Hubungan mereka berlanjut, setelah malam itu. Pesona Andreas seakan menghipnotisnya, saat mereka bersama. Tak ada ruang pembatas lagi di antara mereka. Sampai akhirnya mereka berbuat jauh.
Jika sudah seperti ini, mau diapakan lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Kehormatannya sudah direnggut oleh bosnya sendiri. Mereka tahu, kalau ini sebuah kesalahan. Namun, mereka tak bisa menghentikan.
"Maafkan saya, Vi. Saya telah mengambilnya," ucap Andreas yang terlihat merasa bersalah.
Violet kala itu terlihat menangis, meringkuk. Dia malu pada dirinya sendiri. Kenapa dia serendah itu? Padahal dia tahu, kalau Andreas telah memiliki seorang istri. Seharusnya dia menghentikan, saat Andreas berusaha masuk ke dalam hidupnya.
"Bagaimana, kalau saya hamil, Pak?" Ucapnya diiringi isak tangis.
Andreas mengacak-acak rambutnya. Terlihat gusar. Apa ini mungkin salah satu rencana Tuhan, agar dia segera memiliki seorang anak? Ah tidak, Tuhan tak akan menuliskan takdir seperti ini. Ini hanya sebuah nafsu, menghapus kesunyiannya.
"Saya akan bertanggung jawab," jawab Andreas. Namun, suaranya seakan tercekat.
*
Violet duduk di tepi tempat tidurnya, tubuh membungkuk, napasnya pendek-pendek. Tangannya yang gemetar memegang alat uji kehamilan yang baru saja menunjukkan dua garis merah. Jelas. Tegas. Tak terbantahkan.
Dia menatap benda kecil itu seperti menatap sebuah vonis. Dadanya sesak. Seolah udara di kamar kosnya tiba-tiba menghilang. Keringat dingin membasahi pelipis, meski kipas angin di langit-langit berputar kencang. Kepalanya seperti diserbu ribuan pikiran—bertabrakan, tumpang tindih, membentuk kekacauan yang tak bisa dia redam.
Ini bukan mimpi. Ini nyata.
Dia, Violet Pricilia, sekretaris CEO sebuah perusahaan properti ternama, sedang mengandung anak dari pria yang tidak hanya beristri, tapi juga atasannya. Anak dari hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Air mata mengalir pelan dari sudut matanya. Bukan sekadar karena takut. Tapi karena penyesalan. Karena kebingungan. Karena hatinya terlalu penuh untuk menampung semuanya sendirian.
Dia memejamkan mata. Mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tapi tidak ada yang berubah. Saat matanya terbuka, kenyataan itu tetap menatapnya lurus-lurus.
Dia hamil. Hamil anak Andreas–bosnya.
Di kantor keesokan harinya, Violet mencoba bersikap biasa. Dia datang lebih pagi seperti biasa, menyeduh kopi favorit Andreas, menyusun dokumen rapat, membalas email. Tapi wajahnya pucat, matanya sembab. Setiap kali berbicara, suaranya bergetar. Dia seperti bayangan dari dirinya sendiri.
Andreas menyadari itu sejak dia tiba. Dia menatap Violet lama, mencoba membaca lewat bahasa tubuh. Bukan sekali ini Violet tampak lelah. Tapi hari ini... ada sesuatu yang berbeda.
Menjelang makan siang, Andreas memanggilnya ke ruangannya.
“Violet,” ucapnya saat gadis itu masuk. “Kamu baik-baik saja?”
Violet mengangguk cepat. Terlalu cepat.
“Violet,” ulang Andreas, kali ini lebih lembut. “Kamu kenapa? Ada masalah?”
Violet tak mampu menjawab. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya mengepal erat di atas pangkuan, mencoba menahan guncangan tubuhnya yang mulai tak bisa dikendalikan.
Beberapa detik kemudian, suaranya pecah.
“Saya... saya hamil, Pak.”
Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah selama ini telah menunggu untuk dilepaskan.
Ruang itu hening seketika. Andreas terdiam, menatap Violet dengan wajah tanpa ekspresi. Tak ada kemarahan. Tak ada teriakan. Hanya diam yang menyesakkan d**a.
Dia berdiri perlahan, berjalan ke depan meja, lalu duduk di kursi di hadapan Violet. Kini mereka sejajar. Tak ada jarak kekuasaan. Hanya dua manusia yang baru saja terjatuh dari batas yang tak terlihat.
“Kamu yakin?” tanyanya pelan.
Violet mengangguk, tak berani menatap langsung. “Saya sudah tes. Tiga kali.”
Andreas menyandarkan tubuh ke sandaran kursi, menutup mata sejenak. Lalu, dia menarik napas panjang dan membuka matanya kembali, kali ini dengan sorot yang tenang.
“Kalau begitu, kita akan hadapi ini bersama. Seperti janji saya."
Violet langsung menggeleng. “Tidak. Tidak, Pak. Ini salah. Saya sudah siapkan surat pengunduran diri. Saya... saya tidak bisa terus di sini. Saya tahu saya salah.”
“Berhenti,” ucap Andreas tegas namun tetap lembut. “Kamu nggak akan ke mana-mana. Anak ini... adalah darah daging saya. Dan kamu, Violet, kamu adalah orang yang saya cintai.”
Violet mendongak, menatapnya dengan mata basah. Hatanya seperti dihantam badai—antara rasa syukur dan ketakutan, antara kebahagiaan dan perasaan bersalah.
“Tapi ,istri Bapak. Gimana?” bisiknya nyaris tak terdengar.
Andreas menunduk. “Hubungan kami sudah lama mati, Vi. Kami hanya saling menghindar, tinggal satu atap tapi tidak benar-benar hidup bersama. Semua hanya demi citra. Tapi aku tidak bisa terus hidup dalam sandiwara.”
Violet menelan ludah. Kata-kata itu seharusnya melegakan, tapi tetap ada rasa bersalah yang menghantui. Dia tak pernah ingin menjadi orang ketiga. Tapi kini, dia telah menjadi lebih dari itu—dia membawa kehidupan yang tak pernah direncanakan.
“Saya akan bicara dengan Nadine,” lanjut Andreas. “Saya akan jujur. Saya tidak mau anak kita tumbuh dalam bayang-bayang rahasia atau dosa. Jika ini adalah kesalahan, maka biarlah kita perbaiki dengan keberanian.”
Violet mulai menangis. Bukan karena lemah. Tapi karena semua perasaan yang selama ini dia tahan meledak sekaligus. Andreas menariknya ke dalam pelukan, membiarkan tangisnya pecah di dadanya.
Pelukan itu hangat. Penuh janji. Penuh ketakutan. Tapi juga penuh tekad.
Malam itu, di dalam kamarnya yang sempit dan sunyi, Violet duduk sambil memegangi perutnya yang belum berubah bentuk. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang terasa. Tapi dia tahu—ada sesuatu di dalam dirinya yang sedang tumbuh. Sebuah benih kecil dari hubungan yang terlarang. Sebuah kehidupan baru yang datang dari kejatuhan.
Dia belum tahu apa yang akan terjadi. Apakah Andreas benar-benar akan bicara pada Nadine? Akankah dia tetap dipertahankan di perusahaan? Akankah dunia menghakiminya seperti yang dia takutkan? Pemikiran itu hadir. Sebuah momok yang menakutkan baginya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Harapan. Harapan bahwa dari kegilaan ini, bisa tumbuh sesuatu yang lebih baik. Bahwa mungkin, cinta yang salah di awal tidak selalu berakhir dengan kehancuran.
Violet menatap alat tes yang masih tergeletak di meja. Dua garis merah itu kini terlihat seperti sepasang mata kecil—yang menatapnya dengan polos, tanpa prasangka.
“Saya akan melindungimu. Kita lakukan pemeriksaan besok," bisiknya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Violet tidur bukan hanya sebagai seorang sekretaris, bukan hanya sebagai seorang wanita yang jatuh hati pada pria yang salah. Dia tidur sebagai calon ibu—dan seseorang yang mulai percaya bahwa bahkan dari dosa, bisa tumbuh cinta yang tulus.