The Queen [7]

1503 Words
Sebelum membaca, diperkenankan untuk menyiapkan hatinya terlebih dahulu ♥️ *****      MOTOR besar itu melaju dengan kencangnya membelah jalan raya dengan mudah, tanpa peduli dengan pekikan pejalan kaki yang kaget karena ulahnya. Dari balik kaca helm hitamnya, raut wajah datar Aurel terlihat. Gadis itu beberapa kali menyalip truk dan mobil dengan cepat, dia dikejar waktu. Padahal jika dilihat waktu masih menunjukkan pukul 8 malam. Aurel menghentikan motornya saat sampai di tempat tujuannya, area jalanan yang sunyi tapi sudah berjejer belasan motor dan mobil mewah yang terparkir rapi. Beberapa orang mulai menatap kearahnya dan saat membuka helm pun sorakan terdengar "Weh anjir Queen!" "Tuh tuh Queen udah datang," "Lah gue kira tadi cowok, buset cantik amat tuh cewek," "Siapa si? Kok gue baru liat?" "Lo yang baru masuk club ini pea, itu tuh Queen alias ketua club disini," "Bening banget si Queen makin hari," "Gila si ini mah emang cantik banget, ada bidadari juga ternyata disini," "Serius ketuanya cewek? Gue kira cowok, yaelah gue ga yakin," "Syutt omongan lo, jangan ngeremehin Queen. Lo ga tau seberapa besar kekuasaan dia disini," "Cantik banget, pacar gue kalah pesonanya," "Nah kalo clubnya ada cewek cantik kek begini ya gue betah lah," "Udah punya cowok belum si? Sabi lah gue gebet," "Gue silahkan aja si kalo lo bisa naklukin hati dia, si Athala aja gagal," "Weh beneran Tha?" "Bodo amat anjir berisik lo!" Salsha dan Sherren menghampiri Aurel yang masih merapikan sedikit jaket hitamnya, warna pakaian hitam gadis itu terlalu kontras dengan kulitnya yang sangat putih. "Queen, akhirnya lo dateng juga anjir," pekik Salsha heboh yang dibalas decakan Aurel, "Berisik woi, kek ga pernah ketemu Queen aja lo," seru Sherren. Salsha hanya mencibir, "Serah gue lah, eh Queen ayo ditungguin ama yang lain tuh. Athala ama Rakha juga udah dateng nungguin lo sekalian ada member baru yang masuk club kita," cerocos Salsha. Aurel mengangguk, lalu berjalan mengikuti kedua sahabatnya. "Nah ini nih baru dateng, kita nungguinnya dari zaman embrio tau kaga," celetuk Athala setelah melihat Aurel datang. "Lah emang ada zaman embrio?" Tanya Sherren heran, "Ampun deh, malah dilanjutin," gumam Salsha menepuk jidatnya. Aurel duduk di sebelah Rakha, laki-laki itu mengusap kepalanya dengan pelan sambil terkekeh dan Aurel membiarkannya saja. Toh, Rakha memang sudah dianggap dia seperti saudara laki-lakinya sendiri begitu pun sebaliknya. "Njirr patah hati gue liatnya," gumam Athala mengusap dadanya sambil melihat kearah lain. "Btw, mana katanya lo mau ngenalin sepupu lo sekalian mau masuk ke club disini?" tanya Sherren menatap Athala, "Tadi dia katanya pengen ke toilet," jawab Athala. Sherren mengangguk lalu mencomot kentang goreng yang sempat dibeli Salsha saat datang kemari, "Audy ga ikut Sal?" tanya Rakha memperhatikan Salsha yang sibuk dengan ponsel miliknya. Salsha menggeleng lalu menaruh ponselnya, tadi dia sempat mencari sesuatu melalui ponselnya ah lebih tepatnya dia memesan makanan untuk dimakan bersama nanti.  "Katanya bokap dia baru pulang, jadi dia mau jemput di bandara sama nyokapnya dia," jawab Salsha, "Eh Queen, lo malem ini duel?" tanya Salsha.  Aurel mengangguk, dia malam ini akan melawan musuhnya. Yah, dia laki-laki yang dari dulu memang tidak menyukai Aurel, entah ada alasan apa tapi Aurel tidak mau mencari tau. Dia lebih memilih menyaksikan sampai mana laki-laki itu membencinya. "Lo masih balapan?" tanya Rakha menatap lembut gadis kesayangannya itu, Aurel hanya mengangguk sebagai balasan. "Kan udah gue bilang, berhenti ikut gitu-gituan entar lo kenapa-kenapa gimana? Gue khawatir," ucap Rakha. "Halah lebay lo anjir!" celetuk Athala panas, "Tau nih, kek Queen baru kemarin aja ikut beginian, bagi dia mah udah biasa si," sahut Salsha. Rakha hanya melirik sinis kedua makhluk menyebalkan di depannya. Sembari menunggu musuh Aurel datang, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol ringan membahas hal-hal yang tidak terlalu penting. "Sorry, tadi gue ke toilet bentar,"  Suara berat seseorang mengalihkan atensi mata Aurel lalu dia sempat terpaku sejenak saat melihat laki-laki yang sempat dia temui di sekolah tadi. Seseorang yang mengembalikan kertas berisi agenda acara kegiatan OSIS lalu mengajaknya berkenalan dan ya menurutnya sok akrab juga. "Nah ini nih sepupu gue, namanya Angkasa," ucap Athala memperkenalkan sepupunya kepada teman-temannya. Mata Angkasa lebih memilih melihat Aurel yang juga menatapnya, "Lo ngapain?" tanya Angkasa yang melihat Aurel berkumpul di tengah mereka. "Lah lo berdua udah saling kenal?" tanya Sherren heran. "Iya," "Gak," Aurel dan Angkasa menjawab bersamaan lalu saling melirik satu sama lain, Aurel hanya mendengus karena melihat laki-laki sok akrab itu lagi. Entah kenapa Aurel tidak suka saja ada Angkasa di sekitarnya. "Yang mana yang bener anjir?!" ucap Athala, "Gue sempet ketemu dia pas jalan-jalan di sekolahnya dia," jawab Angkasa menjelaskan. "Pantes gue cari ngilang, ternyata malah tour dia," gerutu Athala kesal, "Lo juga sempet ngilang waktu itu," sahut Angkasa dengan wajah datarnya. "Ya itu lo kelamaan anjir, makanya gue cari angin dulu," alibi Athala tidak mau mengalah, Angkasa hanya mengangkat bahunya acuh. Tidak peduli dengan sepupunya itu. "Lo tinggal dimana Sa? siapa tau kita-kita bisa lah join ke rumah lo gitu," celetuk Salsha dengan cengirannya, "Apaan dah baru juga kenal udah ke rumah aja, gatel amat jadi cewek" ucap Sherren menjitak kepala sahabatnya itu. Salsha hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal karena apa yang salah? Toh pasti nanti Angkasa juga bakal masuk ke dalam lingkaran pertemanan mereka. Salsha yakin! "Apa salahnya si nanya doang? Kan gue cuma basa-basi siapa tau kalo misalnya gue keujanan deket rumah dia bisa numpang neduh gitu," balas Salsha. "Alasan aja anjir," sahut Rakha. "Dia serumah ama gue," jawab Athala memakan kacang kulitnya, "Ortu dia masih di Spanyol ngurusin sisa bisnis gitu biasa," lanjutnya. "Ah gitu, jadi lo berdua juga satu sekolah gitu?" tanya Salsha lagi, "Iye," balas Athala. "Daritadi si Athala mulu yang jawab, Angkasa kek sekali-kali jawab," ucap Sherren melihat Angkasa hanya diam mendengarkan. "Apa?" tanya Angkasa. "Queen lawan lo udah dateng," lapor laki-laki memakai jaket denim dan terlihat sangat tampan. "Eh serius?" tanya Rakha bangkit dari kursinya diikuti yang lain. "Iya, dia udah cari-cari lo," Aurel berjalan meninggalkan yang lainnya menemui musuhnya, sudah kesekian kalinya laki-laki itu mengajaknya untuk balapan dan berujung kalah sendiri. Aurel menghentikan langkahnya saat melihat seseorang berdiri tak jauh dari dirinya dengan senyuman miringnya. "Rama," desis Aurel tajam namun dia dapat mengatur ekspresinya agar terlihat datar dan biasa saja. "Wah ketuanya udah dateng dan wah makin cantik aja, queen," Rama menatapnya dengan merendahkah. "So?" sahut Aurel. Salsha dan yang lainnya segera menghampiri Aurel yang sudah berdiri di hadapan Rama. "Lah si t*i lawannya, gue kira siapa," celetuk Athala dengan polosnya, seolah-olah perkataannya tidak menyinggung sama sekali. "Gue kira orang baru musuhnya, ternyata pecundang lagi yang ngelawan Queen gue," ucap Rakha menambahi membuat Rama mengepalkan tangannya dengan kuat. "Bacot lo berdua!" desis Rama tajam. "Ye suka-suka lah, mulut kita ini kenapa jadi lo yang ngatur. Kalo mulut gue maunya ngomong kayak gitu emang kenapa? Salah gitu? Ya ga lah, Babang Athala mana pernah salah," ucap Athala sambil memperbaiki rambutnya membuat Angkasa bergidik ngeri. Sedangkan Salsha sudah menginjak kaki Athala dengan kuat membuat laki-laki itu memekik nyaring. "Athala bacot amat dah malam ini," ucap Sherren kesal, "Tau nih, habis makan apa si ni anak?" sahut Salsha. Aurel menghela nafas, "Sekarang," ucapnya lalu berjalan menuju kearah motor yang sudah disediakan. "Hati-hati Queen!" seru Sherren. "Mereka balapan?" tanya Angkasa ke Athala yang berada di sebelahnya. "Kaga, mereka mau nikahan!" balas Athala kesal lalu pergi. Angkasa hanya mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Athala menjawabnya dengan sinis padahal dia hanya bertanya. Mata Angkasa kembali melirik kearah gadis yang sudah bersiap dengan motornya, dirinya cukup terkejut bahwa Ketua OSIS Bintara Jaya itu mampu membawa motor besar dan ikut dalam arena balapan seperti ini. Walaupun balapan ini bukan balapan liar namun Angkasa merasa asing saja, dia sangat asing jika ada gadis yang ikut hal seperti ini. "Woi Sa, sini! ngapain lo berdiri disana?" teriak Salsha dari jauh menyadarkan Angkasa yang melamun dengan pikirannya yang kemana-mana. Aurel memasangkan helmnya, menghidupkan mesin motornya. Sudut matanya dapat melihat Rama yang juga sudah siap dengan motornya. Ketika bendera dijatuhkan, kedua motor itu melaju dengan kencangnya bahkan diiringi dengan sorakan ramai. "Gue yakin pasti si Queen menang lagi," "Lah ini pertandingan kesekian antara Rama ama si Queen, dan berulang kali juga si Rama kalah tapi masih mau nantangin Queen," "Serius lo? berarti dia hebat banget dah," "Makanya lo gabung sama kita dari lama dong, ga tau kan lo," "Lah gue kan ga tau, dia di sekolah beda sama yang gue lihat sekarang," "Gila gue baru pertama kali liat cewek ikut balapan motor gede kayak gini," "Queen bawa motor tambah cakep ye," "Ini nih bukan cewek menye-menye, suka gue gayanya," "Pantes lah kalo dia direbutin anak sekolah dia ama sekolah lain bahkan anak club sini, orang pesonanya keren kayak gitu. Siapa berani nolak ," "Cocok lah jadi ketua walaupun cewek," "Queen tambah sangar ye makin hari," "Emak gue mau kaga ye calon mantunya kek Queen anak motor," "Ngehalu aja lo anjir," "Ye suka-suka gue lah! Emak gue mana nolak kalo cakep kek gitu, baikin keturunan," "Pertanyaannya emang Queen mau ama titisan dajjal kayak lo!" "Anjir kaga ada akhlak!" "Berisik bangke, itu tuh perhatiin!" Salsha menggigit jarinya menunggu kedatangan sahabatnya, selalu jika dia menemani Queen balapan seperti ini ada rasa khawatir dan gelisah. Takut jika Queen dicurangi lalu membuat gadis itu terluka. Seperti beberapa tahun yang lalu. Queen dicurangi saat melawan anak motor dari sekolah Taruna Bakti, karena merasa tidak terima kekalahan mereka jadi diadakan balapan kedua dan Ketua motor itu bermain curang menyebabkan Queen jatuh terpelanting dari motornya hingga harus dirawat di rumah sakit selama 2 minggu dan membuat kaki Queen sempat cidera parah. Angkasa sendiri hanya memperhatikan dan sedikit mendengar pembicaraan orang sekitarnya, dapat disimpulkan bahwa ketua dari club motor disini adalah Queen, teman sepupunya sendiri. Cukup terkejut saat mengetahui ketuanya ada seorang gadis, dan diakui sangat hebat disini. Membuat Angkasa penasaran dan ingin menantang Queen suatu hari nanti, berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD