Lucky: Senyuman Pita "Om, nggak apa-apa?" tanya gue. Sosok laki-laki setengah baya itu tersenyum kecil, sesekali mengangguk-angguk. "Harusnya saya yang nanya. Kamu, nggak apa-apa, kan?" Gue balas mengangguk, tersenyum lebar seolah menunjukkan kalau gue baik-baik aja. Kalau bukan karena laki-laki di depan gue ini, mungkin gue bakal dirawat di rumah sakit lagi. Gue yang lagi buru-buru pas nyebrang, hampir aja kena serempet motor. Gue nggak sempat mundur karena terlalu terkejut. Tapi, untungnya ada Om Damara yang menarik gue mundur sampe gue jatuh menimpa tubuhnya. Gue melihat siku Om Damara terluka, bahkan sampe mengeluarkan darah karena ditindih badan gue. Gue nggak enak aja, masa cuma bilang terima kasih, sedangkan orang yang menolong gue malah mendapat luka. Gue mengajak Om Damara

