakan sekretaris keduanya langsung garcep melaksanakan tugas sang bos entah sedang apa ia kini. Memang itulah fungsinya sekretaris bagi Adrew, mereka harus siap kapanpun ia butuh dan garcep tanpa tapi dan nanti. Tak lama Kevin menghubunginya dan memberi kabar baik, yakni ia berhasil membeli rumah kontrakan itu untuk bosnya. “Tapi Pak, untuk apa Anda melakukan ini?” “Ini rahasia ….” “Oooh iya Pak, saya pamit undur diri.” “Hem ….” “Selamat malam,izin mematika sam ….” Tuuuut! Sambungan dimatikan oleh Adrew terlebih dahulu, akan tetapi Kevin dan karyawan lain sudah biasa dengan kelakuan Adrew yang satu itu. Mereka sebenarnya tak berani juga mematikan sambungan terlebih dahulu, sebab kalau Adrew tersinggung ia bisa saja mempersulit pekerjaanmu yang sebenarnya sudah bagus. Mungkin inilah yang namanya slogan, ‘Bos mah bebas.’ Malam ini Adrew merasa sangat cemas dengan kejadian tadi, ia sangat mengkhawatirkan Annisa yang hamper dilecehkan. Ia langsung saja menghabiskan lebih dari 2 Miliar rupiah untuk membeli tanah dan rumah kontrakan di dekat kantor J-Production yang bagus. Biaya asli kontrakan itu seperti yang dikatakan Annisa, 1,5 juta perbulan. Akan tetapi Annisa ternyata agak naif dan tidak terlalu mempermasalahkan semuanya, ia menerima bantuannya dengan tangan terbuka. Tak apa, nanti sebelum Annisa mendapat tempat terbaik itu, ia akan mengirim mata-mata yang akan menjaga Annisa dari jauh, apapun yang terjadi Annisa adalah dirinya yang harus dilindungiteramat sangat. Adrew senyum-senyum sendiri di balkon kamarnya, hingga ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Ia menghela napas malas karena merasa terganggu dengan orang di balik pintu tersebut, malam-malam malah mengetuk pintunya. Akan tetapi ia terkejut ketika melihat siapa yang mengetuk pintu, kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Darell, si bapak dua anak yang lucu-lucu itu. “Ngapa lo, Kak?” tanyanya. “Suruh gue masuk kek, malah tanya ngapain,” ujar Darell nyelonong masuk. Adrew hanya menghela napas, buat apa butuh perizinan kalau ujung-ujungnya masuk sendiri juga tuh orang. “Biasanya juga nyelonong lu,” balas Adrew lalu menutup pintu kamarnya. Darell duduk santai di atas kursi santai milik Adrew yang mengarah ke balkon dan memperlihatkan hamparan taman yang dipenuhi pohon-pohon rindang yang ukurannya tak terlalu besar “Ngapain sih lo, ke sini?” tanya Adrew risih karena Darell selalu membawa berita penting ketika ia menemuinya, sementara ia sendiri sangat terganggu dengan hal penting dan harus ia selesaikan. “Sante napa, Bro?” ujar Darell sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Bukannya gak sante, apa yang mau lo bahas sama gue?” “Oke, jadi gue denger dari Dokter Yunan, katanya lo cari donor mata, buat siapa sih? Lo gak katarak kan,” ujar Darelll bercanda. Adrew menghela napas, “Dasar Abang laknat, gue cari buat seseorang yang gue sayang, dia buta. Lo emang gak diceritain sama Kak Mei?” “Mei kalo dicurhatin orang, dia mah jaga rahasia, gue disuruh tanya langsung ke lo. Certain deh biar gue ngerti, sapa tau bisa bantu kan ….” Adrew akhirnya mengerti duduk perkaranya, lagipula ia juga ingin menceritakan pada Darell hanya karena mereka sama-sama sibuk sehingga tak memiliki waktu untuk bertemu, bahkan di meja makan kadang Adrew atau Darell berangkat terlebih dahulu. Andai Darell dan Mei tidak tinggal di rumah keluarga Rexan, nasib rumah mewah itu akan sangat sepi dan terkesan horror. “Jadi gini lo, Kak. Lo inget tragedy dulu yang diurus Bang Windu gak?” Darell mengangguk, “Lebih tepatnya yang bikin dia mundur dari kantor, kan,” ujarnya lebih ke pernyataan. “Ya gitulah, intinya