Ingin Marah

1100 Words

Mereka menyudahi apa yang sudah terjadi malam itu. Rumaisa menoleh pelan ke samping. Ada sosok yang tengah mengatur napas dengan mata terpejam. Bagai ikan yang menggelepar setelah keluar dari air, Bagus membuatnya tersenyum. Separuh dirinya terlihat tanpa balutan. Gadis itu makin membenamkan dirinya ke dalam selimut. Mereka terpejam bersama-sama. Ketika Bagus terbangun, seketika ia menarik tubuhnya lebih dekat dengan sang istri. Malam itu ia tak bisa berkata-kata lagu selain kalimat terima kasih pada Rumaisa yang ia bisikkan pada telinga gadis itu. Rumaisa yang merasa geli pun terbangun dengan tawa kecilnya. Lalu mereka kembali tertidur hingga pagi harinya. Setengah enam pagi, pintu kamar masih terkunci. Gelas di dalam sana, tak terlihat tanda-tanda mereka sudah bangun. Fatimah yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD