8. Siapa Yang Bersama Rachel?

1513 Words
Tok tok tok.... Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Lani menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya, namun ketukan pintu semakin terdengar keras. 'Ck, siapa sih pagi-pagi udah gedor-gedor pintu' Ia meraih ponselnya di samping meja dan melihat jam. 'Astaga, udah mau jam 8 pagi' Ia membuka selimutnya dan sedikit berlari ke arah pintu. Di hadapannya berdiri seorang Pria memakai kaos oblong dan celana jeans dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. "Baru bangun?" Pria itu nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Belum sempat Lani mau protes Rendy sudah berbicara. "Kamu ke sini bukan untuk liburan tapi untuk kerja" ucap pria itu dingin menatap ke arah luar dari jendela kamar. "Ia Pak, maaf, acaranya jam 9 kan? Sekarang masih jam 8 kurang" bela Lani, jadi menurut dia masih ada waktu untuk bersiap-siap dulu. "Biasakan hadir 15 menit sebelum acara di mulai, Saya tidak mau mepet-mepet" Lani mengerucutkan bibirnya hendak protes, "Kenapa? Mau protes?" "Ngga Pak, yaudah bapak keluar dulu saya mau siap-siap" Lani mengusir bosnya yang dengan semena-mena masuk kamar dia tanpa permisi. Rupanya selain bermuka flat ia juga tidak punya etika, gerutu Lani dalam hati. "Kamu ngusir Saya?" "Tadi Pak Rendy bilang Saya suruh lebih cepat, kalo pak Rendy di sini saya ga bisa siap-siap, lagian bapak ngapain sih masuk-masuk kamar Saya, eh" Lani menutup mulutnya, duh ni mulut ga bisa di rem dikit apa kalo sama si bos, tapi kan gue bener meskipun dia bos ga bisa seenaknya masuk kamar gue, Lani masih tetap pada pendiriannya merasa benar. Rendy membalikan tubuhnya dan menatap Lani tajam, pelan-pelan Ia menghampiri Lani yang masih menggunakan piyama tidur warna pink, rambut masih berantakan khas orang bangun tidur. Lani mundur selangkah dan memejamkan mata takut tiba-tiba Rendy menerkamnya. Ia menghitung mundur dari 10 hingga 1, berkhayal seperti di novel-novel tiba-tiba bosnya menciumnya, hingga hitungan selesai tidak ada pergerakan apa-apa, pelan-pelan Ia membuka mata sudah tidak ada bosnya di hadapannya. 'Duh, mikir apa sih Gue? Bisa-bisanya otak gue m***m' ia menukul pelan kepalanya. "Ngapain Kamu masih berdiri di situ?" ternyata bosnya sudah ada d pintu hendak keluar. "Gapapa Pak" Lani mendorong bosnya pelan lalu menutup pintu. Ia bergegas meraih handuk dan mandi sebelum bosnya yang resek itu datang lagi. Selesai mandi Ia segera bersiap outfit dia hari ini kemeja putih bahan satin dengan pita bunga di kerahnya dan celana bahan abu-abu, tidak lupa Ia mengenakan topi bunganya. Di daerah sini Ia harus pakai topi untyk melindung wajahnya dari sengatan matahari. Di raihnya notebook dan tas kecil dia setelah memoleskan lipstik berwarna cherry di bibirnya, terlihat lebih fresh. Ia turun ke restoran untuk sarapan pagi, di lihatnya Rendy dan Rachel sedang berduaan di dalam kamar Rendy, kebetulan pintu mereka sedikit terbuka. Ia berniat membalas bosnya kemudian mengetuk pintu kamar bosnya. "Pak Rendy, Saya sudah siap" ternyata kedatangan Lani mengganggu kenyamanan mereka berdua, mereka nampak sedang bermesraan hampir bertautan b*b*r satu sama lain. Rachel menggerutu karena kedatangan Lani. "Heh, ngapain Kamu panggil-panggil Rendy" ucapnya sambil marah-marah menghampiri Lani. "Maaf Bu, tadi Pak Rendy suruh saya cepat-cepat, Saya kira ga ada iby di sini" ucap Lani berkelit. "Jangan panggil Gue Ibu, Gue bukan ibu lo?" Rachel semakin mengamuk. "Ibu kan pacarnya bos Saya, jadi saya panggil ibu donk" "ihhhh, ngejawab mulu nih cewek" hampir saja Rachel mendorong Lani kalau tidak ditahan Rendy. "Udah Sayang, jangan marah-marah ya, tadi emang Aku suruh dia cepet-cepet" ni cowok tadi ketus banget sama Gue sekarang malah jadi melempem di depan ceweknya. Gaya bahasanya engga banget, bisa-bisanya Rendy bucin sama dia. "Kamu duluan jalan sana sama Darma nanti Saya nyusul" "Oke Pak, 15 menit sebelum acara sudah di tempat ya" ucap Lani menyindir bosnya. Rendy mau ngomel tapi ditahan. Entah kenapa keberanian Lani muncul begitu saja ketika melihat Rachel bersama Rendy. Jam masih menunjukan pukul 08.30 masih ada waktu untuk Ia sarapan. Lani duduk di sudut restoran untuk menyantap sarapannya. Seseorang duduk di seberang mejanya. "Pagi Lani, gimana tidur Kamu? Nyenyak ga?" "Hotel Pak bayu emang top banget, makanannya juga enak-enak" Lani memasukan dessert red velvet ke dalam mulutnya, tangan sebelahnya memberi jempol pada Bayu. Bayu memegang sudut bibir Lani. "Eh!" Lani terkejut karena bayu tiba-tiba menyentuhnya, ternyata ada sedikit makanan di sudut bibirnya, segera Ia menyekanya dan tersenyum canggung pada Bayu. "Iya, Saya tau makanan di sini emang enak, tapi makannya pelan-pelan" ucap Bayu cuek, padahal cewek di depannya ini udah dag dig dug karena perlakuannya yang romantis, huh untung cakep, coba kalo ngga. "Lanjut lagi makannya, Saya mau keliling dulu ngecek yang lain, selamat menikmati gadis cantik" Bayu berlalu begitu saja setelah sok dekat pada Lani, dasar dua saudara ini mentang-mentang cakep suka seenaknya. Lani menggerutu sambil menghabiskan makanannya ke dalam mulutnya. Rendy, Darma beserta staff lainnya yang di Bali sudah berkumpul. Mereka membahas schedule untuk percepatan proyek mereka. Kali ini Lani tidak melihat Rachel karena memang acara kantor tidak mungkin Ia ikut. Rencana hari ini mereka akan melihat pabrik penyuplai material utama yang berada di Bali, sebenarnya Rendy tidak usah ikut tidak masalah tapi Dia ingin memastikan barang-barang untuk proyeknya ini benar-benar barang yang berkualitas bukan abal-abal makanya Ia mau mengecek sendiri. Lani mengekor Rendy dan Darma selama di pabrik dan melihat-lihat materialnya, ternyata selera bosnya ini memang sangat tinggi, pantas saja Ia tidak mau sembarangan pilih material. Ia tidak mau dengan harga yang mahal tapi mendapat barang yang gradenya tidak sesuai spesifikasi perencanaan. "Lani, Kamu ada masukan?" tanya Darma "Engga ada Pak, kalau Saya cek material-material yang tadi kita lihat sudah memenuhi kriteria proyek kita" ucap Lani sambil menimang-nimang 1 unit sampel material. Rendy memasukan tangannya ke saku celana. "Saya mau Kalian benar-benar serius dengan proyek ini, Pak Darma Saya akan menugaskan secara khusus Lani stay di sini untuk mengawasi proyek ini" ucapnya tanpa meminya persetujuan Lani, Lani hendak protes tidak setuju karena jobdesk dia tidak untuk di lapangan, marketing engineer, yang hanya sekali-sekali saja harus turun lapangan, kenapa sekarang jadi melenceng. "Tapi Pak, Saya kan marketing Engineer bukan Engineer lapangan" Rendy menatap Lani datar. "Oh Iya, mulai saat ini jabatan Kamu Saya yang ubah langsung" "Jangan stay di sini lah Pak, plisss!" Rendy sama sekali tidak suka penolakan baru kali ini ada karyawan yang dengan terang-terangan menolaknya. "Sesekali aja Ya Pak saya kunjungan ke sini" mata Lani berkaca-kaca memohon pada Rendy, Ia belum siap jika harus stay di Bali karena Ia masih harus menjenguk kakeknya tiap minggu, itu perjanjian dengan Gunawan Atmadja, jika tidak Lani harus resign dari kantornya dan bekerja langsung di kantor kakeknya. Rendy tidak menjawab, Ia hanya menatap datar Lani kemudian berlalu mendahuluinya, Lani berjalan pasrah mengikuti langkah Rendy dan Darma. "Udah Kamu tenang aja, biar nanti saya yang ngomong sama Rendy" Darma berusaha menenangkan Lani, Ia merasa kasihan pada Lani, Ia melihat Lani seperti anaknya yang baru akan lulus kuliah, usianya setahun di bawah Lani. "Konsekuensi pekerjaan memang begitu, kalau Kamu keberatan biar Saya yang mencari alasannya nanti" "Terimakasih Pak Darma!" Lani menangkupkan tangannya ke arah Darma merasa mendapat pertolongan. Kenapa sih Bosnya ini semena-mena sama Lani, padahal lani merasa Dia sudah bekerja sesuai prosedur. Setelah berkeliling mereka kembali ke hotel jam 3 sore, Ia kembali ke kamarnya untuk sekedar meluruskan pinggang, untung saja Ia tidak memakai high heelsz bisa si bayangkan kalau Ia memakai high heels mungkin kakinya akan lecet-lecet di ajak kesana kemari oleh mereka berdua. Karena acara sudah selesai mereka akan kembali ke jakarta malam ini juga, pesawat jam 10 entah kenapa Rendy memilih penerbangan jam 10, padahal bisa saja Ia memilih jam 7 sore agar lebih cepat sampai jakarta, untuk mengusir penat Lani berinisiatif akan ke pantai sendiri, setelah selesai mandi ia menyemprotkan parfume ke seluruh tubuhnya. Lani memakai dress selutut berwarna coklat muda dan memakai sandal jepit agar memudahkannya berjalan di pinggir pantai. Sesekali Ia menghampiri ombak. Setelah lelah berjalan Ia duduk di pasir pantai meluruskan kakinya. "Dicariin ternyata di sini" Lani menoleh ke arah sumber suara. Ia tertawa kecil, gombalan apalagi yang akan Ia terima dari sepupu bosnya ini. Baru dua hari di sini sudah bermain hati. "Pak Bayu cariin Saya?ko bisa tau Saya di sini?" tanya Lani. "Gampang, tinggal ikutin wangi stroberry dari rambut Kamu aja Saya udah tau Kamu kemana" kelakarnya. Sampai sehapal itu Bayu dengan wangi rambut Lani. "Duh, serem juga kalo gini, besok ganti shampo aja deh" Ucap Lani sambil berkelakar. "Jangan donk, Aku suka, fresh" Lani memicingkan matanya, Bayu dengan usil menyikut lengan Lani yang bertumpu pada pasir pantai. "Becanda" "Kemarin mau cerita apa?" tanya Bayu. "Ohhh, itu" Lani teringat kembali foto yang Ia ambil dari kamarnya. Ia membuka galery dan memperlihatkan foto yang Ia ambil semalam. "Siapa?" "Pak Bayu gak kenal laki-laki di foto itu?" Bayu menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu siapa pria di foto itu. "Kalo ceweknya Pak Bayu kenal?" "Ngga juga, emang siapa?" "Yakin ngga kenal?" Lani kembali meyakinkan Bayu, sebab kalau di foto itu memang Rendy tentu Bayu hapal postur tubuh sepupunya itu meskipun hanya dari belakang "Yakin, siapa sih?" "Cewek ini Rachel, Lihat baju yang dipakai sama dengan semalam kan?" "Terus siapa pria di sampingnya?" "Rendy?" Lani sengaja memancing Bayu bisa saja kan ternyata memang itu Rendy. "Rendy semalam begadang sama Saya sampai larut, jadi itu bukan Rendy" "Trus menurut Pak Bayu siapa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD