"Awas jatuh!" teriak Ray panik.
Bruk!!
Siswi berseragam olahraga itu terjatuh, Ray bergegas menghampirinya lalu membantunya bangkit.
"Nggak papa!? Ayo ke UKS! Tangan lo luka!" ucap Ray menatap telapak tangan gadis itu.
"Udah, nggak papa kok! Kak! Aku mau minta foto! Boleh!?" tanya gadis itu bersemangat. Ray menggaruk kepalanya kemudian mengangguk.
Siswi berbaju olahraga itu berjinjid sembari membuka kamera ponsel mensejajarkan tingginya dengan Ray, namun Ray malah mengambil ponselnya lalu merangkul bahu gadis itu dengan sedikit menunduk.
Ckrek!
Ray tersenyum menatap senyum lebar adik kelasnya sesaat setelah berfoto dengan dirinya.
"Raysa Elyana Samudera!! Ngapain kamu dilapangan!? Jumpa fans!? Cepat masuk kelas!" teriak seorang guru dari lantai dua.
Ray mengacungkan jempol dengan cengengesan dan kembali menatap siswi dihadapannya.
"Gue kekelas dulu ya! Bye!" pamit Ray lalu pergi.
"Makasih!" teriak gadis itu melambaikan tangan.
"Siapa nama lo!?" tanya Ray menoleh.
"Airi, kak! Kelas sepuluh!" teriak Airi, adik dari Alif.
Ray tersenyum kemudian melangkah menuju kelasnya, tentu saja proses mengajar sudah berlangsung. Ditambah lagi pengajar hari ini adalah Bu Vina, guru yang terkenal dengan ke killer-an nya.
Ray menyembulkan kepalanya, seketika pandangannya beradu dengan tatapan tajam dari Bu Vina.
"Raysa!!!" teriak Bu Vina bersiap memarahi Ray yang hanya tersenyum pada semua orang.
"Kenapa kamu telat!?" tanya Bu Vina memegang penggaris kayu.
"Karena... nggak tepat waktu," jawab Ray mengundang gelak tawa seisi kelas. Alasan singkat namun berhasil membuat Bu Vina semakin marah.
"Kamu ini ya, setiap hari ada aja yang kamu perbuat, kalau nggak telat, ya tidur dikelas!" tutur Bu Vina menjelaskan kesalahan-kesalahan yang diperbuat Ray.
"Coba tiru kakak kamu! Dia berangkat tepat waktu, murid berprestasi dan memang patut dibanggakan sebagai seseorang yang menyandang status Samudera!" tegas Bu Vina membuat Ray hanya diam mendengarkan kalimat demi kalimat pedas yang terus dilontarkan gurunya.
"Pantas saja orang tua kamu tidak memperhatikan kamu! Mereka hanya berkerja dan bekerja!" tukas Bu Vina mengangkat wajah menatap Ray yang hanya diam.
"Udah?" tanya Ray setelah Bu Vina membuang napas gusar.
"Udah, bu!?" ulang Ray lagi.
"Wah, Ray bakal marah nih!" bisik beberapa siswa membuat Bu Vina tersadar dengan apa yang sudah diucapkannya.
"Ray, saya---"
"Cukup," potong Ray mengangkat tangan.
"Orang tua saya, nggak pernah banding-bandingin saya sama Bang Ayis! Mereka sibuk kerja, buat semua orang! Orang yang kerja sama orang tua saya, kayak ibu! Yang bisanya cuma ngoreksi kesalahan saya, tanpa berpikir kalau tanpa orang tua saya, ibu nggak mungkin... ah, udahlah!" Ray menatap jengah lalu menoleh ke ambang pintu, terdapat Pak Dani, yakni kepala sekolah SMA Samudera.
"Ray, saya..." Bu Vina bahkan tak berani menatap Pak Dani yang tengah menatapnya.
"Saya, minta maaf!"
Ray mengangguk kemudian pergi meninggalkan kelas dengan mata berkaca-kaca.
"Bu Vina, bisa ke ruangan saya," pinta Pak Dani kemudian pergi.
"Baik, kerjakan soal halaman 60!" perintah Bu Vina kemudian pergi dengan gemetar.
Alif, pemuda itu mencoba tetap diam dikelas mengerjakan soal yang diberikan Bu Vina namun ia juga ingin menemui Ray. Alif bangkit dari duduknya membuat semua orang menatapnya, tanpa memperdulikan tatapan seisi kelas, pemuda itu berlari menyusul kepergian Ray.
"Ray!" panggil Alif mendapati gadis itu tengah duduk sendiri di rooftop sekolah.
Ray menoleh dengan senyum kecil. Tanpa mendapat persetujuan dari Ray, Alif langsung duduk disamping gadis itu.
"Nggak papa?" tanya Alif pelan.
Ray mengangguk namun Alif tahu kalau gadis itu hanya berbohong.
"Jangan dipikirin," ucap Alif lagi yang langsung diangguki oleh gadis disebelahnya.
Mereka terdiam cukup lama, Alif sendiri juga bingung harus mengatakan apa untuk menghibur gadis itu.
"Dua teman kamu, nggak masuk ya?" tanya Alif memulai pembicaraan.
Ray kembali mengangguk, nampaknya suasana hati gadis itu benar-benar buruk.
"Yang di bilang Bu Vina emang benar, gue sama Bang Ayis." Ucap Ray membuat Alif menatapnya.
"Kakak kamu? Yang mana?" tanya Alif polos.
"Yang kemarin nebeng pulang sama gue!" ucap Ray mengarahkan duduknya menghadap Alif.
"Dia Bang Ayis! Dia pintar, rajin, terus... banyak deh yang bisa dibanggain dari dia. Lah gue," kekeh Ray garing.
Alif menggeleng. "Kamu itu luar biasa dimata saya! Waktu kamu ngebela saya dari tukang bully kemarin!" tegas Alif membuat Ray nampak mencerna ucapan pemuda itu.
"Terus, kamu punya banyak orang yang sayang sama kamu! Kamu itu----"
Ray menjentikkan jarinya seketika membuat Alif terdiam dengan gugup tak berani menatap Ray yang tengah tersenyum padanya.
"Lo lucu," kekeh Ray dengan senyum manis.
"Mmm.. maaf!" gugup Alif menjauhkan duduknya, sontak saja Ray tertawa melihat tingkahnya.
"Tapi saya serius! Kamu orang pertama yang---"
"Alif..." panggil Ray menyentuh dua bahu pemuda itu.
Alif memolot, gelagap saat satu tangan Ray bergerak melepas kacamatanya. Pemuda itu mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali dan kembali memasang kacamata dengan tergesa-gesa.
"Ups... sorry," ucap Ray melepaskan pemuda itu. "Soalnya gue perhatiin, elo lebih kelihatan ganteng kalau nggak pakai kacamata," kekeh Ray cengengesan.
Alif tertawa pelan dan kembali menetralkan ekspresinya.
"Huhh! Gue ngantuk!" keluh Ray jujur.
"Hari ini Davi nggak masuk 'kan? Tadi malam dia kalah balapan, lo nggak datang ya?" tanya Ray, Alif nampak berpikir lalu menggeleng.
"Saya, nggak datang... maaf!" ucap Alif berbohong kembali meminta maaf, Ray pun tersenyum lalu menaruh tasnya dipangkuan Alif kemudian merebahkan kepalanya tanpa aba-aba hingga membuat Alif terkejut.
"Biar gini dulu," ucap Ray memejamkan matany tanpa memperdulikan wajah Alif yang sudah memerah.
Ray nampak nyaman dalam tidurnya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Alif tersenyum menatap langit biru.
"Kayaknya, gue suka sama lo..." gumam Alif pelan.
Alif menoleh saat merasakan kedatangan seseorang dan ternyata adalah lelaki yang kemarin menumpang pulang dengan Ray.
"Ray, ketiduran..." cicit Alif tak berani menatap tatapan Faris.
"Dikelas ada masalah apa? Gue dengar dari beberapa murid," tanya Faris melepas seragamnya hingga menyisakan kaos hitam lalu menggunakan seragamnya untuk menutupi paha Ray yang masih lelap dalam tidur.
"Tadi, Bu Vina, marah karena Ray telat, terus dia banding-bandingin Ray sama kakaknya," jawab Alif menatap Faris yang berdiri membelakanginya.
"Pantas, langsung diadakan rapat dadakan," gumam Faris kembali menghadap Alif.
"Adik gue paling nggak suka sama bullying. Gue harap, elo nggak manfaatin dia sebagai benteng pertahanan selama sekolah disini," ucap Faris mantap, Alif mengangguk faham.
"Dan kalau dia udah berani kayak gini, berarti dia percaya sama lo," ucap Faris diakhiri senyum bersahabat.
"Gue pergi dulu, kalau Ica bangun suruh kekantin bawain seragam gue," pamit Faris kemudian pergi.
"Ica," kekeh Alif merasa gemas dengan nama itu.