Bab 2: Munculnya Saskia

1166 Words
Kantor pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Semua orang berbisik-bisik, tertawa kecil, dan saling menatap ke arah pintu masuk. Aruna yang baru tiba dengan tangan penuh berkas hanya bisa bertanya-tanya. โ€œEh, udah lihat anak baru belum?โ€ suara Risa, rekan satu timnya, membuyarkan lamunannya. โ€œAnak baru?โ€ tanya Aruna sambil menaruh tas di meja. โ€œIya, katanya pindahan dari cabang Surabaya. Cantik banget, Run. Namanya Saskia Anggraini.โ€ Nama itu membuat jantung Aruna berdetak aneh. Ia ingat betulโ€”itu nama yang beberapa hari lalu tertulis di jadwal meeting Dimas. โ€œKatanya bakal satu proyek sama Dimas juga,โ€ lanjut Risa sambil berbisik penuh semangat. โ€œWah, cocok banget, dua-duanya pinter, karismatik, kayak power couple gitu.โ€ Aruna tersenyum tipis, meski hatinya mulai panas. Power couple. Kata itu berputar di kepalanya seperti racun manis yang menyesakkan. --- Beberapa menit kemudian, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Saskia muncul di ambang pintu โ€” rambut panjangnya terurai rapi, senyumnya menawan, tatapannya penuh percaya diri. Semua mata menoleh padanya, termasuk Dimas yang baru keluar dari ruangannya. โ€œSelamat datang, Saskia,โ€ sapa Dimas hangat, mengulurkan tangan. Saskia menyambut dengan senyum lembut. โ€œTerima kasih, Mas Dimas. Saya harap bisa banyak belajar dari Bapak.โ€ โ€œPanggil Dimas aja,โ€ jawabnya cepat, diiringi tawa kecil. โ€œKita kan rekan kerja sekarang.โ€ Aruna yang duduk tak jauh dari situ menunduk pura-pura sibuk pada layar laptopnya, padahal telinganya mendengarkan setiap kata. Ia ingin percaya bahwa semua hanya profesionalitas, tapi ekspresi Dimasโ€ฆ terlalu hangat. Terlalu nyaman. Senyum yang dulu selalu ia simpan untuk Aruna, kini ia berikan pada orang lain tanpa beban. --- Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Saskia cepat beradaptasi. Dalam waktu seminggu, ia sudah menjadi pusat perhatian di kantor. Ramah, berani berpendapat, dan selalu tampil sempurna. Aruna mengaguminya diam-diam, tapi juga merasa terancam. Setiap kali Dimas lewat, Saskia selalu punya cara untuk menarik perhatiannya. Entah dengan tawa lembut, sentuhan di lengan, atau sekadar memanggil namanya dengan nada manja. โ€œMas Dimas, bisa bantu aku bentar nggak?โ€ โ€œMas Dimas, aku masih belum paham bagian proposal iniโ€ฆโ€ โ€œMas Dimas, kayaknya kita perlu diskusi tambahan deh malam ini.โ€ Dan Dimas? Ia selalu menuruti. --- Suatu siang, Aruna sedang makan di kantin sendirian ketika Saskia datang menghampiri. โ€œBoleh duduk di sini?โ€ tanyanya sopan. Aruna mengangguk. โ€œSilakan.โ€ Saskia tersenyum, duduk di hadapannya. โ€œAruna, ya? Aku sering dengar nama kamu. Dimas sering nyebut kamu, katanya kamu orang yang paling rajin dan teliti di tim.โ€ Aruna menatapnya, mencoba membaca nada di balik kalimat itu. Tapi Saskia terlalu pandai menjaga ekspresi. โ€œOh ya?โ€ Aruna tersenyum tipis. โ€œSyukurlah kalau begitu.โ€ Saskia mengaduk jusnya pelan. โ€œKamu dan Dimas udah lama kenal, ya?โ€ Pertanyaan itu terdengar ringan, tapi tajam di ujungnya. Aruna menelan ludah. โ€œIya, lumayan lama.โ€ โ€œHm.โ€ Saskia menatapnya penuh arti. โ€œPantas aja, kalian kelihatan deket. Tapi akhir-akhir ini, kayaknya Mas Dimas sibuk banget ya. Hampir tiap malam lembur bareng aku.โ€ Satu detik. Dua detik. Dunia Aruna berhenti berputar. Lembur bareng aku. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat d**a Aruna terasa sesak. Ia berusaha tersenyum, pura-pura tenang. โ€œOh, ya? Memang proyeknya padat sih,โ€ jawabnya lirih. Saskia menatapnya tajam, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih halus tapi menusuk. > โ€œKamu orang yang terlalu baik, Aruna. Tapi hati-hati, kadang terlalu baik itu bikin orang bosan, tahu?โ€ Aruna terdiam. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar saran โ€” itu peringatan. Dan tatapan Saskia, meski penuh senyum, membawa pesan jelas: Aku tahu posisimu. Dan aku bisa merebutnya kapan pun aku mau. --- Malam itu, Aruna menatap layar ponselnya. Sudah pukul sebelas malam, tapi Dimas belum membalas pesannya. > Aruna: โ€œKamu udah pulang, Mas?โ€ (belum terbaca) Ia menunggu, menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya notifikasi muncul โ€” bukan dari Dimas, tapi dari media sosial. Saskia mengunggah foto di story: dua gelas kopi, tumpukan berkas, dan caption โ€œlembur lagi bareng partner terbaik ๐Ÿ’ผโœจโ€ Aruna menatap layar itu lama. Tangannya bergetar, dadanya seperti ditusuk ribuan jarum. Ia tahu, tak ada nama Dimas di foto itu. Tapi ia tahu betul tulisan tangan di gelas itu adalah tulisan Dimas. Selama ini, hanya dia yang tahu gaya huruf itu. --- Keesokan harinya, Aruna datang lebih pagi lagi โ€” berharap bisa bicara dengan Dimas sebelum semua orang datang. Tapi saat ia tiba, Dimas sudah ada di ruangannyaโ€ฆ bersama Saskia. Mereka duduk bersebelahan, tertawa kecil sambil membahas sesuatu di layar laptop. Pintu kaca tertutup, tapi tawa mereka terdengar jelas. Aruna berdiri di luar ruangan selama beberapa detik. Matanya basah, tapi ia tak ingin terlihat lemah. Ia berbalik, melangkah pergi ke meja kerjanya tanpa suara. Risa menghampiri, membawa secangkir kopi. โ€œRun, kamu nggak apa-apa? Kamu pucat banget.โ€ Aruna tersenyum kaku. โ€œAku cuma kurang tidur.โ€ --- Hari itu, Dimas nyaris tak bicara padanya. Hanya sekilas sapaan dingin di lorong kantor. Tak ada senyum, tak ada percakapan seperti dulu. Bahkan ketika Aruna menaruh berkas revisi di mejanya, Dimas hanya mengangguk tanpa menatap. Namun saat Saskia lewat dan memanggil namanya, Dimas langsung menoleh dengan senyum hangat. Dan di situlah Aruna benar-benar merasaโ€ฆ tak terlihat. --- Beberapa hari kemudian, kantor mengadakan rapat tim proyek di luar kota. Semua anggota tim diundang โ€” termasuk Aruna. Tapi entah kenapa, saat daftar nama peserta dibagikan, namanya tidak ada. Ia menghampiri Dimas di ruangannya. โ€œMas, kenapa aku nggak masuk daftar peserta rapat?โ€ Dimas menatapnya sebentar, lalu menjawab datar. โ€œKamu bisa bantu dari sini aja, Run. Saskia yang ikut mewakili tim.โ€ โ€œPadahal aku yang nyusun laporan utamanya,โ€ suara Aruna bergetar. โ€œAku tahu,โ€ jawab Dimas tanpa ekspresi. โ€œTapi ini keputusan manajemen.โ€ Manajemen. Kata itu terasa seperti dinding dingin yang memisahkan mereka. Aruna menunduk, menahan air mata. โ€œBaik, Mas.โ€ --- Malam sebelum keberangkatan, Aruna melihat Dimas di parkiran. Ia memasukkan koper ke bagasi mobil bersama Saskia. Saskia tertawa pelan sambil memegang lengan Dimas, dan laki-laki itu tak menepis. Aruna berdiri di kejauhan, tubuhnya gemetar. Tiga tahun ia mendukung Dimas tanpa pamrih. Tiga tahun ia mencintai dalam diam, berkorban dalam senyap. Dan kini, semua pengorbanan itu terlihat begitu sia-sia. > โ€œApa salahku sampai harus kalah dari perempuan yang baru datang sebulan?โ€ โ€œAtau mungkinโ€ฆ aku memang bukan orang yang pantas diperjuangkan?โ€ Hujan turun tiba-tiba, membasahi wajahnya โ€” entah hujan, entah air mata. Ia berjalan pulang dalam diam, sementara di belakang sana, mobil Dimas melaju menjauh bersama Saskia. --- Di kamar malam itu, Aruna menatap cermin. Perempuan di depannya tampak asing โ€” matanya sembab, senyumnya hilang, pundaknya lelah. Ia menatap dirinya lama, lalu berbisik: > โ€œMungkin aku harus belajar berhenti. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku sudah cukup kuat untuk melepaskan.โ€ Ia tahu, hatinya belum siap. Tapi luka yang ia rasakan sudah terlalu dalam untuk terus dipendam. Dan entah kenapa, di lubuk hatinya yang paling sunyi, Aruna mulai merasa bahwa perjalanan iniโ€ฆ belum berakhir. Bahwa badai sesungguhnya baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD