Hari minggu bagi pekerja kantoran mungkin adalah waktu yang tepat untuk beristirahat atau menghabiskan waktu dengan keluarga, tapi tidak dengan pegawai kafe seperti Safira.
Perempuan itu masih tetap bekerja meski Sean sudah memintanya untuk ambil libur sehari karena mereka harus berkunjung ke rumah orang tua Sean siang ini—sesuai dengan permintaan Mami kemarin saat menghubunginya.
Terjadi perdebatan yang cukup sengit sebelum Safira berangkat kerja. Selalu seperti itu, masing-masing dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Safira sangat keras kepala dan Sean tidak suka dibantah.
Tapi, kali ini Sean lah yang mengalah, lelaki itu mengizinkan Safira bekerja dengan beberapa syarat. Ia akan menjemput Safira di depan kafe dan perempuan itu harus izin pulang cepat sebelum jam dua siang.
Tidak ingin ambil pusing, Safira yang saat itu sudah diburu waktu akhirnya menyetujui permintaan Sean. Dan kini, lelaki itu sedang sibuk mengendarai mobilnya demi membelah jalanan Ibu kota sambil sesekali melirik jarum jam di pergelangan tangan.
Sudah pukul 13.45, dan jalanan pada hari itu cukup padat. Beberapa kali ponselnya berdenting mendandakan ada pesan masuk ke dalam ponselnya, dan Sean sudah menebak kalau semua pesan itu datangnya dari Safira.
Safira : Dimana sih?
Safira : Lama banget!
Safira : Tadi gue disuruh pulang cepat, sekarang malah elo yang ngaret!
Safira : Sean, jangan dibaca aja! Bales dong elo udah dimana?
Sean sedikit tersenyum saat membaca deretan pesan itu. Memang tadi pagi ia lah yang meminta Safira untuk jangan terlambat, tapi sekarang malah ia sendiri yang terlalu lama menjemput perempuan itu.
Dengan bibir yang masih melengkung ke atas, Sean mengetikan balasan untuk istrinya itu.
Sean : Sabar, sayang. Bentar lagi sampe.
Lalu ia terkekeh geli, membayangkan wajah memerah Safira di ujung sana saat membaca pesannya itu.
Meletakan ponselnya ke atas dashboard, Sean kembali melajukan mobilnya saat lampu merah pertigaan di depan sana berubah hijau. Tepat pada belokan itu, mata Sean tidak sengaja menangkap siluet tubuh seseorang yang sangat ia kenali, baru saja keluar dari sebuah butik yang ada di seberang jalan.
Seketika jantung Sean berdentam kuat. Tubuhnya mendadak kaku dan napasnya tiba-tiba tercekat. Secepat mungkin Sean menepikan mobilnya, memfokuskan pandangannya ke arah seberang jalanan, dimana orang tersebut—atau wanita yang ia kenali itu berada.
Sean cukup hafal postur tubuhnya, Sean benar-benar mengenalinya. Tanpa sadar matanya memanas. Sean hendak keluar dari mobil untuk menghampirinya, tapi saat itu juga wanita tersebut masuk ke dalam sebuah mobil dan berlalu dari pandangan Sean.
Sean buru-buru menjalankan mobilnya, dengan cepat memutar arah tidak peduli pada beberapa mobil yang tiba-tiba membunyikan klakson mereka. Sean berusaha untuk mengejar wanita itu, mengendarai mobilnya secepat mungkin, dan tanpa sadar ia telah melupakan Safira yang sedang menunggunya di depan kafe.
***
Jam dua tepat, dan hampir tiga puluh menit Safira sudah menunggu Sean di depan kafe. Rasanya ingin sekali ia menjenggut rambut lelaki itu saat ini juga. Bahkan pesan terakhir yang ia kirimkan belum juga di balas olehnya.
Safira : Dimana? Katanya udah mau sampe?
Safira menggeram, melirik jarum jam yang berada di pergelangan tangannya. Sean bilang sebentar lagi akan tiba, tapi hingga lima belas menit setelah pesan itu ia terima, batang hidung lelaki itu belum juga muncul.
"Sean sialan! Awas aja kalo ketemu nanti!"
Berulang kali ia mendengus kesal, merasa bosan sekaligus lelah menunggu. Sudah banyak waktu yang Safira lewatkan untuk Sean, banyak sekali. Dulu saat mereka akan menikah, Safira harus menunggu lelaki itu di dalam mall dari pagi hingga sore hanya untuk membeli cincin pernikahan.
Kalau bukan karena sebentar lagi ia akan menjadi menantu orang kaya, Safira mungkin akan langsung pulang ke rumah saat itu juga. Sean memang si k*****t yang tidak bisa menghargai waktu.
"Ish!" dengusnya. "Sebenarnya dia niat gak sih jemput gue?" Safira mendumel dengan kaki menghentak-hentak ke atas aspal.
Kakinya sudah pegal sekali berdiri sejak tiga puluh menit yang lalu, bahkan terik matahari yang panas itu menyorotinya tidak mau berhenti. Safira lelah. Dengan cepat ia mengetikan sesuatu di ponselnya.
Safira : Gue duluan ke rumah Mami, terserah sama elo! Kalo gak niat jemput, jangan janji mau jemput gue!
Safira : Dasar berengsek!
Lalu ia beranjak dari sana, menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya. Safira bersumpah akan memukul kepala Sean setelah ini.
****