Bab 09.

952 Words
Alexander pulang ke kediaman utama sebenarnya Alexander tidak ingin pulang, tapi dia harus mengatakan secara langsung pada Frederick tentang ia setuju untuk menikah dengan Medelenie. Tapi saat masuk ke dalam mansion Alexander melihat Frederick, Vivian, dan Ramos duduk sambil berbincang di ruang keluarga. "Kakak pulang!" seru Ramos. Ramos tersenyum melihat Alexander, tapi sayangnya senyuman Ramos tidak dibalas senyuman juga tapi hanya wajah datar. "Kakak, duduklah kita sedang berbincang-bincang santai saja." ajak Ramos dengan antusias. "Tidak usah, saya hanya ingin mengatakan saya setuju untuk menikah." ujar Alexander. Alexandre menatap Frederick, Frederick tersenyum puas. "Bagus sekali. Sekarang tinggal persiapkan pernikahanmu." ujar Frederick. Frederick sangat puas karena Alexander menuruti keinginannya. "Tidak perlu. Calon istriku yang akan menyiapkan seluruh acara pernikahannya." ujar Alexander. "Berarti kau sudah bertemu dengan, dia? Bagaimana pilihan Papa, tidak pernah salah bukan? Sekali bertemu kamu setuju untuk menikahinya." ujar Frederick. "Iya pilihan Papa tidak pernah salah, tapi terkadang pilihan Papa ada yang buruk juga." sahut Alexander. Vivian yang sedang duduk merasa tersindir dengan ucapan Alexander, walaupun Alexander tidak menyebutkan namanya secara langsung. Alexandre membungkukkan kepalanya sekilas sebagai hormat pada Frederick, setelah itu Alexander berjalan pergi meninggalkan ruang tamu begitu saja. Vivian memasang wajah kesalnya setelah Alexander pergi. "Lihat, dia menyindirku tadi? Putramu tidak pernah suka terhadapku." ujar Vivian dengan nada kesal. Ramos tidak ingin melihat drama sang Mama, Ramos memilih untuk pura-pura pergi ke dapur. "Aku mau ambil minum." ujar Ramos. Ramos berjalan pergi ke dapur, meninggalkan Frederick dan Vivian hanya berdua. "Mama sudah tahu Alexander dari kecil, seharusnya Mama sudah kebal dengan sikap Alexander. Jangan diambil hati semua ucapan dari Alexander." ujar Frederick. Frederick bersikap santai menanggapi sang istri. "Tapi-" "Aku mau istirahat, aku sangat lelah." ujar Frederick. Frederick tidak ingin mendengarkan lebih lanjut omelan Vivian, Frederick beranjak dari duduknya dan berjalan pergi ke kamar Vivian semakin kesal dibuatnya. "Dirumah ini tidak ada yang berpihak, padaku." gerutu Vivian. Hari berganti, hari ini Medelenie sudah mulai mempersiapkan pernikahannya dengan Alexander. Dan Medelenie baru sadar dia tidak meminta nomor telepon Alexander, bagaimana mereka akan berkomunikasi satu sama lain. "Medelenie,kau bodoh!! Sekarang bagaimana caranya aku berkomunikasi dengan Alexander." gumam Medelenie. Medelenie merutuki kebodohannya, dia lupa semalam minta nomor Alexander. Tring... Tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Medelenie, Medelenie mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut. [Ini saya, Alexander] Medelenie hampir berteriak melihat ternyata itu pesan dari Alexander, baru beberapa menit yang lalu Medelenie kebingungan sekarang ternyata Alexander sendiri yang mengirimkan pesan langsung padanya. "Tapi, darimana dia bisa mendapatkan nomorku? Tidak usah dipikirkan, yang terpenting aku punya nomornya sekarang." ujar Medelenie. Medelenie tidak ambil pusing darimana Alexander bisa mendapatkan nomornya. "Aku akan membalas pesannya." Medelenie pun mengetik pesan balasan untuk Alexander. [ Iyaa, aku akan simpan nomormu. Kita akan berkomunikasi tentang konsep pernikahan kita] Medelenie tersenyum karena pesannya sudah terkirim, dan langsung centang biru berarti Alexander sudah membacanya. [Hmm] Pesan balasan dari Alexander masuk, dan Medelenie bingung karena dibalas dengan kata-kata ambigu. Medelenie mungkin harus mulai mempelajari kata-kata ambigu, supaya bisa mengerti. "Sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan yang terpenting adalah aku harus menjalankan rencanaku." ujar Medelenie. Medelenie mengambil tasnya hal pertama yang akan Medelenie lakukan adalah, mencari perencana pernikahan. Medelenie pergi keluar rumah, setidaknya pagi Medelenie tenang karena tidak ada Lilian. Hari ini Lilian tidak datang ke rumah, dan itu membuat Medelenie sangat bahagia. Medelenie keluar dari rumah hari ini Medelenie menyetir mobil sendiri. Mobil Medelenie meninggalkan kediaman Cavendish, Medelenie melajukan mobilnya menuju kantor perencana pernikahan. Tidak butuh waktu lama mobil Medelenie tiba di kantor perencana pernikahan, Medelenie turun dari mobilnya. "Ini perusahaan perencana pernikahan terbaik di Italia. Aku harus semua yang terbaik, dari hal sekecil apapun itu." gumam Medelenie. Medelenie berjalan masuk tapi tidak sengaja berpapasan dengan Romeo dan Bella. "Medelenie." lirih Romeo. "Apa dunia se-sempit ini? Kenapa aku harus bertemu dengan mereka disini." gumam Medelenie. Medelenie sangat malas untuk bertemu dengan Bella. "Apa yang kau lakukan, disini?" tanya Bella. Medelenie tersenyum pada Bella. "Tentu saja untuk bertemu dengan perencana pernikahan, tidak mungkin disini aku shopping. Pertanyaanmu, agak bodoh." jawab Medelenie setengah menyindir Bella. Bella tentu saja kesal karena dikatai bodoh. "Bertemu dengan perencana pernikahan? Kau serius dengan itu, memang kau akan menikah dengan siapa?" tanya Bella. Bella terdengar mengejek Medelenie. "Tentu saja, bukan hasil merebut kekasih orang lain." jawab Medelenie. Bella mengepalkan tangannya mendengar hal itu. "Medelenie, kamu akan menikah? Dengan siapa?" tanya Romeo. Medelenie menatap Romeo sambil tersenyum. "Kau akan tahu saat pernikahanku. Kalian mengundangku saat pernikahan kalian, tentu aku juga akan mengundang kalian di pernikahanku." jawab Medelenie. Medelenie sengaja tidak memberitahukan tentang siapa calon suaminya. "Saya permisi. Berbicara dengan kalian membuang waktu berhargaku." ujar Medelenie. Medelenie berjalan masuk ke dalam gedung kantor perencana pernikahan. "Lihat dia! Sangat sombong sekali, membuat kesal saja." ujar Bella dengan nada kesal. Bella menatap Romeo yang dari tadi diam saja. "Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan bilang kau memikirkan tentang Medelenie." ujar Bella dengan nada kesal. Romeo tersadar dari tadi dia memang memikirkan tentang Medelenie, tepatnya siapa calon suami Medelenie. "Tidak, aku hanya penasaran dengan siapa Medelenie akan menikah." ujar Romeo dengan jujur. Bella juga memikirkan tentang itu, siapa yang akan menikah dengan Medelenie hingga Medelenie bisa se-percaya diri itu. "Tidak usah dipikirkan,paling dia menikah dengan pengusaha biasa saja. Tapi dia hanya besar mulut saja." ujar Bella. Bella sangat yakin Medelenie hanya bicara omong kosong, karena ingin memanas-manasi mereka saja. “Tapi walaupun hanya pengusaha biasa saja, aku tidak rela. Aku masih sangat mencintai Medelenie tidak pernah berubah.” batin Romeo. "Sudahlah, kamu tidak boleh memikirkannya ingat sekarang kamu punya aku. Kamu harus fokus sama aku seorang." ujar Bella dengan nada posesif. Romeo hanya bisa menghela nafas berat. "Kita pulang sekarang, kamu tidak boleh terlalu kelelahan." ujar Romeo. Romeo tidak ingin memperpanjang pembicaraan, Romeo memilih mengalihkan pembicaraan. "Baiklah." ujar Bella. Romeo membawa Bella untuk pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD