**Reya POV**
.
.
Perjalanan ke Korea aku habiskan dengan membaca buku di dalam pesawat. Kurang lebih delapan jam berlalu begitu saja. Aku tak sabar membayangkan saat bertemu dengan Yunki. Meski aku tau tak langsung bertemu dengannya. Ia masih di Amerika, dan meminta sang kakak menjemput ku di bandara.
Benar saja begitu tiba di bandara kemarin, seorang lelaki menjemput ku. Memang kertas dengan tulisan namaku. Ia adalah kakak dari Yunki, aku memanggilnya Yoongu oppa. Ia orang yang sangat ramah dan baik. Kami banyak mengobrol tentang Yunki. Setelah mendengar semua penuturan Yoongu oppa, aku semakin mengerti jika benar Yunki pria yang hangat. Meski ia terlihat dingin dan tak peduli.
Seraya mengobrol aku diantar ke sebuah apartemen. Ia bilang jika Yoongi yang memintanya agar membawaku untuk tinggal di sana selama di Korea. Hanya dia yang tau alamat ini. Semoga aku betah katanya. Di apartemen ini ada dua kamar, dengan kamar mandi di luar. Lalu dapur, ruangan tengah dan ruang tamu. Ruangan dengan nuansa abu kebiruan, tenang sekali. Meski terlalu besar rasanya jika aku tinggal di sini. Namun, ini permintaan kekasihku.
Tepat saat ini sudah lebih dari dua puluh empat jam sejak aku tiba kemarin. Kekasihku itu belum bisa datang karena setiba di Korea, BTL mendapatkan banyak tawaran wawancara tentang pengalaman mereka di Amerika. Juga, bagaimana bangganya mereka bisa hadir dan memenangkan Billboard music award.
Yunki berkali-kali meminta maaf, meski aku sadar itu bukan salahnya. Aku masih bisa menunggu. Meski dalam hati aku meronta ingin bersamanya lagi. Ada rasa egois yang meminta agar ia bersama ku, berharap ia bisa ada di sini saat ini karena, aku merindukannya. Namun, aku tak akan mengatakan itu. Aku ingin kehadiranku tak membuat ia terbebani.
Lagipula, aku bisa menganggap ini adalah liburan. Oiya, kemarin ketika tiba aku telah menghubungi temanku yang bekerja di Korea. Namanya Ari, kami sudah cukup lama berkenalan jauh sebelum aku mengenal Yunki. Kami berkenalan melalui aplikasi chating mig33 dulu aku menggunakan itu untuk mengaktifkan akun YM milikku. Ternyata rumahku dan Ari tak jauh. Hanya berbeda RT.
Dan itu kini sudah ketinggalan jaman sekali. Saat ini aku dan Ari sering mengirim pesan. Kami pernah bertemu satu kali, sebelum Ari berangkat ke Korea untuk bekerja.
Aku melihat ada halte bus di dekat apartemen, setelah rapi aku berjalan ke sana dan mengirimkan lokasi ku pada Ari. Aku harus berjalan sedikit lebih jauh ke sini karena tak ingin memberitahu di mana aku tinggal.
Ponsel dal genggamanku bergetar, Ari. Segera aku terima.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Le aku ke situ 20 menitan sampainya." Ucapnya terburu-buru.
Adit memanggilku Le karena akunku kala itu adalah 'Rebelle' jadi sejak itu ia memanggilku Le.
"Iya nggak apa tak tunggu," jawabku.
"Iya udah, aku udah di bus tunggu ya."
"Hmm, okeh!"
Proses menunggu juga tak terlalu menyebalkan, aku menunggu seraya berkirim pesan dengan Indah. Ia lebih cerewet dibandingkan Mama, kadang aku merasa ia dia kali lipat lebih cerewet padaku dibandingkan Mama. Entahlah, tapi ia lebih bisa bertindak tepat untuk semua emosiku yang tak sering tak stabil, terutama saat PMS.
_______
Indah:
Terus lo jadinya jalan sama orang lain?
Aku:
Iya, temen gue bep, udah lama juga kenalannya. Si akun RastaDit dulu.
Indah:
Astaga, itu siapa lagi bambamk?
Aneh-aneh lo ah.
Aku:
Si Ari, yang dulu kita ketemuan. Terus gue dulu gue pernah cerita ke lo kalau dia kerja di Korea. Masa lupa?
Indah:
Gue, lupa yang mana.
bawa kater, atau gunting jadi kalau macem-macem tusuk.
Astaghfirullah, pikiran gue ...
Suudzon gue nih! Woy! Balik apartemen aja elah.
Bandel banget ni anak.
Aku:
Orangnya baik ih.
Lo ma curigaan banget. Lo kenal kok, nanti gue fotoin.
Indah:
Iya, emang lo kan mikir semua orang baik. Gue mah curigaan, daripada lo di culik?
Di mutilasi?
Astaghfirullah!! Pikiran gue!! :'(
Aku:
Pikiran lo astaga, kagak!
Tenang aja dia baik beneran, udah ye.
Selamat ngajar, gue titip anak-anak ngajar yang bener. Lo kenal sumpah.
_____
Aku kembali menunggu Ari seraya mendengar musik dari ponsel. Setelah tiba, Yoongu oppa memberikan ponsel dengan nomer yang bisa aku gunakan di sini. Jadi, aku bisa langsung menghubungi keluarga di Jakarta. Ia berkata jika itu adalah ponsel lama Yunk dan ia diminta untuk mendaftarkan nomer untukku. Aku merasa jika aku sudah sangat merepotkan oppa juga kekasihku. Ia telah mempersiapkan semua dengan sangat baik.
Sejujurnya aku ingin berandai-andai jika saja Yunki bukan idol. Meski aku tau hal itu harusnya aku syukuri. Kebahagiaan seperti ini tak bisa di dapatkan oleh banyak gadis. Dan aku sah satu yang paling beruntung. Memiliki kekasih seorang idol terkenal yang keren.
"Le!" sapaan yang lebih seperti teriakan, yang mengagetkanku. Bukan hanya aku tapi beberapa orang menatap ke pria yang kini berlari mendekat, dengan t-shirt abu-abu, juga jeans belel. Rasanya, itu jeans yang sama saat kami bertemu 4 tahun lalu.
Setelah dekat Adit duduk di sebelahku, kemudian mengeluarkan sekaleng minuman dari tas selempang yang ia kenakan, lalu segera ia minum.
"Ngapain lari-lari sih?"
"Kamu nggak tau? tadi aku kebablasan lumayan jauh," jawabnya terengah, Ari mengambil sesuatu lagi dari dalam tasnya. "Nih," katanya seraya memberikan kaleng minuman lain padaku.
"Matursuwun.*" Ucapku seraya menerima, aku tanpa membaca nama minuman, karena jelas itu adalah kopi.
(*Terima kasih)
"Minum dulu, aku kepikiran beli ini tadi. Kamu suka kopi 'kan? Ya ampun, Reya beruntung banget kamu punya temen sebaik aku." Ucapnya dengan nada menyebalkan, sama seperti saat kami bersama dulu. Ia tak pernah berhenti meledekku.
"Alhamdulillah ya," sahutku penuh penekanan kesal, membuatnya terkekeh.
"Mau ke mana nih?"
"Makan," jawabku cepat.
"Astaghfirullah, liat tuh pipi udah luber. Yang dicari masih aja makanan, Hahahhaha."
Aku memukul bahu Ari yang tertawa dengan senang. "Terus aja ledek, terus ..."
"Mian," ucapnya dengan bahasa Korea sejujurnya agak lucu didengar karena nada medoknya.
"Ya udah Yuk!" ajaknya Ari berdiri dengan yakin lalu memasukan tangan ke dalam kantung celana
Bersikap sok keren sepertinya.
"Ke mana?"
"Katanya makan? Jalan sebentar nanti kita ketemu sama street food. Aku traktir, mau?"
"Asik di traktir," aku bersorak seraya berlari mengejar Ari.
Perjalanan di mulai dengan sarapan nasi goreng kimchi. Tak jauh setelah kami melangkah sebuah truk makanan, menyambut. Kami membeli satu lalu memakan bersama, lalu makan kue kacang merah, aneka gorengan seperti otak-otak rasanya tapi lebih enak lagi, minum jus buah, matcha cake.
Kegiatan hari ini penuh bertema kuliner. Menyenangkan sekali, perutku hampir meledak rasanya. Ari tak membeli banyak tiap jenis makanan. Hanya satu porsi lalu kami makan bersama.
Kami selesai dengan kegiatan sore hari. Karena Ari juga harus menjemput kekasihnya pulang kuliah. Ia bertemu dengan mahasiswi Indonesia. Kemudian menjalin hubungan. Ia bilang jika akan melamar kekasihnya setelah kembali ke Indonesia. Romantis sekali.
Aku kembali ke apartemen sore hari. Sebenarnya, aku memang tak ingin keluar terlalu lama. Sepertinya hari ini aku masih belum bisa bertemu Yunki. Ada wawancara lain di radio, ia berkata akan mengusahakan kembali lebih cepat. Sampai di depan pintu apartemen. Aku menekan password masuk, tanggal ulang tahunku.
"Senang?" Tanya seseorang yang kini berdiri tepat di hadapanku. Ia berkacak pinggang, seraya menatap kesal.
Yunki ....
Aku menunduk kemudiannya berjalan masuk perlahan, dan menutup pintu. Aku kembali melihat ke arahnya. Ia sangat marah dan kesal aku bisa melihat meski ia memakai masker menutupi sebagian wajahnya. Tatapannya, benar-benar membuatku takut, juga merasa bersalah.
"Kau-kau sudah datang?" tnyaku sejujurnya, aku senang. Tapi, aku juga sedih karena membuatnya marah.
"Kau senang membuatku khawatir?" tanyanya lagi, dengan helaan napas berat.
Yunki berjalan masuk tanpa berkata apapun. Aku tau ini salahku karena aku tak memberitahu. Tapi, kupikir ia akan datang lebih malam. Ia lalu duduk di ruang tengah, tangannya tersilang di depan d**a,
tatapannya tajam menatap.
"Yunki-yaa." Panggilku.
Ia melepas masker yang ia kenakan. Raut wajah yang menyiratkan ia benar-benar marah juga khawatir. "Kau tak tau, kalau aku benar-benar khawatir? Setidaknya jangan mayikan ponselmu."
Ponselku mati karena aku lupa mengisi daya baterai. "Maafkan aku baterai ponselku habis." Aku duduk di sampingnya. Ia lalu merubah posisi duduknya agar kami saling berhadapan.
"Aku ingin kemarin dan melihatmu. Sengaja datang lebih cepat, karena kemarin aku tak bisa menemui lebih awal. Setidaknya, kabari aku. Apa itu sulit? Bagaimana jika sesuatu terjadi? Bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada ayah dan ibumu? Hmm?"
Aku terdiam, aku salah dan aku tau jelas. Saat ini rasanya aku ingin menangis. Harusnya aku memberitahu Yunki malam tadi sebelum aku berjanji dengan Ari.
"Maafkan aku." Hanya itu yang bisa aku ucapkan saat ini.
Yunki menghela napas, ia mendekat lalu memelukku. "Aku khawatir sekali."
Ia mengecup pucuk kepalaku, aku mengeratkan kedua tanganku melingkari tubuhnya. Aku rindu sekali, tapi, pertemuan ini malah dimulai dengan sebuah pertengkaran. Karena kecerobohanku.
"Bogosipo," ucapku.
"Nado, aku sangat merindukanmu Reya ... Maafkan aku."
Kami larut sesaat dalam pelukan singkat, Yunki kemudian menjaga jarak melepas pelukan dan menatapku. Tatapan kami bertaut saling tersenyum kemudian, senyum yang aku rindukan. Ia manis, manis sekali hingga membuatku tak ingin berpaling. Aku tak tau kapan dimulainya, tapi bibir kami berada semakin dekat. Kupejamkan mata, bahkan aku bisa merasakan hembusan napas Yunki.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat di keningku, Lega rasanya meski ada sedikit pikiran mungkin saja ia mengecup bibirku.
"Menyebalkan," ucapnya.
"Aku salah?" tanyaku.
"Aku ingin menciummu tapi, wajahmu saat terpejam seolah aku akan menerkammu."
Aku terkekeh, "kau memang terlihat seperti itu."
"Kita jalan-jalan nanti malam. Aku ... Ingin tidur sebentar di sini."
"Tidurlah, aku akan masak sesuatu untuk kau makan setelah bangun."
Aku akan melangkah tapi, Yunki menahan ku. "Tak perlu, aku ingin kau, hanya kau jangan lakukan apapun. Aku ingin bersamamu Reya ... Hmm?"
Tatapannya serius, membuatku larut dan menurut. Kuanggukan kepala, hari ini hanya kita berdua saja. Hari ini malam kami berdua.
***