* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Hari ketiga MOS sudah datang tiba-tiba. Hari terakhir para siswa baru untuk menjalankan perannya sebagai badut para OSIS. Hari pembuka sebelum mereka menikmati kesenangan di masa-masa SMA. Siapa yang tidak senang dan semangat? Jawabannya tidak ada. Karena jujur, Deril pun merasakan hal yang sama. Pagi tadi, usai menjalani apel pagi secara singkat—oke, mungkin apelnya masih membutuhkan waktu satu jam sebelum akhirnya ditutup—apel yang isinya hanya pemberitahuan dan permintaan maaf para OSIS kepada segenap peserta MOS karena telah membuat mereka banyak yang menangis dan banyak memarahi. Klasik. MOS selalu seperti ini aturannya. Kemarin, di hari kedua

