Kynar terbangun di tengah malam. Dia melenguh kesakitan, luka di kakinya nyut-nyutan. Memang seperti ini jika malam menjelang, bahkan ketika masih di rumah kosong dia meringis dalam sunyi di tengah gelap gulita nya malam hari. Air mata turun membasahi pipinya, setiap malam menjelang rasa sakit di tubuhnya akan terasa namun ketika hari mulai terang semua seakan sirna.
Ringisan Kynar masih terdengar lirih, dengan susah payah dia bangun untuk duduk dan menyandar, lalu tangannya mulai mengurut-urut kakinya agar sedikit lebih baik. Namun, tentu saja semua itu sia-sia. Luka yang ditimbulkan akibat eratnya rantai yang mengekang kakinya selama ini membuat luka yang sangat dalam. Panas dingin dia sudah biasa dia rasakan akibat dari luka itu.
Kynar terus meringis, sesekali dia terisak -isak kecil karena tidak kuat menahan sakitnya luka. Richo terbangun, karena mendengar suara orang menangis. Dia keluar dari dalam kamar lalu menyalakan saklar lampu.
Seketika cahaya lampu terang benderang menyinari Kynar yang terduduk sambil menangis.
Richo terlihat khawatir melihat Kynar seperti itu, dia mendekat lalu bertanya padanya.
"Kenapa? Apa yang sakit?" Suara serak khas bangun tidurnya membuat Kynar sedikit berjengkit kaget.
Dia menoleh dengan cepat. Lalu kemudian menagis lagi.
Melihat Kynar seperti tak akan membalas pertanyaan nya. Dia berinisiatif untuk memijit betis Kynar agar denyutan kesakitan itu segera berhenti.
Kynar mendesis-desis menahan sakit. Namun, lama kelamaan dia tertidur sambil menyender pada tembok di belakangnya.
Richo menatap iba pada Kynar, dia tidak bisa membayangkan betapa beratnya hidup Kynar ketika masih di rumah kosong itu. Richo menebak sepertinya kejadian ini sudah sering dirasakannya. Karena melihat kantung mata Kynar yang hitam sekali. Mungkin dia selalu bergadang saking sakitnya luka di kakinya.
Tak tega melihat Kynar yang seperti itu, dia membopong Kynar masuk ke dalam dan membaringkan dia di kasurnya. Tak apalah sekarang dia tidurnya di karpet tipis ruang tamu.
Richo masih menjaga Kynar yang terlelap, sesekali Kynar mengigau seperti orang ketakutan lalu peluh membanjiri keningnya.
Richo menjadi takut melihat Kynar yang seperti ini, mau membangunkannya tapi dia kasihan Kynar pasti cape. Akhirnya dia urungkan niat itu, dia mengambil handuk kecil untuk mengusap keringat yang ada di kening Kynar. Tangannya masih memijat betis Kynar agar sakitnya mereda.
Jam 4 pagi Richo tertidur karena rasa kantuk yang teramat sangat. Dia tertidur sambil terduduk di lantai, tangannya masih berada di betis Kynar.
Suara ayam tetangga membangunkan Kynar, dia mengerjap melihat keadaan sekitar. Seketika dia terkejut ketika melihat kasur yang dia tiduri. Apalagi melihat ada tangan yang memegang kakinya, dengan takut-takut Kynar memindahkan tangan Richo dari kakinya hingga terkulai ke bawah.
Gerakan itu membuat Richo terbangun, dia menguap sebentar lalu merenggangkan tubuhnya yang pegal. Setelah beberapa detik dia baru sadar, Kynar tidur di kamarnya yang begitu privasi.
Padahal sejak dulu teman-teman minimarket nya tidak ada yang berani masuk ke dalam kamarnya karena selalu dilarang oleh Richo. Sekarang dengan mudahnya dia membawa Kynar ke dalam kamarnya. Entah apa yang dipikirkan nya semalam, hingga dia melanggar privasinya sendiri.
Richo melihat Kynar yang terdiam sambil menatapnya. Richo sedikit aneh melihat Kynar, tadi malam dia seakan tersiksa karena luka di kakinya tapi sekarang Richo melihat Kynar dalam keadaan baik-baik saja.
"Hhh, gadis aneh,"
Richo bangkit dari duduknya lalu kembali merenggangkan tubuhnya kembali. Pegal sekali rasanya harus tidur dalam posisi seperti itu. Namun, apa boleh buat ini demi rasa kemanusiaan yang terpatri dalam dadanya.
Richo mencuci matanya dan menggosok giginya. Setelah itu, dia menyalakan kompor gas untuk mendidihkan air. Tangannya begitu lihai melakukan itu semua karena dia sudah terbiasa sejak kecil. Dia mengambil rempah-rempah untuk membuat nasi goreng kembali. Namun, kali ini tidak pakai telor karena dia harus menghemat tanggal gajian masih lama jangan sampai persediaan makanannya habis sebelum waktunya.
Ketika air mendidih dia membuat s**u untuk Kynar dan kopi untuk dirinya. Dia memperlakukan Kynar seperti adiknya sendiri, karena dia pun memiliki adik perempuan. Dulu dia pernah tinggal di kontrakannya untuk sementara waktu lalu akhirnya pulang kampung lagi untuk mengurus ibunya yang sudah sakit-sakitan.
Makanan selesai, sebelum dia mengantarkannya kepada Kynar. Dia kembali melihat keadaan Kynar terlebih dahulu. Tampaknya gadis itu sedang melamun, matanya terlihat kosong menatap plafon kamar. Richo masuk untuk membuyarkan lamunannya gak baik pagi-pagi melamun, begitu batin Richo.
Richo menepuk kepala Kynar, seketika hal itu membuat Kynar terkejut bukan main. Dia memberengut tak suka lalu membuang muka. Richo mengangkat satu alisnya, karena heran dengan ekspresi Kynar. Tanpa perduli dia duduk di sisi ranjang yang sama dengan Kynar. Melihat itu Kynar sedikit menggerakkan tubuhnya untuk menghindari Richo, namun tidak bisa kakinya sama sekali tidak dapat digerakan.
"Kenapa?" Richo bertanya dengan ekspresi aneh, sungguh sangat tidak peka sama sekali.
Sadar perkataannya tidak akan terjawab, Richo berniat akan membopong Kynar untuk membawanya ke kamar mandi agar dia bisa membersihkan dirinya sendiri.
"Mau apa?" Tanya Kynar pelan, kepalanya terus tertunduk dalam. Sekarang wajahnya tidak terhalangi lagi oleh rambut panjangnya itu. Rambutnya pun sekarang sudah harum.
Richo kaget mendengar suara Kynar. Dia kira Kynar tidak akan protes atas segala tindakan nya.
"Aku mau membawamu ke kamar mandi, nanti disana kamu bisa membuang hajatmu lalu kamu bersihkan dirimu sendiri,"
"Kenapa?"
"Ck, nanti tubuhmu akan bau lagi kalau tidak sering dibersihkan. Memangnya kamu tidak mau pipis atau BAB?"
Kynar mengangguk.
"Bagus, mulai sekarang biasakan jangan pipis atau BAB di tempat,"
Kynar kembali mengangguk.
Richo kembali membopong Kynar, dia mendudukkan Kynar diatas wc duduk. Kynar terlihat bingung, namun rasa ingin buang air kecil membuat dia ingin segera mengeluarkan nya.
"Kamu mau pipis?"
Kynar mengangguk cepat.
"Buka dulu celananya, nanti basah,"
Susah payah Kynar membuka celananya sendiri agar tidak basah seperti perkataan Richo. Richo menyingkir berdiri di balik tembok ketika Kynar sudah membuka celananya.
"Udah belum?"
Kynar mengangguk lagi, Richo tidak tahu kalau Kynar sudah menjawab pertanyaannya. Dia kembali bertanya.
"Udah belum? Jawab aku!"
"Udah," Cicitnya kesal.
"Sekarang bersihkan tubuhmu sendiri bajunya dibuka. Pakai handuk yang ada disitu untuk membersihkannya,"
"Awas pelan-pelan jangan sampai kena kakimu sendiri,"
Kynar mendadak bingung dengan perkataan Richo yang terlalu panjang. Dia tidak memperdulikan ucapan Richo, Kynar memainkan air yang muncul dari selang. Dia menyemprotkan ke ruangan kamar kecil itu.
Richo sedikit ragu kynar bisa melakukannya sendiri. Tapi dia mendengar suara air yang mengalir, bisa jadi Kynar mengerti apa yang diucapkannya. Namun, suara air itu tidak berhenti-henti bahkan cipratan airnya sampai keluar kamar mandi. Segera Richo melihat apa yang terjadi di dalam. Wajahnya shock melihat apa yang telah dilakukan Kynar, hampir saja dia percaya pada Kynar.
Richo segera merebut selang dari tangan Kynar, dia menggenggam erat selang itu ketika Richo akan merebutnya. Jadilah air tersiram kemana-mana.
"Buka baju kamu!"
"Buat apa?"
"Mandi, ayo. Cepat!"
Kynar menunduk lagi ketika melihat mata tajam Richo sedang menatapnya. Dengan gerakan lambat dia membuka bajunya. Richo berdiri sambil menutup matanya, tangannya masih memegang selang air. Dia mulai menyirami Kynar dengan pelan, dan menginterupsi pergerakan Kynar.
"Sekarang pakai handuk yang ada disisi kamu, lalu usapkan!"
Kynar mencari-cari keberadaan handuk yang dimaksud Richo. Tapi dia tidak menemukannya sama sekali, seolah tahu jika Kynar tidak akan tahu apa itu handuk, dengan gerakan meraba dinding Richo mengambil handuk yang tergantung disisi Kynar.
"Nih, pakai ini!"
Kynar mengambilnya lalu mulai mengusapkan pada bagian tubuhnya. Kynar bersenandung kecil ketika sedang mengusap-usap tubuhnya dengan handuk. Richo mendengus, bisa-bisanya dia bernyanyi di saat yang seperti ini.
"Udah usap kaki belum?"
"Belum,"
"Usap juga kaki kamu, awas jangan sampai kena luka!"
Kynar mengangguk dengan semangat, kali ini dia tidak takut dia malah menikmatinya ketika membersihkan dirinya sendiri. Suara senandung kecil masih dapat di dengar oleh Richo.
Kemudian Richo menutup keran air ketika semua sudah selesai.
"Udah 'kan?"
"Udah,"
"Bagus! Pakai baju dan celana ini!"
Kynar kembali mengambil apa yang diberikan Richo lalu memakainya walau sedikit susah. Richo mengintip dari balik celah jarinya, ternyata Kynar sudah selesai dia langsung membuka telapak tangan yang menutupi matanya.
"Kerja bagus!"
Kynar mengangguk, lalu Richo membopong Kynar ke ruang tamu kecilnya. Dia menundukan Kynar di karpet dengan sangat hati-hati sekali.
Setelah Kynar duduk dengan kaki selonjoran, dia pergi ke dapur untuk memberinya sarapan.
Kynar menerimanya dengan senang hati, dia meneguk s**u dalam sekali tegukan untung saja s**u itu sudah hangat.
Tak berlangsung lama, dia juga langsung memakan nasi goreng nya.
'Mungkin dia sangat lapar sekali,' batin Richo, ktika melihat cara makan nya Kynar.
Dalam sekejap makanan itu telah habis, seperti biasa Richo tertinggal jauh kalau untuk urusan jauh.
Waktu menunjukan pukul enam tiga puluh. Hari ini dia libur dan di rolling dengan teman yang lain. Sangat kebetulan sekali, rencananya dia akan membawa Kynar berobat ke rumah sakit agar luka di kakinya segera sembuh. Dia tidak tega kalau harus melihat Kynar setiap malam menahan rasa sakit di kakinya.
Selesai makan, Richo kembali mengambil kotak p3k. Setelah membuka perban kemarin dia membersihkan luka itu kembali, tampaknya kaki Kynar membengkak karena terdapat nanah di setiap luka di kakinya.
Richo meringis ngilu ketika membersihkan itu.
"Pantas saja semalam dia menangis," Gumamnya kecil.
Setelah itu dia kembali memberinya obat merah, karena hanya itu yang dia tahu. Nanti, setelah hari sudah terang dia akan segera membawa Kynar ke rumah sakit terdekat disini. Selesai mengobati, Richo menutup luka itu dengan perban kembali agar terhindar dari lalat nakal yang suka hinggap di luka seseorang.
Dia melihat Kynar yang sedang asyik bermain dengan gorden jendelanya, padahal itu gorden jendela biasa tapi seolah luar biasa ketika Kynar sibuk berbain dengannya.
Richo melangkah ke dapur untuk membereskan piring serta gelas belas mereka makan, lalu mulai membersihkan rumah kontrakannya.
Dalam hati dia terus bersyukur bisa menolong seseorang dalam hidupnya, kalau kemarin tidak dia tolong mungkin sekarang Kynar sudah menjadi bangkai yang telah terbakar. Dan akan menimbulkan penyesalan yang luar biasa dalam benak Richo karena tidak berusaha menolongnya.
'Oh ya, apa kabar rumah itu?' batin Richo bertanya-tanya. Tapi dia sudah memutuskan untuk hari ini dan seterusnya, dia tidak akan melewati jalan sepi itu lagi agar tidak menimbulkan kecurigaan pada orang-orang yang telah berbuat jahat kepada Kynar.
****
Jalan lupa tinggalkan jejak, gaesss:)
Makasihh