Bab 17.

1011 Words

Alexander tidak banyak mengingat tentang masa kecilnya tapi satu hal sang Mama sangat menyayanginya. Alexander tumbuh dengan didikan keras sang Papa membuat Alexander menjadi keras dan dingin, ditambah dengan kehadiran ibu tiri dan saudara tirinya membuat Alexander semakin dingin dan tertutup. "Semua tidak bisa dipercaya. Baik itu Mama, Papa semua omong kosong,omong kosong!" Alexander memukul tembok untuk melampiaskan emosinya. Alexander jatuh terperosot ke lantai kamar yang dingin. "Argghhhggg..." Alexander berteriak dengan keras. Saat sendiri seperti ini Alexander baru bisa meluapkan emosinya sendiri. Setelah merasa emosinya lebih baik, Alexander memejamkan matanya. Alexander memang seperti ini kalau emosinya tidak stabil, Alexander butuh waktu sendiri untuk kembali bisa menenangkan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD