Seperti pagi biasanya, seorang laki laki tampan nan perfeksionis mematut dirinya di sebuah cermin besar. Setelan jas tartan abu abu dengan kemeja hitam dengan dasi hitam dasi menjadi pilihannya hari ini.
"What a perfect Man..."begitu yang selalu ia ucapkan setelah selesai berpakaian.
Tak lama kemudian, datanglah sosok anak laki laki berparas tampan yang menghampirinya. Ia juga memakai setelah jas dengan model hampir sama.
"Are you ready, Boy?"tanya pria itu. Anak itu hanya menjawabnya dengan anggukan. Karena ia memang mengalami kebisuan selektif sejak 3 tahun lalu.
Banyu Biru dan Diego itulah dua laki laki tampan beda usia yang selalu bersama kemana mana. Tak ada yang tahu bahwa mereka adalah anak dan keponakan. Karena wajah mereka yang memang hampir mirip. Banyu juga menyebut dirinya Ayah untuk keponakannya itu.
Banyak orang mengira Banyu adalah seorang duda yang diam diam menikah dan bercerai diam diam pula. Hanya orang orang terdekat merekalah yang tahu hal sebenarnya.
Setelah sarapan serta menyiapkan bekal makan siang untuknya dan Diego, mereka berdua pun berangkat bersama. Diego memang belum bersekolah di usianya yang menginjak 7 tahun. Bukan karena enggan menyekolahkan, namun sampai saat ini belum ada sekolah yang sesuai dengan keinginan Dio, panggilan akrab Diego.
Sudah 6 kali Dio pindah sekolah, namun berakhir dengan permintaan sangbkepala sekolah untuk mencarikan sekolah yang cocok untuk Dio. Dio terlalu cerdas diusianya yang masih menginjak 7 tahun.
Hari ini adalah pertemuan penting seluruh pemegang saham Mega Cakrawala Group. Mereka akan membahas akuisisi sebuah perusahaan besar di bidang otomotif yang berada di ambang kebangkrutan karena penyelewengan dana besar besaran yang dilakukan oleh salah satu petingginya.
Banyu adalah sosok yang arogan, dingin, kejam dan tak banyak bicara jika berhadapan dengan orang lain selain keluarganya. Namun berbeda jika ia sedang bersama keluarganya, terutama kedua orang tuanya yang kini menetap di Singapura untuk menjalankan bisnis mereka yang lain. Banyu tetaplah anak laki laki yang manja dan penuh kasih sayang. Ia juga bisa menjadi sosok kebapakan untuk Dio.
"Son..Ayah mau meeting dulu, kamu tunggu di sini bersama Miss Nancy, ingat jangan nakal, dan jangan buat ulah...Kalau kamu bisa pegang janjimu, akan ada hadiah yang menantimu. Promise, Son?"kata Banyu sambil berjongkok di depan sang anak sambil mengangkat jari kelingkingnya.
Dio pun menganggukkan kepala dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Banyu.Ia tersenyum manis menunjukkan gigi putihnya yabg berjajar rapi. Yang membuat Banyu semakin gemas dengan anak itu.
"Nancy, aku tinggal dulu...kalau ada apa apa cepat hubungi aku. Dan ingat jangan biarkan Dio masuk ke ruang IT."pesan Banyu pada sekretarisnya.
"Baik Pak..."kata Nancy sambil membungkukkan badan.
"Dio..ayo kita main main....apa kamu mau es krim?"tanya Nancy.
Dio hanya menggeleng. Nancy mengerutkan dahi, pasalnya ia baru kali ini menjaga Dio, biasanya Dio dibawa keruang rapat oleh ayahnya, namun hari ini ia tak mau ikut ke ruang rapat.
"Dio..tante punya kue apa kamu mau?"tanya Nancy lagi. Namun ia juga menggeleng. Lalu Dio menulis sesuatu di Note Pad nya.
"Aku bukan anak kecil."Dio menunjukkan tulisannya.
"Apa kamu suka jalan jalan?"tanya Nancy lagi. Ia sebenarnya penyayang anak anak, namun saat bersama Dio dia menjadi sedikit canggung. Dio kembali menulis di note pad nya.
"Hanya buang buang waktu. Apa ayahku membayarmu hanya untuk jalan jalan?" tulis Dio.
Nancy hanya menghela nafas membaca tulisan Dio.
"Haissh....anak ini benar benar dewasa sebelum waktunya..."gumam Nancy.
Dio yang sudah tidak tahan basa basi Nancy langsung berlari keluar.
"Eh...Dio...Dio....tunggu tante....jangan lari lari...."teriak Nancu sambil mengejar anak itu. Namun Dio berlari terlalu cepat dan Nancy juga kesulitan berlari menggunakan high heels nya.
Sementara, di ruang rapat, Banyu sedang serius memimpin jalannya rapat pemegang saham itu. Suasana rapat begitu tegang karena ada kesalahan prosedur akuisisi yang dilakukan oleh salah satu pegawainya. Banyu yang sangat perfeksionis tak mau menerima kesalahan sedikitpun.
"Apa apaan ini,Hah?!.apa ini yang dilakukan pegawai senior seperti kalian?Bagaimana bisa kalian melakukan kesalahan seperti ini?BODOHH!!" teriak Banyu sambil melemparkan berkas yang telah ia periksa.
"Dimana otak kalian?!Ini bukan kali pertam kita akuisis, tapi kenapa masih ada kesalahan prosedural! Saya tidak mau tahu, sebelum jam makan siang semua berkas harus sudah siap dengan benar!" ketus Banyu.
"Maafkan kami Pak..kami akan memperbaikinya"kata Salah satu peserta rapat.
"Ck..selalu seperti itu! Kamu, silahkan keluar dari ruangan ini, dan segera perbaiki. Kalau sampai siang nanti belum juga selesai, silahkan angkat kaki dari kantor ini!" kata Banyu.
Rapat yang berjalan sekitar 2 jam tersebut berakhir dengan helaan nafas lega dari semua orang yang mengikutinya.
Tak lama kemudian, ponsel d
"Hah...?bagaimana bisa?kau sudah mencarinya?" kata Banyu panik.
"Saya sudah mencarinya kemana mana tapi saya tak bisa menemukan Dio Pak..."kata Nancy.
"Baiklah....saya akan mencarinya sendiri. Kamu tak usah panik."kata Banyu. Dio memang sudah biasa kkabur jika ditinggal rapat seperti tadi. Namun karena masih pertama kali Nancy menemaninya, gadis yang masih menjadi sekretaris 2 minggu yang lalu itu, sangat panik.
"Haiisshh..kemana lagi anak itu..."Gerutu Banyu.
Dio yang berlari cukup jauh dari kantor mulai bingung. Dia tak tahu dirinya berada sekarang. Ponselnya ketinggalan di ruangan Nancy. Ia hanya membawa Note Pad yang dimasukkannya di tas slempang kecil.
Melihat seorang anak yang sedang kebingungan di tengah taman, Sekar mendekati anak tersebut.
"Hai jagoan....dimana orang tuamu..."tanya Sekar.
Dio yang merasa tak kenal dengan wanita yang menghampirinya sedikit menjauh. Ia lalu mengetikkan sesuatu.
"Aku tak mengenalmu Bibi...!" tulis Dio.