cewek yang jadi korban itu sekarang buta, gue pingin nebus semuanya. Gue nyesel banget kenapa baru tau kasus ini dan endingnya Annisa.” “Oh namanya Annisa, yah … gue sih paham tujuan lo. Gue coba bantu deh di rumah sakit lain, pasti ada sih, lo coba bujugin orangnya aja buat operasi.” “Lagi tahap pendekatan,” ujar Adrew santai. “Emang dia mau dideketi?” tanya Darell. “Wah ngece lo Bang, heh gini-gini gue banyak yang ngefans.” “Iya … iya, jadi gimanalanjutan cerita lo?” “Yah gitu dia sekarang jadi dubber dan gue udah akuisisi perusahaan tempat dia kerja.” “Pemborosan lu,” gumam Darell. “Enggak juga, lagian tuh perusahaan juga menguntungkan.” “Terus apa lagi yang lo beli, Bocah?” tanya Darell geram sendiri. “Rumah kontrakan,” jawab Adrew seadanya. “Wih, bener-bener lu yah, kalo sampai nanti tuh Bokap murka, gue angkat tangan.” “Gak usah angkat tangan juga gak papa biasa aja,” jawab Adrew santai. “Lagian, apa sih motivasi lu terhadap semua yang lo lakuin, apa lo berharap tuh cewek mau maafin lo?” “Ya maulah, lo kok gitu sih. Kak Mei aja dukung, anjir lo Abang gue bukan sih?” “Yah Mei kan lembut orangnya.” “Tapi realistis kok, intinya sih dia yang ngasih gue semangat kalau apa yang gue usahakan baik, gue bakal lakuin yang terbaik juga.” “Sip dah, itu baru adek gua. Lu kudu siap dengan konsekuensi nantinya.” “Iya iya, gue paham kok.” “Kalo lo butuh bantuan lagi, bilang ama gue, kecuali masalah duit. Bukannya gue pelit ama lo, lo lebih tajir dari gue anjir.” “Iya paham-paham, lagian gue juga gak mau kali ngerepotin lo sejauh itu.” “Oke, intinya tunggu perkembangannya aja nanti.” “Sip, sono lo keluar!” Darell tertawa puas, ia berhasil membuat adiknya emosi. Tak terasa, padahal kemarin-kemarin adiknya masih SMA dan galau tentang seorang gadis, sekarang ia masih menggalaui orang yang sama hanya di posisinya yang lebih kuat. Sejujurnya Darell agak takut dengan perjalanan cinta adiknya dan gadis itu, takut akan seterjal dirinya dan Mei. Meski begitu, ia percaya Adrew memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah serrta memilih jalan hidupnya sendri. Hal yang mengkhawatirkan sebenarnya fakta bahwa sekarang Adrew mencintai gadis muslim sementara ia masih non muslim. Mungkin menggetarka hati wanita mudah, tetapi meminta ridho Allah atas pernikahan beda agama itu mustahil, jadi solusinya yah seperti dirinya. Adrew harus memeluk Islam atau mundur dari perjuangannya selama ini. Ia melihat Adrew memang gigih, mungkin tak seketara dirinya, akan tetapi ia melihat bahwa Adrew lebih banyak bekerja dengan otaknya, trik dan perjalanan bisnisnya tak luput dari cara bisnisnya yang senantiasa menemukan keberhasilan di akhirnya. Ia bangga pada Adrew, meski ia kurang dalam action, ia lebih banyak menjadi otak sebuah pekerjaan yang melelahkan. Darell tersenyum saat mengambil minum di dapur ia melihat foto keluarga yang dipasang Mei di dapur, katanya agar ketika ia masak ia akan mengingat bahwa bagaimanapun lelahnya ia, ada keluarga yang siap memeluknya untuk kembali saling menguatkan. Foto itu berisi dirinya, ayah dan ibunya, Mei dan kedua anak mereka, terakhir si single Adrew. Ia berharap adiknya bisa melewati semuanya dengan baik, semoga saja Adrew membuat pilihan terbaik baginya nanti, seperti dirinya yang memilih untuk menjadi muslim dan menemukan alasan terbaiknya, selain untuk memiliki Mei sang gadis pujaan hatinya yang sulit dilupakan sepanjang hidupnya. Ia tersenyum memandangi foto itu dan meninggalkannya setelah puas memandangi, padahal bisa saja ia melihatnya di ponselnya, lebih jelas lagi bisa dizoom. Memang aneh Darell itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD