Potongan 7.......
"Apa yang sebenarnya terjadi?" ulang Riana serius sembari memfokuskan pandangan pada sosok Dion yang kini sudah duduk di sampingnya. Rasa ingin tahu Riana belum berakhir.
"Aku harus menemui orangtuaku untuk menjelaskan semua perbuatan yang aku lakukan. Aku harus berani mempertanggungjawabkan," beri tahu Dion tetap dengan senyuman terpatri di wajahnya sedari tadi.
"Yang menelepon itu orangtuamu? Iya 'kan?" tanya Riana dalam nada yang seolah-olah belum bisa percaya. Raut mimiknya menampakkan hal serupa.
Suara berat seorang pria di seberang telepon yang terdengar emosi dan marah, tergiang-giang kembali pada kedua indera pendengaran Riana. Ia sedikit bergidik ngeri saat bayangan kejadian buruk yang dapat menimpa pemuda itu terlintas di pikirannya nanti.
Dion menganggukkan kepala. "Iya, yang menelepon tadi adalah Bapak. Beliau menyuruhku untuk pulang ke rumah, menjelaskan semua."
Riana tak bersuara. Diam. Bungkam. Respons lanjutan tidak diberikan oleh wanita itu. Keheningan melingkupi mereka untuk yang sekian kalinya lagi. Dion pun memutuskan tak lama-lama membuang waktu. Lebih baik permasalahan segera ia selesaikan. Terutama di hadapan keluarga.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Dion lantas berpamitan dan langsung bangun dari sofa.
"Tunggu," ucap Riana coba mencegat. Meraih pergelangan tangan kiri Dion. Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Ketenangan dalam diri wanita itu semakin berkurang.
"Ada apa, Riana?" tanya Dion dengan nada lembut. Sepasang mata pemuda itu menatap cukup intens wajah dari atasannya
"Bolehkah aku ikut?" pinta Riana tanpa ada perencanaan sebelumnya. Kata-kata itu meluncur cepat secara refleks dari mulutnya.
"Untuk apa? Lebih baik istirahat di rumah. Aku cuma sebentar." Dion menyarankan, tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalah yang sudah diperbuatnya
"Perasaanku tidak tenang. Aku akan menemanimu." Riana bersikukuh dan tak ingin menerima penolakan dari Dion.
"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja," balas pemuda itu meyakinkan.
"Aku akan tetap menemanimu." Riana masih bersikeras. Ia pun bangkit dan berjalan cepat menuju kamar untuk mengganti pakaian tanpa mendengar jawaban Dion terlebih dahulu.
"Jika itu maumu, baiklah."
........................
Tak berselang lama, Riana pun keluar dari dalam kamarnya. Dion tak bisa mengelak jika dirinya memerhatikan penampilan wanita itu. Cantik, satu kata yang mewakili penilaian Dion terhadap Riana kali ini. Rasa kagum memang terhadap sang atasan telah dimiliki Dion semenjak ia mulai bekerja pada usaha yang dirintis oleh Riana.
"Aku sudah selesai."
"Terima kasih, Riana," ujar Dion tulus. Jujur, dia bahagia dan melenyapkan kegugupannya karena Riana mau ikut menemani dirinya. Hal tersebut juga membuat ketakutannya mulai pudar sedikit demi sedikit. Dia sudah siap menghadapi kemarahan dari kedua orangtuanya. Terutama sang ayah yang memiliki watak keras.
"Untuk?" Riana bertanya karena tak mengerti akan maksud ucapan dari pemuda itu.
"Karena mau ikut bersamaku ke rumah. Apa pun yang akan terjadi di sana. Aku akan melindungimu."
Riana sedikit tak suka dan juga risi dengan perkataan Dion yang seolah-olah mereka berdua telah memiliki hubungan. "Jangan salah sangka. Aku belum bisa memaafkan kesalahanmu, Dion."
.........................
Di dalam taksi, mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing, khususnya Dion. Banyak hal yang sedang berputar-putar dalam kepala pemuda itu. Mengikis ketenangan yang hampir hilang pada dirinya.
Perjalanan menuju ke kediaman orang tua memakan waktu kurang lebih satu jam jika ditempuh dengan menumpangi taksi. Walau, duduk saling bersisian di dalam taksi. Tak tercipta percakapan terlalu berarti di antara keduanya.
Sementara itu, rasa kantuk pun menyerang Riana. Kedua kelopak matanya mulai tertutup. Dia pun hanyut dalam tidurnya. Kepalanya secara tak sengaja terjatuh ke bahu Dion. Sontak pemuda itu terkaget. Sedangkan, Riana masih tampak terlelap. Dan saat melihat secara cukup jelas ada gurat-gurat kelelahan terukir di wajah Riana, Dion lantas membenahi posisi wanita itu supaya dapat tidur dengan lebih nyaman.
Ada apa denganku? Kenapa jantungku jadi berdebar begini? tanya Dion pada dirinya sendiri. Ada sensasi aneh yang Dion rasakan manakala kepala Riana menyender di bahunya. Membuat degup jantung pemuda itu berdetak tak beraturan.
Dion kemudin memandang wajah wanita itu lekat. Entah sejak kapan, dia bisa menjadi damai hanya dengan melihat wajah Riana. Mungkin ini terbilang berlebihan tapi itulah yang Dion rasakan. "Tetaplah berada di sisiku," kata pemuda itu sangat pelan dan nyaris seperti berbisik. Hanya dirinya seorang yang dapat mendengar.
..................
Satu jam berjalan dengan cepat. Kini taksi yang mereka tumpangi telah terparkir di depan pagar sebuah rumah berlantai yang cukup besar terlihat dari luar. Riana belum terbangun juga. Dion tak tega mengganggu tidur Riana yang lelap.
"Tunggu sebentar ya, Pak. Dia belum bangun soalnya," pinta Dion pada sopir taksi yang dibalas dengan anggukan.
Dion pun masih selalu mengarahkan pandangannya pada wajah Riana. Ia seakan tidak pernah bosan menatap wajah wanita itu. Dion lantas merasa ada gerakan di bahunya. Sementara, secara pelan-pelan Riana membuka kedua kelopak mata dan mengangkat kepalanya dari bahu Dion. Riana tampak terkejut menyadari ulahnya sendiri. Wanita itu lalu mengusap-usap wajahnya dalam rangka sejenak menenangkan diri.
"Kamu pasti kelelahan ya?"
Riana masih setengah sadar dalam mencerna pertanyaan Dion. "Aku hanya kurang tidur," kilah wanita itu dengan nada dingin khasnya.
"Kamu tak pandai berbohong, aku tahu, haha." Tawa kecil Dion pun terdengar karena gemas oleh ekspresi Riana saat berbohong. Bahkan, secara refleks tangannya membelai rambut wanita itu dengan gerakan halus dan untung tak mendapat penolakan.
"Kita sudah sampai?"
"Iya. Di sini rumah orangtuaku. Ayo kita turun," ajak Dion dengan suara yang lembut seperti biasa.
Mereka berdua lantas turun secara bersamaan melalui pintu taksi yang berbeda. Dion tampak berjalan mendekati Riana yang tengah berdiri sembari mengedarkan pandangan ke arah rumah orangtuanya.
"Ayo kita masuk ke dalam. Mungkin orangtuaku sudah menunggu."
"Apa kamu benar baik-baik saja saat ini, Dion?" tanya Riana dengan nada suara sedikit khawatir, juga tak tahu mengapa perasaan cemas tiba-tiba menghampiri.
"Sejujurnya, aku takut. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Bapak kepadaku. Watak Bapak cukup keras. Beliau tidak akan segan-segan memarahi jika anaknya melakukan kesalahan. Tapi itu wajar, karena aku bersalah," jelas Dion sambil berusaha tetap tersenyum. Walau, lebih terlihat tipis.
"Tenanglah, Dion." Riana menepuk lengan Dion pelan beberapa kali. Namun, ekspresi di wajah wanita itu tetap datar.
"Tolong beri aku semangat," pinta laki-laki itu. Sekarang tangan kirinya menggenggam tangan kanan Riana dengan kuat. Lagi-lagi, tak ada penolakan ditunjukkan wanita itu.
"Kita hadapi ini bersama," ucap Riana tulus. Hatinya tergugah juga. "Kamu harus semangat, Dion."
...................
Dion masih senantiasa menggenggam tangan Riana tatkala memasuki pintu utama rumah lantai dua orangtuanya. Dan, sesungguhnya Riana pun kurang merasa nyaman bersentuhan dengan Dion. Tetapi ia sudah berjanji di dalam hati akan mendukung pemuda itu.
"Ini ruang keluarga," beri tahu Dion ketika mereka sampai di sebuah ruangan yang cukup luas.
Riana menganggukkan kepala kecil sebagai bentuk tanggapan.
Benar saja, ada empat orang yang tengah duduk di sofa. Masing-masing dua wanita serta dua pria.
Apa dia tegang? Pertanyaan tersebut melintas cepat di benak Riana, sebab genggaman Dion semakin kencang.
Sorot mata kedua pria yang berada beberapa meter di depan mereka begitu tampak tajam, lebih tepatnya mengarah pada Dion. Tetapi, Riana berhasil dibuat ngeri dan sedikit takut. Ia kian dilanda rasa cemas yang tak beralasan.
Riana hanya menurut saat Dion menuntunnya untuk duduk bersama dua wanita yang sedari tadi memang sudah menunggu kedatangan mereka dengan perasaan was-was.
"Dion...," Kedua wanita itu memanggil nama Dion. Terselip kekhawatiran di dalamnya
Apa yang akan terjadi? Riana kembali bertanya-tanya di dalam hati. Suasana di ruangan ini terasa sangat dingin dan kaku.
"Duduklah di sini bersama Ibu dan Kakak iparku. Jangan khawatir," ucap Dion pelan pada Riana. Akan tetapi, penuh keseriusan.
Lalu, Dion melepas genggaman tangannya sambil mempertahankan senyum saat Riana memandangnya. Tak ingin ayahnya menunggu lama Dion segera berjalan ke depan meninggalkan Riana. Lalu berjalan mendekati dua pria yang duduk kaku di salah satu sofa panjang. Salah satu adalah sang ayah.
PLAK!!
PLAK!!
PLAK!!
PLAK!!
"Dasar anak kurang ajar!!" umpat pria paruh baya pada Dion dengan penuh amarah. Ayahnya.
PLAK!!
PLAK!!
Tamparan-tamparan keras berulang kali mengenai pipi Dion tanpa ampun.
"Pak, maafk—"
PLAK! Ucapan Dion terputus karena menerima tamparan keras ayahnya di bagian pipi kiri.
.....................................................