Dengan kesal Doni memukul meja dihadapannya. Membuat dua karyawan laim yang berada di ruang rapat itu menunduk ketakutan. Takut menjadi salah satu korban pelampiasan amarah atasannya itu. Kemudian Doni melirikkan matanya menatap sinis laki-laki yang duduk di sisi kanannya. "Kenapa kau berani resign tanpa seizinku!?" tanyanya dengan amarah tertahan. "Aku rasa sudah tidak ada gunanya lagi aku bertahan di perusahaan Ivander. Erwin dan Adam sudah mengetahui motif kenapa aku bekerja di perusahaannya. We doomed, Don!" Ketika Hendri tahu jika tak ada celah untuknya mendapatkan hati Kayla, ia lebih memilih mundur teratur. Erwin Ivander bukanlah lawan yang tepat. Ia lebih memilih untuk kalah tapi menang dari pada tampak menang tapi sebenarnya kalah sebelum berperang. Sulit dimengerti tapi itula

