9

841 Words
Potongan 9.... Kesepakatan final sudah Riana dan Dion lakukan kemarin. Mereka akan mengikat hubungan selanjutnya ke jenjang pernikahan. Mungkin terasa sulit diawal, terkhususnya bagi Riana. Terlebih, hanya semata-mata demi bayi yang tengah wanita itu kandung. Namun, Riana mampu sedikit tenang serta lega karena perjanjian di antara mereka berdua mengenai syarat yang diajukannya tak mendapat penolakan  Dion. Dan tentang mengatur pertemuan pemuda itu bersama orangtuanya guna membahas rencana hari dari upacara pernikahan yang paling baik untuk digelar, Riana pun akan minta Dion datang ke rumahnya esok hari. Tapi, ia belum memberi tahu pemuda itu. Di kantor mereka masih tidak saling berkomunikasi, Riana yang memang lebih sering menghindar. Apalagi, harus membicarakan hal-hal yang tak berkaitan dengan masalah pekerjaan. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, para staff Riana juga sudah mulai untuk beristirahat dan pergi makan ke luar kantor. Namun, Riana masih sibuk berkutat sendirian di dalam ruangan. Pekerjaan yang cukup menumpuk, membuat wanita itu harus menunda makan siangnya sebentar. Tok....Tok.... Konsentrasi Riana dalam memeriksa beberapa lembar laporan penjualan kain endek pada seorang klien dua minggu lalu buyar seketika karena mendengar pintu ruangan kerjanya diketuk dari luar. Wanita itu lantas menghentikan kegiatannya. "Masuklah." Persila Riana dengan suara yang sopan. Dan kurang dari lima setik, telah muncul sosok yang tak asing baginya, yakni Dion. Bisa dikatakan hampir setiap hari mereka bertatap muka. Hanya tempat yang berbeda. Sampai sore, mereka bertemu di kantor. Dan pada malam hari, Dion akan berkunjung ke rumah sebagai seorang pria yang berniat memastikan kondisi calon istri dan anak mereka. Riana pun tak dapat selalu menolak kehadiran Dion di kediamannya. Ia  berupaya coba meredam keegoisan sedikit demi sedikit, walaupun tidak mudah. Menghargai niat baik Dion mungkin tak akan sulit jika kebencian yang juga tidak wanita itu rasakan semakin dalam. "Ada apa?" tanya Riana to the point ketika Dion sudah mengambil posisi duduk di kursi yang terletak di depan meja kerjanya. "Jangan membicarakan masalah pribadi di kantor," peringat wanita itu kemudian, masih dengan nada dingin khasnya seperti biasa. "Tidak akan," jawab Dion sambil tersenyum cukup lebar kendati tak ada sambutan spesial dari atasannya itu. Bagi Dion dengan memandang wajah Riana saja sudah bisa membuat mood-nya membaik. Namun, Dion malah merasa detak jantungnya lebih berdegup kencang. "Lalu?" tanya Riana ingin langsung masuk ke inti pembicaraan. Tak mau berbasa-basi lama-lama. "Aku ingin berhenti bekerja. Aku telah membuat surat pengunduran diri." "Untuk apa berhenti? Kinerjamu selama ini selalu bagus, bahkan meningkat," balas Riana cepat dan ingin memperoleh alasan yang tepat serta masuk akal dibalik keputusan Dion. "Aku ingin fokus mengembangkan usaha di IT yang aku bangun bersama para sahabatku. Itu alasannya." Dion menjelaskan, telah mantap dan tak ragu mengambil keputusan keluar. "Kamu yakin? Coba dipikirkan ulang lagi. Kamu masih dibutuhkan di sini, Dion." Riana memberi kesempatan kembali. Keputusan pemuda itu bisa saja berubah nanti, siapa yang akan tahu. Begitulah pikir Riana. "Tentu. Aku sudah yakin." "Lagipula, jika aku tetap bekerja di sini setelah kita menikah, pasti ada gosip negatif yang menyebar," lanjut Dion. Satu lagi alasan kenapa pemuda itu memilih untuk berhenti bekerja yakni dia tak ingin para pegawai lainnya memiliki pikiranseperti misalkan menikahi Riana hanya karena harta atau hal negatif lainnya. Baiklah, anggap saja ia terlalu berlebihan memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi ke depannya. "Jangan ambil pusing omongan orang lain." Riana menatap dengan sorot cukup tajam ke arah Dion. "Aku tetap mengundurkan diri." "Terserah kamu saja Dion. Itu juga hakmu," balas Riana dingin. Ia akan memproses sekaligus menerima pengunduran diri yang Dion ajukan tanpa ingin mempertimbangkan lagi. "Terima kasih, Riana." Wanita itu hanya menganggukkan kepala pelan. Lalu, memutus secara sepihak kontak mata yang sedang berlangsung karena sudah mulai merasa tatapan yang diperlihatkan oleh Dion kepadanya berbeda, lebih intens. Riana tidak tahu persis arti dari pancaran pada mata pemuda itu, namun yang jelas dirinya tak nyaman. Lagipula, hal tersebut juga tidak penting baginya. "Riana...," panggil Dion dalam nada yang masih lembut. "Kenapa lagi?" tanya Riana menyasar ke arah pembicaraan. Wanita itu pun menduga-duga jika Dion hendak memberi tahu sesuatu. "Mungkin nanti malam aku tidak bisa mengunjungimu. Ada projek yang mesti aku kerjakan bersama sahabat-sahabatku di rumah dan harus cepat diselesaikan minggu ini." "Tidak masalah," tanggap Riana cepat dan seolah-olah tak peduli, terkesan cuek. "Aku akan datang besok." Riana yang sempat memalingkan wajahnya, kini kembali memandang Dion. Tatapan malas ditunjukkan oleh wanita itu. "Terserah kamu saja. Mau datang atau tidak." "Kapan akan melakukan cek ke dokter kandungan? Aku akan menemani dan ikut ke sana." Dion lalu mengajukan pertanyaan yang sebenarnya telah cukup lama ingin dikonfirmasi. "Aku sudah bilang tadi, jangan bawa atau membicarakan masalah pribadi di kantor." Sebuah peringatan Riana keluarkan dengan suara dingin dan sedikit dipelankan. "Maaf." Hanya kata tersebut yang bisa Dion ucapkan. Dan Riana mendadak merasa tidak enak melihat ekspresi wajah pemuda yang sekarang sedang berada di hadapannya. "Aku akan periksa ke dokter sendiri dulu. Nanti kalau kita sudah menikah dan menjadi suamiku. Kamu boleh ikut, Dion." "Tolong beri tahu aku bagaimana hasil pemeriksannya nanti juga." Riana mengangguk pelan. "Baiklah." "Apa kamu bisa lusa datang ke rumah orangtuaku? Aku sudah siap." Giliran wanita itu yang bertanya. "Bisa. Aku akan datang, Riana." ......................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD