Si Pengganggu Belum Pulang

1930 Words
“Aku...” Kalimat Nando masih menggantung. “Apa sih, Do. Bilang yang jelas.” “Aku mau tidur setelah Jum’atan. Kau tadi pagi ganggu tidurku, jangan lagi ganggu tidur siangku.” Akhirnya Nando memiliki alasan yang masuk akal. Dia pikir Ipung akan mengiyakan begitu saja. Dia kecele. “Kau tidurlah. Aku ndak akan ganggu tidurmu bah. Aku tiduran dibawah aja, kayak biasanya.” “Tapi...” “Tapi apa lagi? Kenapa kau makin cerewet, Do. Biasanya juga aku kesini tanpa ngabari. Tidur disini makan disini.” Nando terdiam dan itu terjadi sepanjang perjalanan. Tapi itu yang terlihat, kenyataannya otaknya tak pernah diam. Dia terus berpikir bagaimana cara mengusir Ipung. Sesampainya di rumah Nando, mereka bergegas bersiap mengingat sebentar lagi jam dua belas siang. “Kalian ndak makan dulu?” tanya bu Susi di ambang pintu kamar Nando. “Nanti aja, Mak. Pulang dari sholat baru kami makan,” jawab Nando seraya menyerahkan sajadah pada Ipung. “Kau yang pegang ini. Biar aku yang bawa motor.” “Oke.” Dua orang lelaki berjalan beriringan. Mengenakan baju koko dengan warna yang sama tapi dengan model yang berbeda. Tak lupa menggunakan penutup kepala yaitu kopiah. “Cil,” ujarnya lalu mencium tangan Susi yang sedang duduk santai di ruang tengah. Nando juga melakukan hal yang sama. “Kami jalan dulu ya, Mak.” “Hati-hati!” ucap Susi seraya tersenyum. Beberapa saat setelah mereka meninggalkan rumah, Nindi menghampiri ibunya. “Abang sudah pergi sholat Jum’at, Mak?” “Sudah,” jawab Susi seraya mematikan televisi. “Kau sudah makan?” “Kok dimatiin, Mak,” ujar Nindi tanpa menjawab pertanyaan ibunya. “Kan mau ngobrol sama anak mamak yang manis ini.” Susi mencubit pangkal hidung Nindi. “Bagaimana sekolahnya tadi?” Nindi tersenyum. “Kalau Jum’at gini ya enak, Mak. Pagi senam, istirahat lagi. Belajar bentar, istirahat lagi. Belajar bentar, eh pulang deh. Hehe.” “Dasar!!” “Tapi besok pulang jam dua kayak biasa. Mana jam pertama itu Matematika, pusing aku Mak, liat rumus pagi-pagi.” Susi tertawa mendengar celotehan anaknya. “Aku heran loh Mak, kenapa ada orang yang suka Matematika. Ada lombanya pula. Entah otak mereka terbuat dari apa sampai sebetah itu ngeliat angka dan rumus.” “Mungkin orang yang suka belajar Matematika bakal bilang, terbuat dari apa sih otak mereka sampai ngeliat angka aja sudah pusing gitu.” Susi terkekeh. “Ah, mamak ni. Males ah.” Susi tersenyum menatap putrinya yang manyun. “Gimana kalau Minggu kita jalan-jalan, mau?” “Mau mau.” Seketika wajah Nindi berubah cerah. “Kita kemana, Mak?” “Ke Rumah Adat Tidung, gimana? Atau ke pantai aja?” “Hm, kemana ya bagusnya?” Nindi memejamkan mata sembari berpikir. “Tanya abang aja deh, Mak. Asal bisa jalan-jalan, aku ikut aja.” “Iyalah pale, nanti abang pulang kita tanya.” Dan, tentu saja Nindi langsung menyerang Nando dengan berbagai pertanyaan saat Nando baru saja mengucapkan salam. “Bang, lusa kita jalan-jalan, mau? Bagusnya kemana ya, Bang? Pantai atau ke Rumah Adat Tidung? Atau abang pengen kemana gitu? Aku sih ngikut aja, Bang. Asal bisa jalan-jalan, capek belajar mulu. Hehe.” Mereka geleng kepala mendengar pertanyaan Nindi yang membabi buta. “Astaga Nindii, abang baru pulang, sudah ditanyain macem-macem. Jawab dulu kah salamnya abangmu.” Nindi mengerucutkan bibirnya. “Iya Mak, wa’alaikumsalam.” Nando dan Ipung terkekeh. “Abang makan dulu ya, Dek. Biar punya tenaga buat berpikir.” “Alah, otakmu itu isinya si pulpen aja. Hahaha.” Nando melotot. “Hust, diam.” Ipung terkekeh. Lalu mengikuti Nando menuju kamar. Setelah mengganti baju, mereka makan dengan lauk ikan goreng dan sayur bening. Tak lupa sambal tomat yang menggugah selera. “Kau mau kemana, Do? Bilang mau tidur,” tanya Ipung saat melihat Nando berjalan melewati kamar, bukannya masuk ke dalam kamar. “Mau ngobrol dulu sama Nindi diluar. Mau ikut?” tawar Nando. “Ndak ah, mending aku sms-an sama Sita. Hehe.” Ipung masuk ke dalam kamar. “Dasar!” Di ruang tengah, Nindi dan ibunya masih betah berbicara. Sesekali melirik ke televisi, terlihat sekali kalau mereka tak benar-benar menonton. Lebih tepatnya, televisi yang menonton mereka. Hihi. “Jadi mau kemana?” tanya begitu sampai di ruang tamu. “Abang mau kemana?” “Eh, si cantik malah nanya balik.” Nindi tersipu. “Abang bah, aku tau kalau aku cantik. Ndak perlu diomongin juga kali. Hehe.” Susi tersenyum melihat interaksi kedua anaknya. Mereka diam, terlihat sedang berpikir. “Gimana kalau kita ke Rumah Adat Tidung? Biar kalian lebih mengenal leluhur,” tawar Susi. “Tapi aku pengen berenang bah, Mak,” ujar Nindi. “Jadi?” Nando melayangkan pertanyaan kepada dua perempuan di hadapannya. “Suit aja, gimana?” “Ya sudah, ke pantai aja lah. Kan Nindi pengen berenang. Kita kan sudah sering juga ke Rumah Adat.” “Yes yes yes, berenang.” Nindi bersorak kegirangan. “Boleh pake baju renang kah, Mak?” “Jangan Nindi, bisa gosong kau pake baju begitu di pantai.” “Aiiih, iyalah Mak.” Nindi menuruti perkataan ibunya. “Terus kita bawa bekal atau beli aja disana?” “Kalau Nindi mau bantu mamak masak, kita bawa bekal. Gimana?” tanya Susi pada anak perempuannya. “Ndak yakin aku, Mak,” ujar Nando. “Paling dia tidur, bangunnya pas sudah mau jalan.” “Abang kok tau?” Nindi memasang wajah takjub. “Astaga, abang memang pengertian. Sayangnya belum punya pacar. Hahahaha.” Nando menjitak kepala adiknya. “Iiih abang, sakit tau.” Nindi mengaduh kesakitan. “Maaaak, abang.” Dia menampilkan wajah memelas. “Sudah ah, mamak mau cuci piring baru tidur.” Susi beranjak. Nindi juga berdiri mengikuti ibunya. “Aku bantu, Mak.” “Ada maunya tuh, Mak. Itulah mau bantu,” ucap Nando setengah berteriak lalu mematikan  televisi menggunakan remot kontrol. Kemudian beranjak pula tapi bukan menuju dapur. Namun menuju kamar, ingin beristirahat. Yah, meski tak benar-benar beristirahat karena otaknya terus berpikir bagaimana cara mengusir makhluk tak diundang yang sedang senyam senyum sendiri di kamarnya. Makhluk yang sejak Nando memasuki kamar hingga satu jam kemudian, masih betah berbaring dengan tangan menggenggam handphone. “Jangan senyum terus, nanti bisa gila. Kau ndak capek sms-an terus?” “Kau ndak capek liat aku sms-an?” timpal Ipung tapi matanya masih tertuju pada benda pipih di hadapannya. “Bagus kau add si pulpen baru ajak dia kenalan.” “Namanya Yasmin Putri Septiananda,” ujar Nando. “Eh tunggu...”   Yasmin Putri Septiananda Nando Saputra Putri Putra Nanda Nando Astaga, nama kami aja mirip. Kayaknya memang jodoh. Hihi   Ipung melirik pada Nando karena menunggu lanjutan perkataannya. Tapi dia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang. “Merinding aku liat kau senyum. Ada hantu kayaknya di plavonmu itu?” Nando tak merespon. Dia masih tersenyum, larut dalam pikirannya sendiri.   Jangan-jangan orangtua kami saling kenal, sahabatan gitu. Mereka janjian hamil dan punya anak supaya bisa dijodohkan. Makanya nama kami dimirip-miripkan. Astaga, aku musti tanya ke mamak nih siapa sahabatnya pas muda dulu. Putri untuk Putra Nanda untuk Nando Kok bisa pas gitu ya? Duh, aku jadi malu. Hehe   Sementara Ipung sejak tadi memanggil nama Nando. Tapi tak ada jawaban. Si pemilik nama sedang berselancar di dalam pikirannya. Larut dalam bayang seorang Yasmin. Ipung melempar bantal ke arah Nando. “Do, sadar!” “Duh!” Bantal terebut tepat mengenai kepala Nando dan membuat Nando tersadar. “Kau gila ya?” “Kau yang gila. Daritadi kupanggil tapi ndak nyahut. Kau kayak orang kesambet setan tau.” “Memang!” “Astaga, ni anak.” “Setannya cantik tapi. Hahahaha.” Ipung melongo melihat Nando yang sedang tertawa. “Kesambet memang nih anak. Merinding aku,” ucap Ipung dengan suara rendah. “Bagus aku sms-an sama yayang Sita. Hehe.” Ipung melanjutkan aktifitasnya sementara Nando meraih handpone di sisi kasur. Mulai mengetik sebuah nama di pencarian. Yasmin Putri Septiananda. Dan seperti biasa, dia seolah tersihir dengan wajah di hadapannya. Seorang gadis berseragam sekolah sedang tersenyum ke arah kamera. “Jangan tatap aku kayak gitu dong.” Waktu berlalu, Nando masih setia dengan setiap status dan foto dari si pemilik akun. Sedangkan Ipung sudah terlelap dengan tangan masih menggenggam handphone. Hingga adzan Ashar berkumandang. Seketika Nando terlonjak. “Astagaaa...” Handphone Nando terlepas dari tangan. “Ndak jadi lagi aku ke borneo. Mana ini hari Jum’at. Otomatis tunggu hari Senin lagi baru bisa daftar.” Nando melirik ke arah Ipung yang sedang tertidur pulas. “Gara-gara dia ni.” Dengan langkah gontai, Nando berjalan keluar kamar menuju dapur. Membuka kulkas lalu menuang segelas air dingin ke dalam gelas. Kemudian meminumnya dalam sekali tegukan hingga tandas. “Kacau rencanaku,” ujar Nando pada dirinya sendiri. “Aku jadi lapar.” Membuka kembali kulkas yang baru saja tertutup, sedikit menunduk Nando meneliti isi di dalam benda yang memiliki tinggi satu setengah meter tersebut. “Ah, kayaknya ini enak.” Memilih minuman kaleng berwarna hijau, Nando menuju ruang keluarga. Menyalakan televisi kemudian meletakkan semua toples ke atas meja, yang sebelumnya berada di bawah. “Aaah, Milo memang yang terbaik di saat ngemil begini.” Beberapa saat kemudian Susi datang. “Ipung sudah pulang?” “Belum, Mak,” jawab Nando seraya memasukkan kacang ke dalam mulutnya. “Masih tidur.” “Ooh, jadi abang ndak jadi ke kampus lah ceritanya ni?” “Yah, ndak lah. Diekorin mulu sama tuh anak.” “Abang juga, kenapa ndak jujur aja ke Ipung. Toh dia sepupumu.” Susi meraih toples yang berisi keripik singkong lalu duduk tak jauh dari Nando. “Males ah Mak, entar aku diolokin pula.” “Kan tetap diolok juga nanti. Ndak mungkin selama kuliah kalian ndak ketemu.” “Beda lah, Mak. Kalau aku daftar trus ndak diterima, ngoloknya bakal lebih parah. Jadi, tunggu aku pasti diterima baru aku kasih tau dia.” Susi tersenyum. “Dari kau aja, Bang. Senyamanmu aja lah.” “Mamak memang the best deh pokoknya. Hehe.” “Tapi jangan lupa kenalin ke mamak ya cewek yang kau suka.”   Susi menatap anaknya. “Penasaran mamak bagaimana rupa dari cewek yang kau mimpikan itu.” Dengan senyum sumringah, Nando mengangguk cepat. “Mamak pasti bakal suka juga sama dia. Yakin aku.” Susi menggelengkan kepala. “Seyakin itu?” Meraih beberapa kacang kemudian bersandar pada sofa. “Hm, ajak aja besok ke Amal. Gimana?” Nando melongo dengan mulut sedikit terbuka. “Eh itu...” Bagaimana bisa diajak kalau gak kenal, Mak. Baru juga sekali ketemu. Doakan aja anakmu diterima kuliah biar bisa kenalin ke mamak. Pikir Nando. “Malah bengong. Ya sudah, nanti aja kalau sudah siap baru kenalin ke mamak. Tapi kalian belum pacaran kan?” “Astaga, si mamak. Yah belum lah, aku pasti minta pendapat mamak dulu baru jadian,” ujar Nando seraya memegang tangan ibunya. “Perempuan kesayanganku musti tau dulu bagaimana calon pacarku. Kalau ndak direstui, yah batal pacaran deh.” “Alah, ndak percaya mamak.” “Percaya lah pada anakmu ini, Mak.” Nando tersenyum. “Tapi aku yakin sih mamak bakal suka juga sama dia.” Tak ingin lagi berdebat dengan anaknya. Susi memilih mengiyakan perkataan Nando. “Iya deh, mamak percaya.” Senyum Nando semakin terkembang. Tak lupa dia mencium tangan ibunya. “Apapun yang terjadi, mamak tetap jadi yang nomer satu di hatiku.” Susi menatap manik mata Nando, melihat keseriusan atas kalimat yang baru saja anaknya itu ucapkan. Susi menepuk pundak kanan Nando. “Mamak sayang kau, Nak.” Mereka berpelukan sejenak. “Uang jajanku ditambah ya, Mak,” ujar Nando saat pelukan itu terurai. Mereka tertawa.        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD