Mencari Cinta yang Hilang

2113 Words
Gadis dengan pandangan kosong itu sedang memasang headsetnya, ia berdiri di depan mic yang akan menangkap suaranya yang merupakan dubber dari kartun yang sedang diproduksi untuk edukasi anak-anak. Gadis tersebut adalah Annisa Rahma, seorang tuna netra yang mengalami kebutaan sejak ia kelas dua SMA yang merupakan masa-masa tergelapnya. Akan tetapi kekuatan iman dan dukungan dari orang di sekitarnya membuatnya kuat meski tak jarang ada yang menghinanya. Annisa dengan percaya diri tampil berkarir menjadi seorang pencerita dan orang yang dipercaya untuk menjaga anak-anak tetangganya, ia juga tak menghentikan langkahnya untuk senantiasa berusaha dengan kekuatannya sendiri. Annisa adalah pemeran penting di komplek tempat tinggalnya, ia sangat membantu banyak orang meski tak jarang ada yang membenci dan menghinanya. Namun, Annisa hanya mengambil baiknya saja, mungkin mereka memang hadir untuk menguji kehidupannya. Menjadi tuna netra di ibu kota adalah hal sulit, tetapi tak sesulit yang orang lain bayangkan tentangnya. Annisa bisa melewati semuanya dengan lapang d**a dan kekuatan yang ia dapa dari Allah Swt., ketika ia diuji dengan kebutaan itu, ia mungkin marah dan kecewa, tetapi seiring berjalannya waktu ia menjadikannya pelajaran. Mungkin hilangnya satu kenikmatan dunia untuk melihat, adalah salah satu bentu kasih sayang Allah padanya. Kadang Allah menguji bukan untuk melaknat kita, tetapi untuk memberikan pelajaran bagi orang di sekitar untuk senantiasa bersyukur pada-Nya. Annisa memang sekuat itu, makanya ujiannya seberat itu pula. Ujian hinggap dalam diri kita karena kita kuat dan orang lain belum tenu bisa melewatinya. Di sisi yang lain, Annisa paham tempatnya dimana. Ia tau bagaimana akhirnya semua itu akan berakhir, lalu cahaya pun datang untuk memberinya kabar baik. Maka setelah dua tahun Annisa menjalani kehidupan traggisnya itu, ia bisa menemui titik terang ketika seorang dari rumah produksi film kartun yang ada di Indonesia melihat bakatnya yang sedang bercerita pada anak-anak yang antusias. Saat ini ia bisa menghasilkan banyak hal untuk mengangkat derajat orang tuanya. Anak yang dihina banyak orang, ternyata bisa lebih baik bahkan lebih baik dari anak-anak normal lainnya. Banyak yang menyukai Annisa, terutama sikapnya yang baik, lembut dan suaranya yang keibuan. Makanya ia selalu mengisi suara seorang ibu, atau seorang karakter kartun yang memiliki karakter lembut dan sabar. Awalnya banyak yang meragukan kemampuannya hanya karena kondisinya, akan tetapi ketika orang-orang yang terlibat dalam proyek kartun itu mendengar kemampuan Annisa, mereka langsung setuju dan mempekerjakan Annisa sampai lima tahun lamanya. Kini usia Annisa menginjak usia 21 tahun, hampir 22 tahun. Ia bertakad menjadi seorang yang bisa bermanfaat bagi semua orang apapun kekurangannya. Setelah selesai rekaman, Annisa pergi ke luar dan bertegur sapa dengan tim yang terlibat. Seseorang yang merupakan asisten produser memberinya air putih untuknnya dan langsung ia terima ketika merasakan ada botol menempel di tangan kanannya. “Nih minum dulu, Kak,” ujar Gita asisten produser. “Makasih Gita,” jawab Annisa tersenyum manis. “Sama-sama Kak, keren loh tadi,” ujar Gita. Gita memang anak yang ceria, ia masih seorang mahasiswa semester tiga yang merantau ke ibukota untuk mengadu nasib. Gadis itu tetap memiliki aura positif meski sering kena omel oleh Pak Dian, si produser galak yang suka marah-marah. Akan tetapi Pak Dian akan selalu lembut kalau bersama Annisa, hal itu membuat Annisa berasumsi kalau yang membuatnya lembut karena ia buta, padahal Pak Dian naksiir padanya. Kalau saja sang ibu tidak menentangnya menikahi gadis buta, sudah ia nyatakan cintanya dari awal ia menyukai Annisa. Annisa di antara kekurangannya, ia adalah gadis manis yang memiliki pandangan dan hidup yang jernih. Ia tak mengeluh atas apa yang ia alami, ia juga tak pernah merasa dendam ketika orang mengerjainya atau menghinanya. Makanya, meski ia memiliki kekuarangan, ia tetaplah memiliki banyak teman di manapun yang siap membantunya. “Kak Annisa nanti pulangnya jalan lagi?” tanya Gita. “Iya, tumben kamu nanyain itu, kenapa?” tanya Annisa menoleh dengan tatapan kosongnya. “Aku mau ngreyen motorbaru sama Kak Annisa, mau kan,” tawar Gita tersenyum lebar peuh harap. Annisa berpikir sejenak, tetapi kemudian tersenyum dengan kekehan halusnya. “Hehe cie motor baru, selamat ya. Oke aku ikut, pasti seneng nih aku jadi penumpang pertamamu.” “iya dong Kak, Kak Annisa kan special buat aku ….” ujar Gita bergelayut di lengan Annisa. “Makasih yah Kak, udah baik sama aku selama ini.” “Sama-sama, kamu juga baik.” “Aku baik karena Kak Nisa baik, aku selalu pingin punya Kakak, tapi malah aku anak sulung.” “Hus, nggak boleh ngomong gitu. Tapi meski begitu, kamu hebat kok, bisa sekuat sekarang.” “Huuuu terharu!” ujar Gita tambah memeluk Annisa. Annisa mengerti dengan tingkah ajaib Gita itu, memang di era hari ini, sangat lelah menjadi tulang punggung keluarga di saat masih mengenyam Pendidikan. Pikirannya bercabang dan masih mengkhawatirkan ‘besok makan apa’. Annisa kagum dengan Gita yang bisa sekuat ini sekarang, meski kelakuannya agak menjengkelkan di waktu-waktu tertentu. “Gita!” Gita langsung terkeut dan menegakkan duduknya, panggilam dari bos besar yang terlihat tetap galak. Ia habis mengawasi hasil record dari rekaman dan pengesuaian pada video kartunnya, lalu ia melihat Annisa dan Gita dengan melakukan drama para gadis yang menggelikan menurutnya tapi tidak untuk para gadis. “Bawa tas saya kita langsung ke ruang rapat untuk bertemu dengan seseorang,” ujarnya sebelum pergi dan melirik Annisa sekilas. “Hem, Kak Annisa aku pamit ya, sampai ketemu nanti pas pulang.” “Iya, semangat.” “Semangat juga, Kakakku.” Annisa kemudian istirahat sebelum rekaman lagi, ia bergantian dengan dubber lainnya dan sekarang Yudha dan Dania yang merupakan teman dubbernya baru saja datang. “Hai, Kak Annisa!” sapa Yudha. Yudha ini masih SMP yang merupakan adik sepupu Dania, ia memiliki bakat dubbing dari kecil, kalau artis mungkin akan disebut artis cilik. Sementara Dania ia memulai karirnya dari menjadi Youtubber untuk mengisi suara-suara kartun yang ia edit sendiri, gadis yang multitalent. “Hai, Yudha, baru puang sekolah pasti ….” “Wah kok Kak Nisa tau?” “Tau dong, kan biasanya begitu,” jawab Annisa terkekeh. “Mudah banget ditebak ya Nis,” ujar Dania. “Iya.” Mereka kemudian menghafalkan naskah masing-masing sebelum mendapat giliran untuk rekaman. Memang perusahaan J-Production sangat terkenal karena berhasil memiliki sejumlah kartun yang sangat berkualitas, tak hanya menerjemahkan manga-manga dari Jepang atau kartun dari luar negeri lainnya. +++ Siapa yang tidak mengenal Adrew Christoper Rexan, pria tampan bertalenta yang sejak bayi sudah memiliki fans bejibun. Ia sendiri selalu memiliki banyak hal untuk dikerjakan dan telah banyak hal yang ia capai di usia muda. Kini ia sudah menjadi seorang yang sukses meski jalannya cukup mulus karena melalui jalur sang ayah yang sudah kaya keturunan. Oleh karena itu ia sering menolak mengisi motivasi sukses karena ia memang tak memulai dari nol seperti orang-orang kebanyakan. Maka ia lebih memilih untuk mengisi seminar berkaitan dengan study bisnis, bukan sebagai motivator yang banyak ia temui. Intinya ia ingin menjadi orang yang sharing ilmu ‘bagaimana cara menciptakan usaha’, bukan mendorong orang untuk memulai dengan motivasi yang bisa didengar dari pihak manapun. Meski bobotnya berbeda dati segi apapun, tetap saja intinya sama memotivasi, mendorong untuk memulai. Banyak yang mencoba mendekati Adrew, menunggu ia untuk membuka hati termasuk Celsea yang sejak lama terobsesi padanya. Sulit memang menjadi seorang dengan spek tinggi, ia kadang tak bisa melakukan hal semaunya karena ia menjadi sorotan dimana-mana. Sudah begitu, sang ayah menuntutnya untuk menjadi publik figure yang bisa memberi teladan yang baik bagi orang di sekitarnya. Namun, siapa yang tau kalau ia sejatinya sad boy yang tak bisa move on dari sang pujaan hati. Ia mendapat kabar dari teman SMA-nya, kalau pujaan hatinya itu buta. Ia mencarinya saat itu, tetapi sosok yang ia cari tak ketemu. Mungkin saat itu jangkauannya belum jauh, maka ia masih akan mencari sosoknya lagi sekarang dengan segala kemampuannya. Ia sudah memerintahkan orang yang ahli melacak dan menemukan bahwa Annisa ada di sebuah perusahaan entertainment yang memproduksi kartun anak-anak. Informasi itu menunjukan kalau Annisa menjadi salah satu dubber terbaik di perusahaan itu. Meski hasilnya tak sebanyak anak perusahaan miliknya, Adrew akan mengambil alih perusahaan itu agar menjadi miliknya. Setelah ia bisa mengusai apa yang menaungi Annisa, ia akan dengan mudah melakukan eksekusi lainnya, termasuk menahan Annisa di sisinya. Menghadapi kehidupan bisnis yang mengerikan itu, ia senantiasa belajar bagaimana caranya menjadi kejam dan survive dengan cara yang tak terbatas. Ia telah mengirim perwakilan untuk mengurus akuisisi perusahaan itu. Memang mudah baginya menguasai perusahaan kecil yang membutuhkan dana untuk pengembangan dan perluasan jangkauan. Kini ia telah memiliki rencana yang matang untuk bagaimana mengurus perusahaan itu. Meski sebenarnya perusahaan J-Production hanya menyumbang 5% dari semua perusahaan cabang yang dimiliki Rexan Corp. Sudah sejak lama ia menunggu waktu itu akan tiba ketika ia bisa melihat Annisa lagi di sekelilinnya dan ia akan memperjuangkan Annisa dengan benar, ia tak akan melakukan hal lain yang membahayakan Annisa, sebaliknya ia akan melindunginya dengan segenap jiwa dan raganya, tak perduli jika Annisa akan menolaknyapada akhirnya. Ia kan mencoba mengerti, sebab rasa sakit yang telah Annisa alami lebih berat dari rasa sakitnya ketika ditolak. Ia pun sadar diri, mungkin ia tak layak untuk kembali mencintai Annisa. “Mohon maaf Pak Adrew,” sapa seseorang dariarah pintu. Itu Indira asistennya, “Ada apa, In?” “Sebelas menit lagi kita akan memulai rapat, Pak, lalu dua jam kemudian kita akan menuju Hotel Pamungkas untuk melakukan rapat tahunan. Setelah itu Anda ada rapat dengan Pak Hendri usai melakukan tugas akuisisi J-Production dan jadwal Anda berakhir hari ini.” “Oke, kamu boleh pergi.” “Baik, Pak. Permisi.” Adrew hanya mengangguk sebelum kembali berkutat dengan berkas-berkasnya yang menumpuk. Ia tak akan bisa menyelesaikan tugas itu kalau isi pikirannya hanya ada Annisa. Ia sudah mulai bucin sekarang. Ia masih tinggal bersama keluarganya Rexan, bahkan kakak dan kakak iparnya, Darell dan Mei. Biasanya orang-orang kalau tinggal sendiri karena ingin menghindar dari keluarganya yang rese bin menyebalkan, tapi Adrew tidak merasakan gangguan itu. Ia bahkan menyukai keponakan-keponakannya yang lucu, dimana ia bisa terhibur atas kehadiran anak-anak polos itu dari pekerjaannya yang melelahkan. Darell sendiri sudah nyaman memegang rumah sakit yang awalnya dipegang sang ibu, padahal awalnya itu menjadi tantangannya tapi malah keterusan. Sebenarnya ibunya segaja mengikat kakak laki-lakinya itu dengan rumah sakit, sebab rencananya kalau Darell tidak memegang perusahaan itu ia akan kembali ke RSUD Jogjakarta. Mei kakak iparnya juga lebih menyukai Jogja daripada Jakarta, tetapi Maminya lebih keras kepala dari pada Darell, jadi ahirnya Mei dan Darell yang mengalah. +++ Adrew bertemu dengan Hendri yang merupakan kakak tingkatnya di kampus saat ia kuliah di luar negeri, ia pria berkompeten yang cocok untuk urusan hubungan dengan pihak eksternal. Ia juga lulusan dari jurusan Hubungan Internasional, memang tak ada hubungannya tapii nyerempetlah meski tidak dari jurusan yang membahas tentang bisnis, mungkin ada tetapi tak sebanyak jurusan bisnis itu sendiri. Adrew sendiri ingin menjadi dokter tetapi ia harus meneruskan perjalanan sang ayah karena kakaknya yang sudah memilih jalan lain. Ia juga sempat ambil dua jurusan tetapi di tengah jalan ia tak kuat dan akhirnya mengambil bisnis yang merupakan pilihan utamanya. Adrew memang mengajak siapa yang ada di sekitarnya untuk bergabung di perusahaan ayahnya saat ia bahkan belum bergabung mengurus perusaann ayahnya. Adrew juga tidak langsung menjabat sebagai CEO, melainkan menjadi asisten ayahnya terlebih dahulu selama dua bulan hingga ia lolos dan bisa menggantikan ayahnya. Memang aneh ayahnya itu, tetapi Adrew malah senang dangan cara ayahnya mendidik, tidak memanjakan tetapi juga tidak terlalu keras, jadi ia melihat ayahnya sebagai sosok yang ayah-able. Hanya ia memang pernah melihat ayah dan ibunya menjadi sosok yang tak adil saat Darell kakaknya memperjuangkan Mei, selebihnya mereka adalah orang tua yang baik dann fair, tidak semena-mena. “Bagaimana tadi?” tanya Adrew menerima berkas dari Hendri. “Bagus, tadi saya ketemu saya Produsernya tapi CEO J-Production sudah menyerahkan pada Pak Dian itu.” “Oh iya, dia itu anaknya CEO yah?” “Iya, tapi hebat juga yah dia belum nikah.” “Hem, gue lebih hebat dong.” “Itu kan karena Bokap lo lebih kaya dari Bokapnya dia.” “Beda digit doang, elah ….” “Udahlah, jelasin semuanya.” “Udah tertera di situ tinggal baca, jangan males.” “Dih lo bawahan bukan sih?” “Hahaha iya iya, jadi intinya seperti yang lo udah rencanain, Senin kita bisa lanjut peresmian aja. Lo yang dateng yah, gue kan Senin masih di dubai.” “Oke, deh.” “Cie ketemu pujaan hati,” goda Hendri. “Paan sih, lo anjir.” “Dahlah gak usah malu-malu ama gue, tapi tadi gue mampir ke studio mereka. Nama cewek yang lo taksir itu Annisa kan?” “Iya, kenapa?” “Kawai!” Adrew mendengus mendengar ledekan Hendri, ia memang agak bobrok kalau ketemu dengan circle yang tepat. Ia juga sih, taoi mungkin ia terlalu lelah sampai tak memiliki tenaga untuk menjadi bobrok seperti biasanya jika bersama teman-temannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD