Aku menyaksikan pertarungan serius antara Damar dan Tama yang ada di sisi lain kolam. Tapi ditengah keasyikan itu kami terintrupsi dengan deringan handphone milik Tama. Dia mengeluarkannya dari saku kemudian mematikannya dan belum sempat benda itu tersimpan dia kembali berdering kembali. "Kalau penting angkat aja dulu," kataku, meski enggan dia tetap melakukannya. Tama sudah menjawab panggilan itu. Aku mendengar dia menjawab semua pertanyaan yang diajukan pihak seberang sambil melangkah menjauh, meski hanya berhalangan kaca tapi mataku tetap awas memperhatikannya. "Dia bahkan masih sibuk di saat liburan," ujar Lyan. Damar meringis sebelum melanjutkan. "Karena ini bukan waktu yang tepat buat dia ambil cuti." Dia memberiku tatapan sinis seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. "Damar," pan

