Gelang dan Cincin

1401 Words
***Reya POV*** . . . Setelah menertawakan papa. Situasi semakin hangat. Meski perbedaan bahasa adalah salah satu kendala. Nyatanya, papa, Yunki dan Manager Shin bisa berkomunikasi dengan cara lain. Perbedaan bulan alasan untuk tak saling mengenal 'kan? "Pa aku ke kamar ya?" "Ya, pintunya dibuka," jawab papa kembali fokus dengan permainannya. Aku mengajak Yunki ke kamar. Namun, masih dengan pintu yang terbuka aku bisa melihat papa dan manager Shin, juga mereka bisa melihat kami berdua. Pintu kamarku berhadapan langsung dengan pintu samping. Hanya kurang dari empat meter, jaraknya. Kekasihku kini duduk di lantai beralaskan karpet bewarna abu-abu muda dengan gambar koala. Ia duduk memerhatikan setiap sisi kamar. Tak ada banyak barang-barang di sini. Kamarku kecil dan aku juga tak suka terlalu banyak membeli pernak-pernik. "Ini apa?" tanyanya melihat sebuah kontainer plastik di samping tempat tidurku. "Ah, itu beberapa peralatan jika aku ingin membuat kerajinan tangan. Tunggu—" aku berdiri dan mengambil kotak di atas meja, berisi aneka aksesoris yang kubuat sendiri. "Ini," ucapku menunjukkan pada Yunki hasil karyaku. Ia membuka tutupnya, lalu menatap dengan sedikit terkejut sepertinya. "Kau membuat ini sendiri?" Ia bertanya seraya mengambil sebuah bros di tangannya. Aku menjawab dengan anggukan. "Sesekali aku menerima pesanan, tak terlalu bagus ya?" "Ini benar-benar bagus, sungguh," pujinya. "Kamsahamnida," ucapku. "Kalau begitu buatkan sesuatu untukku," pintanya. "Apa yang bisa aku buat untukmu?" Yunki terdiam ia juga memikirkan sesuatu aku rasa. "Gelang?" Aku mengangguk, aku mencoba mengingat bahan apa saja yang ada di dalam kotak. Tapi, sepertinya tak banyak pernak-pernik yang bisa digunakan. "Tapi, tak ada bandul atau semacamnya. Aku hanya punya tali kulit dan charm plastik." Sungguh aku takut tak akan menjadi istimewa jadinya nanti. "Tak apa, buatkan gelang untukku. Gelang itu istimewa karena kau yang membuatnya." Blush Ucapannya barusan sukses membuat tombol merah menyala di pipiku. Aku mengambil tali kulit sintesis kemudian memotong cukup panjang, akan kuikat simpul agar bisa di perbesar atau perkecil. "Yunki-ya, ceritakan tentangmu. Kau tak bosan mendengar ceritaku?" Sedari ia tiba hanya celotehku yang ia dengar. Sementara ia jarang bercerita. Mungkin saja ia bosan karena tau kekasihnya cerewet sekali. Yunki menggeleng. "Aku senang mendengar semua ceritamu. Aku akan menceritakan semua tentangku. Saat kau nanti berkunjung ke Korea." "Aku?" Sontak aku menatapnya, ke Korea? "Nde, kau pernah berjanji akan ke Korea." Yunki menjawab dengan senyuman manisnya. Mungkin ini berlebihan tapi senyumannya manis sekali. Membuatku betah menatapnya lamat-lamat. "Iya tapi-" "Kau harus berkunjung, aku akan meluangkan waktu. Kita sesuaikan dengan jadwalku." Ia memotong ucapan ku sepertinya ia tak ingin aku menolak. Aku bisa melihat matanya yang menatap penuh harap. Setelahnya, aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Kekasihku tersenyum ia terlihat sangat senang. Aku melanjutkan kegiatan membuat gelang intinya. Tak lama, gelang buatan ku telah selesai. Gelang yang kubuat hanya tali kulit yang aku ikat simpul sederhana, dengan sebuah batu alam berwarna hijau seperti giok. Aku mendapatkan dari papa. Itu batu alam asli. Beruntung aku masih menyimpan dengan baik. Setidaknya ada sesuatu yang berharga untuknya. "Ini batu alam. Papa sendiri yang mengasahnya, aku tak tau apa namanya. beberapa waktu lalu sedang ramai aku meminta papa membuatkan beberapa." Yunki mengarahkan tangannya padaku, Dan aku memasangkan gelang yang baru selesai kubuat. Ia menatap gelang sederhana itu, seharusnya ia dapat yang lebih bagus. Hanya, aku benar-benar tak mempersiapkan. "Berikan aku tanganmu." Aku menunjukkan tanganku, Ia melepas cincin yang ia kenakan dan memasangkan ke jariku sedikit kebesaran di jari manis. Sehingga ia memindahkan ke jari telunjuk. "Aku tak membawa cincin yang pantas. Kenakan ini sebagai tanda kau milik seorang Lim Yunki. Cincin ini aksesoris pertama yang kubeli dengan gaji pertamaku. Pakai ini sampai nanti aku bisa memakaikan yang lebih pantas kuberikan." Cincin perak sederhana tak ada hiasan apapun hanya cincin perak. Menerima ini rasanya bahagia sekali. Tanda bahwa ia milikku 'kan? "Aku suka ini, tak perlu yang lain," sahutku cepat. Yunki ersenyum, ia baru saja akan bergerak memelukku sebelum- "Ehheemm, skaak!" Teriakan papa menghentikan gerakannya. Ia menatapku kecewa begitu juga aku yang hanya mempoutkan bibir. Menggemaskan sekali Lim Yunki. *** Yunki kembali ke hotel sekitar pukul lima sore. Setelah aku buatkan gelang, kami menonton bersama. Menyaksikan drama dari laptop milikku. Hanya web drama tentang seorang mahasiswi bahasa China, yang jatuh cinta pada seorang barista. Durasinya tak lebih dari empat puluh menit. Besok kami akan bertemu lagi. Aku telah menyiapkan kegiatan untuk kami besok. Semoga besok juga akan menjadi hari yang menyenangkan. Malam hari aku, mama dan mapa duduk bersama dan menonton televisi. Aku tak menyaksikan karena sibuk dengan ponsel. Sesekali aku melirik mama dan papa yang serius menyaksikan film action. "Ma, makasih ya nggak nanya masalah nikah ke Yunki," ucapku. Sejujurnya, sebelum Yunki datang aku meminta mama tak membahas masalah pernikahan. Aku takut Yunki tak nyaman dan membuatnya berpikir hal lain. Sementara jadwal pekerjaannya yang padat. "Iya, gimana, sebenarnya mama ya maunya kamu nikah cepat. Tapi, kamu 'kan sudah bisa nentuin maumu sendiri. Mama cuma bisa doain. Semoga pilihanmu tepat," ucap mama menatapku sesaat lalu kembali menonton TV. "Tadi, kamu malah main sendiri sama pacarmu. Papa malah yang main sama Oppa," protes papa seraya menjitak pelan keningku. "Bukan oppa pah. Panggil aja Shin-ssi atau Mas Shin." Menurutku begitu karena papa yang jauh lebih tua. "Nggak ah, Papa udah nyaman manggil Hyung, hahahha." Papa terkekeh sepertinya memang sudah terlanjur menyebut hyung pada Manager Shin. "Issh, tapi, papa 'kan lebih tua. Manager Shin kan jauh lebih muda." Masih tak mau kalah aku membenarkan panggilan papa manager kekasihku itu. "Nggak apa-apa sekali-kali papa jadi anak muda." "Ih bapaknya siapa sih?" gerutuku kesal. Mama dan papa sibuk menonton. Sejujurnya, aku penasaran tentang pendapat mereka mengenai Yunki. "Ma, Pa, menurut Mama sama Papa. Yunki itu gimana?" "Ya kamu gimana? nyaman nggak? yang jalanin 'kan kamu nantinya. Cari pacar yang bukan cuma kamu sayang. Tapi, keluarganya juga sayang kamu. Jadi, mama sama papa tenang ngantar kamu nanti," ucap Mama serius. Mendengar ucapan mama membuatku ingin menangis. Membayangkan bagaimana nanti aku pada akhirnya bukan lagi menjadi seorang anak. Tapi akan menjadi seorang istri dari orang lain. Tentu, jika aku menikah dengan Yunki nanti aku tak akan berada di sini, di Indonesia, di Jakarta, rumah tempat di mana aku lahir dan tumbuh. Aku akan berada di negeri jauh, tanpa bisa lagi sekedar bermanja-manja dengan mama dan papa. Dan, hidup memang demikian. Akan ada fase kehidupan baru. Di mana akan ada kebiasaan baru, pengalaman baru dan esok jika benar aku dan Yunki berjodoh. Aku dan Yunki akan menjadi kami. Menjalani hidup berdua berumah tangga. Tak pernah terpikir sebelum, tapi ... Apa benar Yunki dan aku bisa melewati ini? Meski dalam pikiranku ini seperti hal mustahil. Aku hanya bisa berdoa semoga saja jarak dan waktu bukan menjadi jurang pemisah diantara kami berdua. Semoga .... . . . . ***Reya POV end*** *** **Author POV*** . . . Yunki merebahkan diri di kasur setelah sampai di hotel. Sementara manager Shin menatap ke ponsel melihat berita-berita yang kini terjadi di Korea. Seharian ini adalah hal yang menyenangkan. Tak akan ia lupakan, Reya dan keluarganya bisa menerimanya. Ia sesekali tersenyum lega juga rasanya. Tak menyangka akan merasakan kehangatan dan terasa akrab dengan keluarga Reya. "Hyung, terima kasih," ucap pria pucat itu seraya menatap sang manager. Manager Shin mengangguk. "Tak masalah aku merasa seperti berlibur." Kemudian tersenyum dan kembali menatap ponselnya. "Sejujurnya, aku sempat takut jika orang tua Reya akan membahas pernikahan. Kau tau 'kan Hyung, kontrak kerjaku sendiri masih akan berlangsung selama 4 tahun lagi," ujar Yunki cemas. "Kau tau 'kan jika perusahaan tak pernah melarang member menjalin hubungan?" "Aku tau, hanya saja aku rasa lebih baik untuk sementara aku menutupi hubungan ini. Aku ingin fokus pada BTL." "Lalu Reya?" Yunki memegangi gelang pemberian sang kekasih, "ia bilang akan menunggu." Yunki tersenyum setidaknya ia tau bahwa sang kekasih bisa cukup mengerti dirinya. "Dia gadis yang baik, aku tau karena ia memiliki ayah yang baik dan menyenangkan. Sejujurnya, aku takut jika hubungan kalian tak akan berhasil sampai akhir." Manager Shin berkata serius. "Kenapa kau berpikir seperti itu Hyung?" Tanya Yunki penasaran dengan apa yang dipikirkan sang manager. "Waktu, jarak, usia, budaya dan keyakinan. Kalian harus membuat itu bukan menjadi halangan. Kau tau itu 'kan?" Yunki terkekeh kecil, menruntuki sedikit kebodohannya. Hal itu bukan tak pernah terlintas. Hanya saja, ia berusaha Tan memikirkan itu. Selama bersama Reya ia bisa menjadi dirinya sendiri, semua hal seolah tak akan jadi penghalang. Cinta dimasa muda dan memang sangat egois. Dan Lim Yunki kini menjadi salah satunya. Tak masalah kan? Cinta memang kadang egois. "Sejujurnya, aku tak memikirkan apapun Hyung. Aku hanya ingin bersama Reya itu saja." *** .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD