Langit sore Djogja seperti sedang meredakan dunia. Matahari menggantung rendah di atas cakrawala, membentuk cahaya emas yang memantul di genteng rumah-rumah tua.
Raras kembali ke kamar ibunya. Di meja, ada sepucuk surat baru, diselipkan di bawah bingkai foto Sekar.
Tulisan di depannya:
> Untuk Raras, dari seorang yang terlalu lama menunggu.
Tangan Raras gemetar. Ini tulisan Tama.
---
> Anakku,
> Aku bukan ayah yang baik. Bahkan mungkin bukan ayah sama sekali. Tapi satu-satunya alasan aku tetap hidup sepanjang perang, sepanjang pelarian, dan sepanjang kesunyian… adalah karena aku ingin melihatmu, walau hanya sekali.
> Lagu ini kutulis waktu kau lahir. Tapi aku tak pernah punya keberanian untuk menyanyikannya.
> Karena, di tiap nada, ada dosa yang kusembunyikan dari ibumu.
> Kini aku tahu, waktu sudah mendekat. Tapi aku tak ingin mati tanpa menyerahkan lagu itu padamu.
---
Bersama surat itu, ada satu kaset kecil.
Di labelnya tertulis tangan: “Serenade Raras – versi terakhir”
---
Raras meminjam tape tua milik tetangga sebelah dan memutarnya.
Lagu itu pelan. Suara lelaki tua menyanyikannya dengan napas yang tersendat-sendat.
> Bila malam jatuh di langit Djogja,
Dan lampu-lampu mulai menyala malu,
Ingatlah, putriku…
Cinta tak selalu jadi rumah,
Kadang ia jadi jalan pulang.
> Dan bila kau tak menemukan aku di antara cerita,
Ketahuilah—aku selalu mencintaimu dari jauh.
Terlalu jauh.
---
Air mata Raras tak bisa dibendung.
Ia menyalakan lampu teplok, membuka jendela, dan memandang langit Djogja yang mulai gelap.
Hari itu, Tama berpulang.
---
Keesokan harinya, kota terasa lebih sunyi.
Raras berdiri di depan rumah tua, memegang surat terakhir Tama. Di kejauhan, Rana berdiri di bawah pohon trembesi. Ia tak berkata apa-apa. Hanya menatap. Mengerti.
Raras melangkah ke arahnya.
“Maukah kau menggambar rumah ini sekali lagi?”
“Untuk apa?” tanya Rana lembut.
“Untuk mengingatkanku... bahwa rumah bisa dibangun lagi. Bahkan dari reruntuhan paling pilu.”
---
Dan mereka berdiri di sana.
Dua orang yang belum selesai dengan masa lalu. Tapi bersedia memulainya kembali—perlahan-lahan, di bawah langit yang sama.
Djogja menyimpan banyak hal.
Tapi kali ini, ia menyaksikan sesuatu yang baru:
sebuah cinta yang lahir bukan dari pertemuan, tapi dari keberanian untuk memaafkan.
---
🕊️ TAMAT – Bagian I
🕊️ Cerita ini belum benar-benar selesai.
Masih ada luka yang harus disembuhkan, kenangan yang harus dirangkul, dan cinta yang harus dipilih.
Lanjutkan kisahnya di:
💐 “Langit yang Tak Lagi Sama”
Lanjutan perjalanan Raras menemukan dirinya sendiri, di kota yang langitnya tak lagi sama.