Gadis itu masih meringkuk dengan lemah. Tangannya mengepal menahan guncangan hatinya yang belum bisa menerima apa yang telah terjadi dalam hidupnya.
Sudah berbulan-bulan peristiwa yang merenggut seluruh anggota keluarganya itu berlalu. Tapi, sisa peristiwa itu masih ada dan mengacaukan segala sisi kehidupan yang masih ingin ia perjuangkan.
“Jovi! di dalam hidup ini selalu ada pilihan. Kita cari pilihan yang terbaik untuk kamu,” ucap Dokter Ana. Ia bergerak mendekat pada Jovi. Mulai menyentuh pundak gadis itu untuk menguatkan. Ia yakin sebenarnya Jovi juga tak mau dirinya jadi begini. Tampak lemah dan tak berdaya.
Air mata Jovi tumpah lagi. Suara tangisnya terdengar memilukan memekakkan telinga. Seperti irama biola dengan simponi nada yang menyayat hati. Ia merasa masa depannya hanya tentang awan gelap dan suram. Apalagi tentang cita-cita dan mimpinya, ia yakin harus pupus. Kesembuhan kakinya bisa saja terjadi, tapi pasti tidak bisa seperti sedia kala.
“Ayo, kita coba berdiri lagi!” ajak dokter Ana. Ia membantu Jovi mengangkat tubuhnya. Lalu membantu berjalan untuk duduk kembali di sofa dengan perlahan.
“Kayaknya untuk hari ini udah cukup sesi latihan jalan sama konsultasinya. Dua hari lagi dokter Ana akan kesini.” Dokter itu membereskan tasnya.
Jovi hanya diam. Tak ada sedikitpun gerakan mata ditujukan untuk dokter yang menangani dirinya itu hingga pergi.
Sesaat setelah dokter Ana telah berlalu menghilang di balik pintu, bersama perawat yang membantu. Jovi tahu dirinya sudah ditinggal dan mengira sudah tak ada siapa-siapa di ruang tamu. Hanya ada dirinya dan bibi Bella saja.
Jovi kembali coba bergerak. Ia menyingkirkan tangan Bella yang ingin membantu.
"Diam aja! Jangan ganggu aku!" ucap Jovi dengan nada meninggi.
Bibi Bella terpaksa diam. Sedangkan Gavin masih sama seperti tadi. Menyaksikan apa yang akan dilakukan Jovi.
Meski sulit, Jovi coba berdiri. Menguatkan kedua kakinya yang sebenarnya masih lelah dan belum sepenuhnya bisa ia kendalikan.
“Nona! Sudah cukup latihan jalannya.” Bella melihat Jovi kembali berdiri dan berusaha berjalan lagi. “Non! Tolong jangan dipaksa!!” Bella melihat nona mudanya hampir terjatuh tapi Jovi coba untuk terus tetap bisa tegap.
Jovi kembali bergerak dan lagi, ia sudah akan terjatuh untuk kesekian kalinya. Akan tetapi, kali ini Gavin menangkap tubuh gadis tersebut. Sebelum terjatuh ke lantai yang keras.
“Kenapa kamu ngotot sekali?” tanya Gavin sembari menangkap Jovi dalam dekapannya.
Jovi menatap pria yang menolongnya. Ia melihat mata Gavin begitu dekat dan tajam. Membuat ia ingat dengan tatapan Bagas, pria yang pada akhirnya membuat dirinya sulit berinteraksi dengan lawan jenis. Jovi trauma dan belum sembuh. Hingga tanpa sadar suara keras yang menjerit kembali terdengar dari bibirnya.
“Ahhh, lepasin. Tolonggg!!!!” Jovi memejamkan matanya dan memukul d**a Gavin yang menggendongnya. Dipukul keras bagian tubuh Gavin sebisa mungkin. Ia tidak mau ada pria menyentuh apalagi menggendong sedekat ini.
“Tuan! Tuan Gavin. Cepat turunkan Nona Muda. Dia pasti belum bisa menerima disentuh sama Tuan Gavin.” Bibi Bella coba memberitahu. Ia cemas Jovi akan makin parah ketakutannya.
Gavin melihat wajah Jovi ketakutan. Tapi, dirinya bingung mau menurunkan Jovi bagaimana. Diletakkan langsung di lantai. Ah ..! Rasanya tega sekali dirinya melakukan itu. Bukankah lantai tetaplah bagian yang begitu dingin.
“Aku nggak mau. Tolong lepasin aku!” pinta Jovi. Ia memaksa untuk dilepaskan.
“Bi! Aku harus gimana?” Gavin bingung, menunjukkan wajah tak bisa berpikir dalam hitungan detik. “Masak iya aku taruh lantai lagi.”
Bibi Bella yang panik juga tak berpikir sampai situ. Dirinya lupa kalau Jovi belum sepenuhnya mampu menggunakan sepasang kakinya. “Bawa kamar aja Tuan!” ucap Bibi Bella dengan segera.
Sambil menahan pukulan bertubi-tubi. Yang makin lama makin melemah. Gavin berjuang keras menggendong dan membawa tubuh Jovi naik tangga hingga sampai kamar. Ia menatap memastikan wajah Jovi tidak dibuat-buat.
"Lepassssss!!!" Jovi masih histeris dengan segala ketakutan melihat pria yang menggendong dirinya.
"Jovi tenang!!! Ini aku Gavin." Gavin mengeraskan suaranya.
Jovi diam. Tangannya mereda untuk memukul Gavin. Terasa tubuhnya mulai dibaringkan di atas tempat tidur.
"Nona, nona Jovi minum dulu!" ucap Bibi Bella. "Lebih baik Tuan keluar. Biar saya tenangkan Nona Jovi."
Gavin melangkah mundur. Ia masih memperhatikan sosok Jovi yang ada di depannya.
'Bahkan denganku saja dia nggak mau aku sentuh," batin Gavin. Ia segera pergi.
**
Tak ada yang mengerti tentang jalan hidup. Jovi meratapi diri sendiri di depan cermin. Ia dengan segala kelemahan. Belum bisa menunjukkan hal baik untuk dirinya.
"Gimana nasibku?? Gimana????" Gemuruh suara itu melalang di kamar. Membuat tangannya ikut bertindak. Dihamburkan segala peralatan tubuh yang ada di atas meja rias tempatnya bercermin.
Kegaduhan itu terdengar di kamar sebelah. Gavin sedang membaca. Ia terganggu dengan suara yang menurutnya pasti berasal dari kamar Jovi.
"Sebenarnya kenapa sih dia. Apa sesulit itu terima nasib. Kalau udah takdir ya udah terima aja. Mau gimana lagi." Gavin membanting buku di depannya ke atas kasur.
Pria itu bergerak, kegaduhan sepertinya mulai diiringi dengan isak tangis. Tak bisa dibiarkan menurutnya kalau sudah seperti ini.
Pintu kamar yang bersebelahan. Gavin tak peduli, Jovi akan menjerit lagi saat bertemu dengan dirinya nanti. Yang pasti, ia ingin memberitahu kalau kamar ini tidak kedap suara. Berisik seperti apa, sudah pasti akan terdengar.
"Jovi!" panggil Gavin.
"Joviii, aku mau masuk!"
Gavin adalah tipe pria yang tidak banyak bicara. Namun, karena hal ini. Ia jadi lebih banyak mengeluarkan kata-kata. Baik saat ngobrol dengan papanya, dan untuk saat ini juga. Tampaknya ia akan banyak sekali bicara untuk menjelaskan pada Jovi.
Karena tak ada jawaban. Gavin kira lebih baik langsung masuk. Tapi, kalau dirinya tidak diterima. Kalau Jovi malah teriak-teriak semakin tidak jelas. Apa yang harus ia lakukan.
"Peduli amat. Toh tingkahnya itu ganggu banget."
Pintu dibuka oleh Gavin. Ia langsung terkejut dengan kondisi kamar tersebut. Berantakan, kacau dan begitu jauh dengan kata rapi, seperti diacak-acak oleh orang tak bertanggung jawab, dan pasti orang yang bertanggung jawab itu adalh Jovi sendiri.
Jovi dengan pandangan mata tajam seperti sedang posisi waspada. Ia tak mau dirinya ada yang mengganggu. Melihat ke arah Gavin.
"Hey! Kamu tahu kan kalau kita tetangga kamar. Bisa nggak kamu tenang sedikit."
"Kamu pikir dengan nasib kayak gini aku bisa tenang."
"Aku nggak tau. Tapi, aku terganggu sama kamu."