Langit Jakarta tampak kelabu sore itu. Awan menggantung rendah, menekan udara seolah ikut menahan beban yang tak terucap. Dari balik kaca gedung menjulang tinggi milik Fernandez Property Group, gemerlap ibu kota kehilangan pesonanya. Cahaya lampu kendaraan di jalanan hanya terlihat seperti garis-garis buram yang berpendar di balik kabut hujan yang sebentar lagi jatuh.
Di dalam gedung, dunia berputar cepat seperti biasa. Derap sepatu para eksekutif berlalu-lalang di koridor, suara tawa basa-basi yang terdengar dipaksakan, dan dering telepon yang tak pernah berhenti. Semua bergerak, semua sibuk, semua tampak hidup.
Namun di lantai 30—ruangan paling ujung yang luas, berlapis kayu mahoni dan kaca transparan dari lantai hingga langit-langit—keheningan justru berkuasa.
Andreas duduk sendiri di kursi kerjanya yang besar, menghadap jendela lebar. Punggungnya tegap, tapi bahunya terasa berat. Tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah kehilangan hangatnya sejak entah kapan. Uapnya telah lama menghilang, meninggalkan cairan pahit yang tak lagi menarik.
Di atas meja kerjanya, berkas-berkas tertata rapi. Proposal proyek, laporan keuangan, kontrak kerja sama—semua hal yang biasanya bisa dia baca sambil lalu. Namun di antara tumpukan itu, ada satu map tipis berwarna krem yang terasa jauh lebih berat dari yang lain.
Hasil tes laboratorium.
Matanya menatap lembaran kertas itu lama, terlalu lama, seolah huruf-huruf di sana bisa berubah jika dia cukup keras menatapnya.
Sperma dalam kondisi baik. Tidak ditemukan indikasi infertilitas.
Andreas menghela napas panjang, napas yang keluar perlahan seperti keluhan yang tertahan. Bukan karena hasilnya mengejutkan—jauh di dalam hatinya, dia sudah menduga. Tapi karena hasil itu terlalu jelas. Terlalu tegas. Terlalu jujur.
Dia bukan masalahnya.
Sudah bertahun-tahun Andreas mencoba memahami keadaan ini. Lima tahun pernikahan, dan tak pernah ada tangisan bayi yang memecah pagi mereka. Awalnya mereka sepakat untuk menunda. Lalu penundaan berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan berubah menjadi keengganan. Dan akhirnya, keengganan itu menjadi jurang yang tak pernah benar-benar mereka bicarakan dengan jujur.
Dia pernah menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan usia. Menyalahkan stres kerja. Menyalahkan gaya hidup. Bahkan menyalahkan Tuhan dalam doa-doa pendek yang dia ucapkan sebelum tidur.
Tapi kini, lingkaran itu selalu kembali ke satu titik yang sama yaitu Nadine istrinya.
Wanita yang dulu membuatnya jatuh cinta hanya dengan caranya berjalan memasuki ruangan. Cantik, percaya diri, berkelas. Nadine dengan gaya hidup jet set, jadwal sosial yang padat, dan akun media sosial yang selalu menampilkan kehidupan sempurna. Mereka menikah ketika Andreas baru menginjak usia tiga puluh. Saat itu, Nadine adalah lambang masa depan yang dia inginkan—stabil, modern, dan penuh ambisi.
Namun waktu mengikis segalanya, bahkan yang tampak paling megah.
Kini, rumah yang mereka tempati terasa lebih seperti hotel. Bersih, rapi, dingin. Mereka jarang makan bersama. Percakapan mereka terbatas pada jadwal, acara, dan kewajiban. Tak ada lagi tawa panjang atau obrolan tak penting yang dulu terasa menyenangkan.
Andreas masih ingat jelas percakapan terakhir mereka tentang anak.
Malam itu, Nadine duduk di depan meja rias, membersihkan make-up dengan gerakan pelan. Andreas berdiri di belakangnya, ragu-ragu, lalu akhirnya membuka pembicaraan.
“Apa kita nggak mau mulai serius soal ini?” tanyanya waktu itu. “Usia kita nggak muda lagi.”
Nadine menatap pantulan mereka di cermin. Wajahnya tenang, terlalu tenang.
“Aku masih belum siap, Mas,” jawabnya. “Punya anak itu bukan cuma soal cinta. Aku nggak siap kehilangan tubuhku. Karierku. Aku belum selesai dengan diriku sendiri.”
Kalimat itu jatuh seperti tembok tinggi yang langsung berdiri di antara mereka. Tak ada teriakan. Tak ada pertengkaran. Justru karena itulah rasanya lebih menyakitkan. Sejak malam itu, topik itu tak pernah muncul lagi.
Andreas memejamkan mata, meredakan denyut pelan di pelipisnya. Rasa lelah yang dia rasakan bukan berasal dari rapat bertubi-tubi atau tekanan investor. Lelah itu datang dari rumah—tempat yang seharusnya menjadi titik pulang, tapi justru terasa paling asing.
Ketukan lembut di pintu memecah keheningan.
“Masuk,” ucapnya pelan.
Pintu terbuka, dan seorang wanita muda melangkah masuk dengan langkah tenang. Violet.
Sekretaris barunya. Mulai bekerja tiga bulan lalu. Tak seperti asisten sebelumnya yang selalu tampil mencolok dengan pakaian mahal dan ambisi terang-terangan, Violet hadir dengan kesederhanaan yang nyaris tak mencolok. Blus putih bersih, rok pensil hitam, rambutnya terikat rapi. Wajahnya lembut, tanpa riasan berlebihan.
“Pak Andreas,” katanya sopan sambil mendekatkan map ke meja. “Ini laporan keuangan bulan ini. Sudah saya tandai bagian yang perlu perhatian.”
Lalu dia meletakkan satu cangkir kopi baru di sisi kanan meja.
“Dan ini kopi baru. Yang tadi sudah dingin.”
Andreas mengangguk, menoleh padanya. Untuk sesaat—hanya sesaat—sorot matanya melunak.
“Terima kasih, Violet.”
Violet tersenyum tipis. Senyum yang tidak dibuat-buat, tidak berusaha mengambil hati. “Kalau Bapak perlu sesuatu lagi, saya di luar.”
Dia berbalik pergi, menutup pintu dengan hati-hati. Langkahnya nyaris tak bersuara.
Pandangan Andreas mengikuti punggungnya sejenak, lalu jatuh pada cangkir kopi yang masih mengepul ringan. Aromanya hangat dan menenangkan. Dia mengangkat cangkir itu, menyesap perlahan.
Hangat.
Seperti isyarat kecil bahwa di tengah semua kekosongan ini, masih ada sesuatu yang peduli pada detail sederhana.
Dia menyentuh map laporan, tapi tak membukanya. Pikirannya tertinggal pada kehadiran Violet. Ada sesuatu dari wanita itu yang sulit dijelaskan. Bukan kecantikan mencolok, bukan kecerdasan yang dipamerkan. Violet justru nyaris tak terlihat di antara pegawai lain yang penuh gaya.
Tapi mungkin karena itulah dia terasa berbeda.
Violet hadir tanpa menuntut. Dia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup diam. Tak pernah mencampuri urusan pribadi, tapi selalu ada ketika Andreas ingin meluapkan sesuatu—meski hanya keluhan ringan tentang hari yang melelahkan.
Selama tiga bulan ini, Violet bukan hanya sekretaris. Tanpa disadari, dia menjadi ruang aman yang sunyi. Kehadiran yang tidak menghakimi.
Andreas menyesap kopi itu lagi. Hangatnya merambat ke d**a, membawa rasa yang sulit dijelaskan. Lebih menenangkan daripada liburan mahal atau jam tangan mewah yang dia kenakan.
Dan entah karena kopi itu, atau karena langit yang semakin gelap, pikirannya kembali melayang.
Dia membayangkan seorang anak laki-laki kecil berlari di taman, tertawa sambil mengejar bola. Membayangkan tangan mungil yang menggenggam jarinya. Membayangkan dirinya pulang lebih awal hanya untuk mendengar cerita sederhana tentang hari di sekolah.
Bayangan itu begitu nyata hingga dadanya terasa sesak.
Tapi semua itu hanya bayangan.
Karena di ranjang yang dia tempati setiap malam, tak ada percakapan tentang nama anak atau warna kamar bayi. Hanya keheningan panjang. Nadine tidur di sisi kiri, dirinya di sisi kanan. Satu ranjang, dua dunia.
Telepon di mejanya berdering, mengusik lamunan itu. Andreas menjawab singkat. Rapat dibatalkan. Investor Jepang menunda kunjungan. Tak ada urgensi.
Dia meletakkan gagang telepon, lalu kembali menatap pintu tempat Violet tadi keluar. Pikirannya—yang biasanya terstruktur dan terkendali—kini terasa kacau. Ada perasaan asing yang mulai tumbuh, perlahan tapi pasti.
Dia menutup mata.
Untuk sesaat, dia membayangkan Violet duduk di meja makan rumahnya. Menyiapkan sarapan. Tersenyum bukan karena kewajiban, tapi karena ingin.
Bayangan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Langit di luar akhirnya menurunkan hujan. Tetesan air membasahi kaca jendela, menciptakan irama yang lembut dan menenangkan. Di tengah semua prestise dan pencapaian yang mengelilinginya, Andreas menyadari satu hal yang selama ini luput.
Ada hal-hal yang tak bisa dibeli dengan uang.
Dan sore itu, di ruangan megah yang justru paling sunyi di gedung itu, Andreas menatap keluar dengan tatapan berbeda. Bukan lagi sekadar menatap Jakarta, tapi menatap hidupnya sendiri.
Bukan sebagai CEO. Bukan sebagai suami dari wanita sempurna. Melainkan sebagai pria biasa—yang hanya ingin pulang, dan benar-benar merasa pulang.
Dia tak tahu ke mana semua ini akan membawanya. Tapi satu hal pasti: sesuatu sedang berubah. Dan perubahan itu mungkin saja dimulai dari secangkir kopi hangat… dan seorang wanita yang tahu kapan harus hadir tanpa diminta.
Mungkinkah hatinya akan terbagi?
Nama Violet mulai bersandar di sudut hatinya, pelan tapi nyata.
Namun di saat yang sama, ada Nadine—satu hati yang masih ingin dia pertahankan, meski retaknya kian jelas.