* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Hapean mulu lo, babi.” Seiring dengan kalimat itu keluar dari bibir Agas, tendangan juga ia rasakan di betisnya. Deril mengumpat lirih—berusaha meredam suara karena di depan, ada guru yang sedang menjelaskan materi dengan serius. “Sakit, fak.” Agas tak merespon kemudian. Lagian cowok itu juga cuman iseng aja negur Deril. Orang dianya sendiri juga lagi menempelkan pipi di atas meja, tiduran dengan tenang Dia gak takut ketahuan—takut, sih—makanya dia nyuruh Andi di depan bangkunya untuk membantu Agas menyembunyikan kepala. “Biar punggung lo ada gunanya dikit,” gitu kata Agas tadi. Deril menunduk, menekan salah satu aplikasi tukar pesan yang tadi

