Pembicaraan tentang anggaran dan t***k bengek lainnya berakhir dengan keputusan satu suara. Setelah itu, kami melanjutkan mengobrol santai meski suasananya masih cukup kaku. Bagaimana tidak kaku karena kami tidak ada yang memulai pembicaraan. Tama pun hanya sibuk dengan berkas-berkasnya sendiri. “Mama selalu perhatikan kamu dari jauh. Tapi baru kali ini Mama punya keberanian buat mendekat.“ Aku menunduk dan masih menunggu mama melanjutkan kalimatnya. “Dikesempatan kali ini, Mama mau minta maaf. Maaf karena Mama abai dan maaf karena Mama nggak langsung cari kamu setelah tahu Papa meninggal. Mama tahu pasti sulit buat kamu maafin Mama. Tapi bisa nggak kamu kasih Mama kesempatan supaya kita bisa jadi keluarga? Mama bakal tebus semua kesalahan Mama. Mama janji.“ Aku mengernyit. Padahal tid

