Aku murka. "Loe gila hah? Di mana Jess? Apa yang loe lakuin ke dia b******k!" Suaraku keluar dan itu melengking karena emosi. Aku sudah tidak perduli jika kalimatku terdengar menuduh karena dia satu-satunya orang yang aku tahu dan dia pasti yang membawa Jess ke sini. Dan teriakanku berhasil membuat semua orang melirik kami. Lupakan saja soal lulus dengan tenang dari kampus karena saat ini aku sudah diserang panik karena tidak bisa menemukan Jess, bahkan rasa malunsudah tidak kupedulikan karena bagiku Jess yang paling penting untuk sekarang. Aku melotot, tubuhku terengah-engah karena lari melintasi dua gedung hanya untuk menemukan auditorium sialan yang ternyata bersembunyi di ujung bangunan. Tatapanku menajam ke arah manusia b******k yang masih tersenyum senang melihat reaksiku. Aku ing

