"Ikutlah denganku!" ajak Sultan kepada Sinta dengan suara baritonnya. "Kemana?" tanya Sinta mengerutkan keningnya. "Bidadari pertama hatiku." "Emang punya?" tanya Sinta dengan tatapan mengejek yang membuat Sultan menjentikkan jari di keningnya. "Aw!" Sinta meringis dan tangannya mengusap-usap kening yang terasa sakit. "Aku 'kan cuman tanya! Bikin sebel!" Sinta menggerutu. "Tentu saja aku punya. Tanpa bidadari itu, aku tidak akan ada di dunia ini dan bertemu dengan bidadari hati," gombal Sultan dengan nafasnya yang mulai tidak teratur. Tangannya mencoba menyentuh d**a yang berdetak semakin kencang seperti sedang ikut maraton. "Ya, aku kira bukan sosok ibu," ucap Sinta dengan wajah yang tampak kesal tapi tetap saja tidak terlihat jika bagi orang-orang yang jarang bersama Sinta atau

