2

1014 Words
"Kamu tidak berbicara?"tanya Sekar. Diego hanya menggelengkan kepala. "Baiklah...kalau begitu Bibi akan menemanimu sampai orang tua mu datang. Mau main bersama?"tanya Sekar. Diego pun mengangguk. Mereka pun bermain kejar kejaran di taman sesekali terdengar.tawa renyah Diego. Mereka berdua yang kelelahan akhirnya merebahkan diri di rumput taman tersebut. "Ehmm...."terdengar deheman dari seseorang. Seketika Diego dan Sekar langsung bangkit ketika melihat seseorang berdiri di atas kepala mereka. "Diego...apa ini yang di lakukan laki laki sejati?"tanya Banyu dengan tatapan tajam. Diego yang takut segera bersembunyi di balik tubuh Sekar dengan kepala sedikit menyembul. "Diego sayang..tak usah takut....apa dia ayahmu?"tanya Sekar dengan nada lembut. Diego pun mengangguk. "Tuan..Saya tadi menemukan anak ini sedang sendirian di sini..maaf sepertinya dia sedang tersesat..."jelas Sekar. Banyu yang seakan sudah biasa dengan tingkah Dio hanya mendengus. "Dia sudah biasa seperti ini..sepertinya dia bosan jika terus terusan ikut di kantor."jawab Banyu. "Sebelumnya apa saya boleh bertanya pada Anda?"tanya Sekar. "Hm...silahkan..."jawab Banyu. "Apa Diego tidak sekolah?"tanya Sekar. Mendengar pertanyaan Sekar, Banyu menghela nafas sebelum menjawabnya. "Dia beberapa kali pindah sekolah, tapi selalu dikeluarkan karena dia terlalu cerdas untuk anak seumurnya, dia juga mengalami kebisuan selektif."jelas Banyu. "Kebetulan saya punya seorang kenalan yang mengelola sekolah khusus untuk anak anak seperti Diego. Anda bisa menghubungi saya jika Anda berminat"kata Sekar sambil menyerahkan kartu namanya pada Banyu. "Oh ya..terimakasih..."jawab Banyu sembari menerima kartu nama yang diberikan Sekar. "Diego...Kak Sekar pergi dulu..karena kakak harus bekerja..Sampai bertemu lagi..."kata Sekar sambil melihat jam yang melingkar di tangannya. Diego yang seperti tak rela berpisah dengan Sekar langsung terlihat murung. Sekar yang melihat ekspresi Diego langsung tanggap. Ia berlutut di depan Diego dan mengeluarkan sebuah lollipop dari tas selempangnya. "Diego..kita akan bertemu lagi...Kita sekarang berteman kan?Sekarang ikutlah ayah ke kantor..dan jangan pergi pergi lagi...kalau kamu bosan kamu bisa berkirim pesan dengan Kak Sekar..."kata Sekar. Diego pun mengangguk dengan antusias setelah menerima lollipop dari Sekar. Seketika senyum tampannya kembali terbit. "Tuan saya permisi dulu...sampai Jumpa..."pamit Sekar sambil menundukkan badan sedikit. Banyu hanya menjawabnya dengan anggukan. Sepeninggal Sekar, Banyu mengajak Diego kembali ke kantor. Sepanjang perjalanan, ia benar benar tak habis pikir dengan sikap Dio terhadap Sekar yang berubah 180 derajat. Biasanya anak itu begitu dingin dengan orang lain. Apalagi yang baru saja di kenalnya. Dio terlihat menulis sesuatu. "Kita akan berkunjung ke rumah Kak Sekar kan?" "Iya..kapan kapan kita akan berkunjung ke sana. Tapi ayah ingin kita bicara empat mata setelah sampai di kantor."jawab Banyu dengan nada datar. Dio yang menyadari bahwa sang ayah dalam mode marah, seketika menundukkan kepalanya dan tak melayangkan protes lagi. Sesampainya di kantor, Banyu menyuruh seluruh asisten dan sekretarisnya keluar sebentar. Agar ia bisa berbicara empat mata dengan Dio. "Diego Putra Langit...apa kamu tahu kesalahanmu hari ini?"tanya Banyu. Diego menulis sesuatu di Note Pad. "Aku tidak merasa bersalah....."jawab Dio sambil menunjukkan tulisannya. "Apa menurutmu meninggalkan kantor saat ayah sedang rapat tanpa seizin orang dewasa itu benar?" tanya Banyu. "I'M BORED!!" Jawab Dio dalam tulisan Note Pad nya. "Oke jika kamu belum menyadari kesalahanmu, duduklah di sudut ruangan. Dan jangan harap ada game untuk hari ini!" kata Banyu dengan sikap tegasnya. Dio pun menuruti apa yang dikatakan Banyu. "Chandra..masuk ke ruanganku!" perintah Banyu pada asistennya lewat sambungan intercom. "Ada apa Bos?"tanya Chandra, asisten sekaligus sahabat Banyu. "Tolong kamu cari tahu tentang perempuan bernama Sekar Arumsari." kata Banyu sambil menyodorkan fotoSekar yang ia ambil diam diam. "Siapa Bos..cantik bener.."puji Chandra saat melihat foto Sekar. "Ck....pokoknya kami cari tahu..kebanyakan tanya, bulan ini gaji kamu saya potong 50 persen, Mau?!" kata Banyu ketus. "Iya..iya...gitu aja main potong gaji...Bos nggak ada akhlak lu"gerutu Chandra kesal. "Chandraaaa!" teriak Banyu. "Iya...iya..siap delapan enam!!!" teriak Chandra sembari berlari menghindari amukan Boss sekaligus sahabatnya itu. Sepeninggal Chandra dan Dio yang telah dibawa pulang oleh pengasuhnya, Banyu mengeluarkan kartu nama yang diberikan oleh Sekar. Ia cukup terperangah ketika mengetahui profesi Sekar. "Ternyata dia seorang dokter spesialis anak...ck..kenapa aku kepikiran dia terus ya..."gumam Banyu. ******** Sementara itu, di sebuah rumah sakit yang tak jauh tempat kantor Banyu berada, Sekar baru saja memulai jam prakteknya. "Mbak Nina tolong segera bawa daftar pasien ke ruangan saya ya..."pinta Sekar pada perawat yang menjadi asistennya. "Baik Dok...Sudah ada 9 pasien yang mendaftar..."jawab Nina. "Iya...bisa panggil pasiennya sekarang mbak..biar cepat kelar..soalnya hari ini aku ada jadwal konsultasi pasien di rumah.."kata Sekar. "Bisa dok...dokter nggak capek ya habis praktek di rumah sakit langsung buka konsultasi di rumah?" tanya Nina. "Hehehe..kalau kita bisa mencintai pekerjaan yang digeluti, Insya Allah nggak bikin kita capek Mbak..malah buka konsultasi di rumah tuh bisa jadi hiburan tersendiri buat saya..."kata Sekar sambil terkekeh. "Kalau saya, dengerin curhatan orang malah yang ada saya tidur duluan Dok...."kata Nina. "Mbak Nina mah bisa aja...."kekeh Sekar. Sekar pun melayani pasien yang semuanya anak anak dengan sangat ramah. Background nya sebagai seorang psikiater membawa Sekar menjadi dokter spesialis anak terbaik yang di miliki rumah sakit tempatnya bekerja. "Cepat sembuh ya Sayang....sebelum radang tenggorokannya sembuh, es krimnya diganti air hangat dulu ya..biar radangnya pergi terus bisa makan es krim lagi sepuasnya..."kata Sekar pada seorang anak dengan keluhan radang tenggorokan. "Iya tante dokter cantik...terimakasih..."kata pasien anak itu dengan suara serak. "Sama sama adik cantik..."jawab Sekar sambil memberikan sebuah lollipop pada pasiennya. Ia memang selalu menyediakan lolipop atau kue untuk diberikan pada pasien anak anak. Agar anak tersebut tidak merasa menjadi orang sakit dan sedikit terhibur. Pasien terakhirpun sudah ia layani. Sekar menghempaskan tubuh mungilnya di kursi kebesarannya. Ia melepas sneli yang menjadi kebanggan profesinya tersebut dan meletakkan di sandaran kursi kerjanya. "Sudah semua dokter...."kata Nina. "Syukurlah....Hari ini ada jadwal visit pasien Mbak?"tanya Sekar. "Ada dok..."jawab Nina sambik memberikan data pasien rawat inap yang harus dikunjungi. "Baiklah..kita visit sekarang saja.."ajak Sekar. "Siap dok..."jawab Nina dengan penuh semangat. Mereka berdua pun memgunjungi pasien bersamaan. Sekar bersiap untuk pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 6 petang. Baru saja ia akan beranjak,telepon di ruangannya berdering. "Halo Dokter Sekar di sini.."jawan Sekar. "Dokter ada pasien anak di ruang gawat, ia mengalami demam 39 derajat disertai kejang."kata seorang perawat jaga di IGD. "Baik saya segera turun..."jawab Sekar. Ia pun segera memakai kembali Snelinya dan bergegas menuju UGD di lantai 1. Saat ia sampai, ia terkejut melihat siapa pasien yang kini tergolek lemah di brankar UGD.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD