Vanilla mengerjapkan matanya berkali-kali dan melihat ke arah sekitar, perih di bagian perutnya yang masih terasa dengan jelas serta napas sesak yang kian beradu. Hanya rintihan pelan yang terucap dari bibir pucatnya. "Pe...ri...h," Namun, tidak ada yang mendengar rintihan Vanilla, sebab waktu sudah menunjukkan tengah malam dan Arga yang menemani Vanilla sedang terlelap di bawah alam sadar. Tenggorokan Vanilla kering, sungguh ia butuh minum barang setetes air putih saja, keringat dingin bercucuran di dahi dan lehernya, juga tangannya terulur meremas perutnya yang semakin perih serta rasa mual juga menguasai dirinya. Ia melirik meja yang berada di samping ranjangnya lalu tangannya terulur untuk mengambil segelas air minum karena kemampuan Vanilla yang terbatas akhirnya gelas itu jatuh hin

