Hadiah Pemenang

1589 Words
Dua jam sudah berlalu, perjuangan yang tidak mudah bagi para junior untuk mengumpulkan 500 poin dari tanda tangan para senior mereka, terlebih lagi jika mereka ingin mendapatkan poin dari senior JeKo dan Jovanka. Pasangan senior itu tidak begitu saja memberikan tanda tangan dan data diri mereka pada para adik tingkatan yang mengantri di tenda panitia. Aqilla dan Citra pada akhirnya kembali bertemu di lapangan di dalam kelompok mereka. Wajah seluruh murid baru sangat terlihat lelah dan tidak sedikit dari mereka berwajah sedih serta takut karena poin mereka ada yang tidak mampu mencapai nilai minimal yang ditentukan panitia. “Citra, wajahmu senang sekali, apa kamu berhasil mengumpulkan poin mu?” tanya Aqilla dan senyuman lebar Citra serta buku yang terbuka itu menjawab pertanyaan Aqilla sekaligus membuat wajah Aqilla manyun, terasa semakin lelah karena dia kalah taruhan. “HAAAAH??!!!!!!” Semua anggota kelompok mereka serempak teriak menganga lebar saat melihat ke buku Citra dengan total poin yang berhasil dikumpulkan olehnya sebesar 890 poin. “WHAT???!!!!! WOW! Citra, kamu pakai jurus rayuan apa?!” tanya Aqilla sangat tidak percaya dengan angka poin yang dikumpulkan oleh Citra. Mereka langsung menjadi pusat perhatian dari kelompok yang lainnya. Semua anggota kelompok Citra mulai memeriksa dan menghitung jumlah tanda tangan di buku Citra, dan memang benar Citra mendapatkan poin sebanyak itu. Citra hanya tersenyum membiarkan anggota sekelompoknya memeriksa dan menghitung ulang tanda tangan di bukunya. ”Perhatian! Perhatian! Mari kita cari tahu siapa yang berhasil mendapatkan hadiah kejutan dari senior JeKo dan juga senior Jovanka, kita juga akan mencari siapa yang harus menjalani sangsi karena tidak berhasil mencapai 500 poin. Kalian sudah siap?” ucap senior Ardi di podium, dan para peserta MOS itu segera berbaris rapi sesuai kelompoknya. “Oke, terima kasih atas kerja keras kalian semua, sekarang bagi kalian yang tidak mencapai nilai 500 poin, silahkan berdiri di sebelah kanan podium. Ayo jujur! Bergerak cepat!” seru senior Ardi dan langsung membuat para peserta yang dimaksud itu segera bergerak berpindah tempat sesuai perintah. Hanya tersisa 15 junior saja yang berdiri di tempat semula, termasuk Citra. Lalu buku mereka mulai diperiksa oleh panitia. Semua terasa menegangkan saat menanti panitia selesai menghitung poin dari lima belas junior itu. Wajah para panitia yang bertugas menghitung seketika mengarah ke arah Citra dengan tatapan dan bisik-bisik yang sangat heran, bingung, tidak percaya, entahlah wajah apa ekspresi para senior panitia itu. “Ada apa?” tanya Ardi pada timnya. “Lihatlah! Kamu pasti juga tidak akan percaya dengan ini.” Sahut salah satu panitia sambil menyodorkan buku milik Citra. “Wahhh hebat nih anak!” Puji Ardi dengan senyuman bangga. “Bukan hanya hebat, ini gila! Dia mengumpulkan poin terbanyak, bahkan tanpa tanda tangan JeKo dan Jovanka! Gila kan?!” seru panitia yang lainnya. “Mari kita umumkan, aku tak sabar melihat ekspresi JeKo dan Jovanka saat tahu bahwa tanda tangan mereka tidak berarti apa-apa bagi pemenang kali ini.” Ucap Ardi dengan senyuman sangat penuh arti yang hanya dia pahami sendiri. Ardi lalu berjalan ke arah microphone di podium dengan membawa buku milik Citra. “Di tangan saya sudah ada hasil pemenang dari kegiatan kita hari ini. Sebelum saya umumkan siapa dia, saya terlebih dahulu ingin mengatakan bahwa peserta ini sungguh sangat hebat. Saya bisa melihat bahwa dia adalah siswi yang sangat cerdas di angkatan tahun ini, karena dia memiliki cara berpikir yang pastinya sangat berbeda dengan murid lainnya. Kenapa saya bisa mengatakan hal ini? Karena dia berhasil mendapatkan poin tertinggi, di angka 890 poin dalam waktu hanya 2 jam, dan yang paling membedakan dia dari yang lainnya adalah bahwa dia berhasil mendapatkan poin sebanyak itu tanpa satupun tanda tangan dari senior JeKo dan Jovanka. Sungguh sangat menakjubkan bukan?” ucap Ardi sambil menoleh pada JeKo dan Jovanka. Jovanka pun segera berdiri dari duduknya di samping JeKo dan maju mendekati Ardi untuk memeriksa buku pemenang yang dipegang oleh Ardi. “Woo.. Woo.... Woo..... tenang senior Jovanka, tidak perlu tersinggung seperti itu.” Sindir Ardi dengan tersenyum lebar. Jovanka segera membawa buku itu pada JeKo dan menunjukkannya dengan sangat kesal, berharap JeKo bisa memberi balasan terhadap adik kelas yang telah berani meremehkan mereka. “JeKo, kamu harus bisa memberi dia sebuah peringatan keras! Dia sudah berani menganggap kita tidak penting!” ucap Jovanka, sedangkan JeKo masih tetap bersikap tenang dan tanpa ekspresi apapun setelah melihat buku itu. “Ardi, jangan membuang waktu! Cepat umumkan siapa pemenangnya!” seru JeKo dan Ardi hanya memberikan tangannya ke kening simbol hormat pada perintah JeKo. “Kalian semua pasti sudah sangat penasaran dengan pemenangnya, baiklah! Saya minta pada pemenang yang akan saya sebutkan ini untuk segera naik ke Podium. Pemenang dalam kegiatan hari ini berasal dari kelompok Cerah Ceria, yaitu CITRA ADELIA HARTAWAN!!!” Ucap Ardi berseru menyebutkan nama Citra sebagai pemenang. "AAAAA...!!!" PROK! PROK! PROK!!! Sorak sorai dan tepuk tangan anggota kelompok Citra pun langsung terdengar sangat heboh di barisan peserta yang mendapatkan hukuman. Citra tersenyum lebar menoleh pada teman-teman sekelompoknya. Citra lalu maju ke depan dan naik ke atas podium. "Gadis yang menarik." batin JeKo. JeKo dan Jovanka berdiri dan maju menghampiri Citra untuk memberikan selamat dan juga mengumumkan hadiah bagi Citra. “Selamat. Kamu memang hebat.” Ucap JeKo dengan senyum tenang. “Terima kasih, senior.” Sahut Citra dengan menundukkan kepalanya sopan sambil tersenyum pada JeKo. “Jovanka, segera kamu umumkan hadiah yang berhak didapatkan oleh peserta hebat ini.” Ucap JeKo pada Jovanka yang hanya diam terlihat sangat tidak suka pada Citra. “JeKo, bisakah kita ganti saja hadiahnya?” tanya Jovanka berbisik pada JeKo. “Tidak! Kita harus profesional! Hadiah ini sudah ditetapkan oleh semua panitia, jadi kita tidak boleh mengubahnya.” Sahut JeKo masih tetap menatap pada Citra yang memilih menghadap ke depan, karena dia takut dengan tatapan tanpa ekspresi dari senior pujaan itu. Jovanka pun dengan kesal dan sedikit menghentakan kakinya melangkah ke arah Ardi lalu merebut microphone di tangan Ardi dengan kasar. “Baiklah, karena pemenangnya adalah seorang gadis, maka dia akan mendapatkan hadiah sebuah kencan bersama senior JeKo selama satu hari penuh di akhir pekan nanti.” Ucap Jovanka mengumumkan hadiah bagi Citra. Semua murid baru terkejut, dan situasi langsung menjadi ramai karena semua murid baru merasa takjub bahwa hadiahnya sangat membuat iri banyak peserta perempuan lainnya. Tidak hanya para peserta yang ada di lapangan saja yang terkejut, tapi Citra pun sangat terkejut mendengar pengumuman Jovanka barusan. “Apa?! Kencan satu hari penuh dengan senior JeKo?! Hah?! Hadiah macam apa ini?! Tidak! saya tidak mau! Lagipula ini senior sudah gila atau bagaimana sih?! Bukankah ini sama saja dengan mereka sedang menjadikan ketua mereka sebagai seorang gigolo?! Hadiah bagi seorang perempuan, iihhhh...menjijikkan!” Batin Citra menolak. “Jadi Citra Adelia Hartawan, kira-kira kemana kamu akan memilih tempat untuk berkencan sehari dengan senior JeKo?” tanya Ardi pada Citra yang masih diam saja di tempatnya berdiri. “Eh, maaf senior, maaf. Maaf, karena saya tidak bisa menerima hadiah seperti itu. Maafkan saya. Maaf senior JeKo, saya harap anda tidak tersinggung.” Sahut Citra menolak dengan sopan, dan kali ini seluruh peserta kembali terkejut karena penolakan Citra, terlebih para senior panitia. Hadiah ini sangat dimimpikan oleh banyak senior yang sejak dulu mengincar JeKo, berkencan sehari penuh. Tapi justru ditolak oleh Citra dengan cepat dan tanpa alasan apapun. “Hei, anak sombong! Beraninya kamu menolak senior JeKo! Apa kamu ini gadis kuper dan culun yang tidak pernah mengetahui siapa senior JeKo dari Boulevard School ini?! Dasar kurang ajar!” marah Jovanka pada Citra. “Maaf senior, saya tahu siapa senior JeKo, tapi sungguh saya tidak bisa menerima hadiah seperti ini. Silahkan kalian berikan pada pemenang kedua saja, saya tidak keberatan, saya hanya ingin menyelesaikan tugas saja, tidak mengharapkan hadiah apapun, apalagi hadiah seperti ini. Maafkan saya.” Sahut Citra dengan tenang dan tetap sopan lalu melangkah hendak turun dari podium. “Tunggu! Aku belum mengijinkanmu untuk turun dari podium!” seru JeKo dengan penuh wibawa menahan langkah Citra. “Kamu boleh menolak hadiah ini, tapi boleh aku tahu kenapa kamu menolak hadiah ini? Karena semua panitia sudah sangat memikirkan hadiah ini untuk memberikan yang terbaik bagi usaha keras para peserta MOS.” Lanjut JeKo, membuat Citra berbalik lagi dan menghadap JeKo, juga menatap langsung ke mata JeKo dengan berani. “Karena saya sangat menghargai senior JeKo. Saya tidak mau senior JeKo menjadi seperti seorang gigolo yang diberikan sebagai hadiah bagi pemenang perempuan. Lagipula saya juga bukan tante kesepian yang justru bangga dan senang mendapatkan hadiah seorang laki-laki tampan. Itulah alasan saya.” Sahut Citra dan langsung membungkam semua mulut siapapun yang ada disana. JeKo dan yang lainnya tetap diam menatap Citra yang melangkah turun dari podium. JeKo sungguh tenang ekspresi wajahnya, namun hatinya sungguh sudah dibuat tidak tenang oleh sikap dan ucapan Citra barusan. Ardi yang mengetahui situasi zonk saat ini, langsung mengambil alih microphone di tangan Jovanka dan segera menutup kegiatan hari ini hanya setengah hari saja. “Baiklah adik-adik tingkatan, kegiatan hari ini hanya sampai disini saja, bagi kalian yang berhasil mengumpulkan poin di angka minimal, kalian bebas dari tugas dan diperbolehkan untuk langsung pulang, sedangkan bagi kalian yang kurang dari 500 poin, maka setelah ini kalian harus membersihkan seluruh sekolah ini dari semua sampah dan debu yang ada. Apa kalian mengerti?” ucap Ardi dan segera mendapat seruan iya dari seluruh peserta yang mendapat sangsi. Semua panitia segera kembali ke ruang organisasi, mengikuti langkah JeKo dan Jovanka. Semuanya terlihat berbisik-bisik membicarakan tentang hal-hal yang mungkin akan terjadi di ruang organisasi sebentar lagi. Beberapa anggota panitia menebak JeKo pasti akan marah besar karena usulan mereka telah membuat JeKo justru kehilangan harga dirinya di hadapan para peserta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD