Ketika pintu tertutup bunyi debuman kecil itu terdengar amat kencang. Mungkin karena di sini hanya ada aku dan Tama yang sama-sama terdiam. Aku beralih menatap Tama. Ekspresinya perlahan mereda. Pandangannya berubah menjadi kosong. Kenapa Lisa harus mengatakan hal itu dan membuat situasi diantara kami menjadi canggung. Aku menggigiti bibir bawahku saat melihat Tama yang memandangku lekat. Aku cemas. Untuk beberapa saat aku tidak bergerak sama sekali dan juga tidak mencoba untuk berbicara untuk memecah kesunyian. Mungkin butuh waktu bagi Tama untuk menatap ke arahku dan butuh waktu bagiku juga untuk menatap matanya. "Apa kamu ngerasa keganggu kalau aku ikut campur?" Kata-katanya berhasil menamparku. Aku sudah membuka mulutku untuk menjelaskan, tapi Tama memberi peringatan padaku agar

