Pita: Pertengkaran Pertama
"KALIAN DI MANA, ANJIR!?"
Lucky sontak menarik ponsel dari telinganya jauh-jauh. Gue bisa mendengar cowok berhidung mancung tersebut berteriak sangat-sangat nyaring. Gue berdecak, setengah kesal karena Aree mengganggu momen berdua gue sama Lucky.
Pagi-pagi banget. Sekitar pukul enam pagi lewat, Aree tahu-tahu telepon Lucky. Awalnya sengaja gue reject. Ganggu banget, sih. Gue baru aja bisa tidur satu jam yang lalu, tapi harus kebangun gara-gara telepon dari Aree. Nggak jelas kenapa, pas diangkat, belum bilang halo, cowok itu udah ngegas duluan.
"Apa sih, Ar?" tanya Lucky menempelkan ponselnya ke telinga, lagi.
"Pita! Mana, Pita?"
Lucky mengerutkan dahi lalu menoleh ke gue. "Ngapain nanyain Pita?" tanya Lucky, heran.
Gue balas menatap Lucky, seolah ikutan bingung kenapa Aree nanyain gue. Kan, aneh. Gue sama Aree nggak ada apa-apa. Biarpun dia ikutan tinggal satu atap sama gue dan Lucky, suka gangguin gue, tapi gue yakin Aree pasti masih punya otak buat nggak mengganggu istri temennya sendiri. Dia boleh buaya, tapi, Aree nggak g****k, dong.
"BURUAAAN!"
Lucky mengangsurkan ponselnya ke gue. Cowok itu menggelengkan kepalanya sambil menggerakkan bibirnya tanpa suara saat gue tanya kenapa Aree nanyain gue.
"Apaan?" tanya gue, sengak.
Aree menarik napas, kasar. "Usir nyokap lo!"
"Hah?" Sepasang mata gue mengerjap.
Di samping gue, Lucky menjawil bahu gue sambil bertanya kenapa. Gue menepis tangan Lucky pelan, lalu menggeleng sebagai jawaban. Gue emang nggak tahu kenapa tiba-tiba aja Aree minta gue ngusir Mama yang lagi nginep—ah, nggak bisa dibilang nginep juga, sih. Tapi ikut tinggal sama gue dan Lucky untuk waktu yang cukup lama. Entah sampe kapan gue juga nggak tahu. Kalau gue tanya mau ikut tinggal sampe kapan, wanita itu bakalan membuat sebuah drama yang bakalan bikin gue makin muak. Bisa-bisa gue yang nggak betah tinggal di rumah sendiri.
Kalau bukan karena bujukan Lucky, gue nggak akan mau menampung wanita yang udah meninggalkan gue dan Papa demi laki-laki lain. Dia sendiri yang mengambil keputusan untuk pergi dari kehidupan gue, kan? Lalu, kenapa sekarang kembali lagi? Kalau wanita itu pikir gue seneng dia balik, nyatanya, nggak. Gue malah muak. Apa lagi sewaktu wanita itu bilang, "Mama nggak punya siapa-siapa selain kamu," Sambil mengeluarkan air mata buaya. Jadi, Mama nggak akan balik ke gue—anaknya—kalau masih ada laki-laki yang mau menampungnya, iya, kan?
"Mama, lo, serem, Pita!" teriak Aree, gantian gue yang refleks menarik ponsel dari telinga.
Berbulan-bulan gue kenal Aree, baru kali ini gue denger dia teriak. Mana keras banget, lagi. Gue yakin, Lucky juga bisa denger suara Aree barusan. Lucky mengambil alih ponsel di tangan gue. Cowok itu mengaktifkan loudspeaker-nya, lalu meletakkannya di atas pangkuannya agar gue bisa mendengar penjelasan Aree.
Cowok itu menarik napas panjang. Gue sama Lucky jadi noleh barengan dan menatap satu sama lain. Dalam hati, gue bertanya-tanya. Kira-kira, Mama gue bikin ulah apa di rumah sampe bikin Aree semarah ini, sih?
"Mama, lo...," Aree mendesah, "Sialan. Gimana gue bilangnya." Setelahnya, Aree mengumpat.
"Tarik napas dulu, Ar. Lo kedengeran kayak orang frustrasi sekarang," gurau Lucky.
"Gimana gue nggak frustrasi, sih?!" jerit Aree.
"Mama gue ngapain, sih? Dia ngacak-ngacak rumah atau dapur?" tanya gue, asal.
Lagi-lagi Aree menarik napas panjang, lebih kasar dari sebelumnya. "Lebih baik nyokap lo obrak-abrik rumah sama dapur, deh. Bakar sekalian juga nggak apa-apa!" oceh Aree makin ngaco.
"Mulut lo, anjir!" tegur Lucky. "Kalau rumah kontrakan kita dibakar, kita mau tinggal di mana?!"
"YA DARIPADA GUE DIPERKOSA SAMA MAMA MERTUA LO, b*****t!"
"Hah?" sahut gue, bengong.
Lucky ikut menyahut, "Gimana, Ar? Gimana?"
***
Gue kira, Mama bakalan berubah setelah kecantikan dan tubuh rampingnya dimakan usia. Wajahnya udah nggak secantik dulu, kulit tangan dan lehernya jelas menunjukkan kalau usia Mama udah nggak muda lagi. Tapi, kenapa masih berani berusaha menggoda laki-laki, sih?
Kalau yang digoda laki-laki seumuran Mama, ya, masih mending. Gue bisa memaklumi karena Mama emang nggak bisa hidup tanpa sentuhan laki-laki. Ah, mungkin ini terdengar kurang ajar. Gue seorang anak, tapi kata-kata gue menunjukkan seolah Mama adalah seorang j****y. Tapi, itu emang kenyataan. Mama gue, murahan. Saking murahannya sampe menghasilkan gue, dong. Gue jadi pengin nanya sama Mama, deh. Kalau gue tanya siapa Ayah kandung gue, kira-kira Mama inget laki-lakinya yang mana nggak?
Telepon dari Aree pagi tadi nggak berhenti membuat gue shock. Lucky sama halnya kayak gue. Dia—nggak nyangka kalau Mama gue—akh, gue harus menyebutnya apa sih? Mama gue bertindak nggak senonoh sama Aree? Digrepe-grepe pas lagi tidur? Atau... nyaris aja diperkosa? Mendengar sebutan yang terakhir, tahu-tahu si Lucky malah cekikikan kayak orang nggak punya dosa. Katanya, dia penasaran gimana reaksi Aree waktu badannya diraba-raba sama Mama. Ah, iya. Bahkan—Aree dicium sama Mama. Aduh.
"Kayaknya gue harus pergi ke psikolog! Ah, nggak, nggak, ke psikiater kalau perlu!" dumel Aree mondar-mandir di depan gue sama Lucky.
Karena dia telepon pagi banget, apa lagi gue yang nggak punya tenaga buat jalan ke mana-mana, gue suruh aja si Aree menyusul ke apartemen Bang Lakka. Selain apartemen ini lagi kosong, paling nggak, si Aree bisa menceritakan kronologinya lebih tenang.
Lucky nggak berhenti cekikikan sampe Aree makin kesal. Cowok berambut pirang tersebut membuka sebelah sepatunya lalu melemparkannya ke arah Lucky. Lucky segera menepis lemparan sepatu Aree dan malah mengenai bingkai foto yang menggantung di dinding.
"Mampus, pecah, Ar!" seru Lucky menengok ke belakang.
Gue ikut-ikutan melihat bingkai foto yang jatuh akibat lemparan sepatu dari Aree. "Iya, bener. Bingkainya pecah," gumam gue, kemudian menatap Aree.
"Foto Kak Chua lagi yang lo pecahin!" tambah Lucky.
Aree menjambak rambutnya, dan mengerang kesal. "Urusan foto, ntar aja, ya!" serunya. Cowok itu menunjuk gue dan Lucky dengan ujung jarinya. "Sekarang, gue minta lo bawa pergi Mama lo, Pit! Bawa pergi Mama lo jauh-jauh!"
"Ya, nggak bisa gitu, Ar,"sahut Lucky, santai.
"Ya bisa, dong!" Aree nggak terima. Sambil menggulung kemeja birunya, cowok itu menghampiri sofa dan memaksa duduk di tengah-tengah gue sama Lucky. "Kita bayar rumah kontrakan, patungan, ya. Gue juga berhak menentukan siapa aja yang boleh dan nggak boleh tinggal di rumah itu!"
Gue duduk di ujung sambil memerhatikan kedua cowok ganteng tersebut saling berdebat. Aree kekeuh pengin Mama pergi dari rumah kontrakan, sedangkan Lucky, cowok itu merasa nggak enak sama Mama. Gue tahu gimana posisi Lucky. Tapi dia juga harus tahu orang macam apa yang udah dia tampung di rumah. Baru beberapa jam tinggal di rumah, Mama nggak berhenti mengoceh soal rumah kontrakan kita yang menurutnya sangat kecil. Malahan, dianggap nggak layak untuk ditinggali. Eiiii. Nggak layak ditinggali gimana, sih? Emang rumah kontrakan yang gue tinggali nggak sebesar atau semewah rumah Papa. Tapi, masih sangat-sangat layak buat ditempati. Emang nggak ada AC, nggak ada kolam renang, kamar mandi pun cuma satu. Jadi, bukan berarti nggak layak, dong?
Itu soal rumah. Belum lagi komentar Mama soal perabotannya. Katanya, kenapa nggak beli mesin cuci aja? Kenapa cuma ada kursi, bukan sofa? Kenapa, kenapa, dan kenapa sama perabotan ini dan itu. Ya kalau numpang, mah, harus tahu diri kali. Biar kata gue suruh tidur di lantai tanpa tikar, pun, harusnya udah seneng, dong. Daripada tidur di emperan, kan?
"Ky," Aree menarik napas sesaat. "Gue tahu lo baik, tapi tolong dong, Mama mertua lo nggak sebaik itu. Gue yakin, kembalinya Mama mertua lo, cuma mau manfaatin lo sama Pita doang."
Lucky diem.
Gue melirik Lucky sesekali, kemudian memerhatikan Aree yang udah nggak semarah tadi. Suaranya yang meninggi, sekarang mulai merendah. Entah untuk merayu Lucky supaya mengusir Mama gue, atau emang kasian sama suami gue. Walaupun mereka suka teriak-teriak nggak jelas, saling adu bacot, kadangkala si Aree egois, suka maunya sendiri, tapi gue tahu banget kalau mereka emang temenan baik. Bukan sekadar di depan doang baik, di belakang juga sama. Gue yakin, Aree pasti punya pikiran yang sama kayak gue.
"Kasih gue waktu," Lucky membuka suaranya selama lima menit penuh bungkam. "Gue nggak mungkin nyuruh Mama pergi dari rumah gitu aja. Paling nggak, Mama punya tempat buat tidur."
Gue sama Aree kompakan diem. Sempat melirik satu sama lain seolah mengatakan, "Bego." Tapi gue nggak berani ngomong.
Aree kehabisan kata-kata untuk membujuk Lucky. Cowok itu meminta agar Aree mau bersabar sedikit lagi sampe Lucky menemukan tempat tinggal baru buat Mama. "Terserah lo," kata Aree lalu menyambar jaketnya. Sambil memasang jaket ke badannya, cowok berwajah bule itu mengatakan, "Intinya, gue nggak mau lo dimanfaatin sama wanita itu, biarpun dia Mama mertua lo."
Setelahnya, Aree pergi meninggalkan apartemen Bang Lakka dengan raut wajah kesal. Gue lihat Lucky menundukkan kepala seolah sedang memikirkan sesuatu. Sebentar, Lucky bilang, Lucky mau mencarikan tempat tinggal buat Mama? Di mana? Nggak mungkin, kan, Lucky menyuruh Mama tinggal di sini? Di apartemen Bang Lakka?
"Kayaknya... gue harus cari rumah kontrakan," gumam Lucky menolehkan kepalanya ke gue.
"Buat apaan? Kita mau pindah?" tanya gue, heran. "Ky, masa iya gara-gara Mama, lo jadi berantem sama Aree, terus pindah ke kontrakkan lain, sih?"
"Bukan," sela Lucky. "Kita nggak pindah. Kita masih tinggal sama Aree di kontrakan yang sama."
"Ya, terus? Buat apaan?"
"Buat Mama," jawab Lucky. "Kita kontrak satu lagi rumah buat Mama tinggal. Gimana?"
***
Gue nggak habis pikir sama Lucky. Bisa-bisanya dia berpikiran mau mengontrak satu rumah lagi buat tempat tinggal Mama. Untuk membayar sewa kontrak satu tahun nggak murah, ya. Gue tahu alasan Lucky sampe bela-belain kuliah sambil kerja itu apa. Ya buat menghidupi gue, dan segala macam kebutuhan sehari-hari, termasuk membayar sewa kontrak rumah. Jadi, bisa dipastikan pengeluaran gue sama Lucky bisa dua kali dari biasanya kalau dia masih ngotot mau ngontrak satu rumah lagi.
"Gue nggak setuju sama ide, lo," kata gue sambil membuka pintu rumah buru-buru.
"Ya daripada Aree ngomel terus, Pit," jawab Lucky.
Gue membalikkan badan ke belakang, menghadap ke Lucky. Cowok itu sempat terkejut, "Kalau gitu, biar Mama yang pergi."
"Kasian Mama, Pit!"
Gue mendengus, keras. "Lo nggak kasian sama gue ya, Ky?" Gue menunjuk d**a dengan satu jari. "Gue udah ditinggal Mama dari kecil, loh. Selama itu dia ke mana? Telepon gue, nggak? Ngasih tahu dia di mana, nggak? Nggak, Ky! Sama sekali. Minimal dia telepon gue, bilang kalau dia terpaksa ninggalin gue. Asal lo tahu, gue jauh lebih seneng dia bohong kalau dia kangen gue, ketimbang lama menghilang, terus, tahu-tahu muncul sambil bilang, 'cuma kamu yang Mama punya, Pita' lo pikir gue seneng dia bilang, gitu? Nggak, ya, Ky. Sama sekali nggak!"
Lucky membawa gue masuk ke dalam setelah salah satu tetangga kita lewat dan melihat gue marah-marah sambil menangis. Dibawanya gue ke meja makan. Gue nggak berhenti sesenggukkan, mengeluarkan semua unek-unek gue selama ditinggal sama Mama.
"Tapi, Pit, kalau kita usir Mama, Mama mau tinggal di mana? Kalau kita ngontrak satu rumah lagi, kan, kita nggak kepikiran." Lucky menarik kursi di samping gue, memegangi kedua tangan gue dan menggenggamnya erat-erat. "Kasian, Mama. Gue nggak tega kalau lihat Mama hidup nggak jelas di luar sana."
"Hidup gue bahkan berantakan gara-gara ulah dia!" jerit gue di depan Lucky. "Nggak cukup dia ninggalin gue gitu aja? Nggak cukup bikin Papa benci sama gue?"
"Pita..."
"Ky," gumam gue, serak. "Lo nggak tahu aja gimana Mama. Semakin lo baik, Mama nggak bakalan berhenti meminta lebih. Lo nggak akan sanggup."
"Gue bakalan bekerja lebih keras lagi, kalau perlu gue minta cuti kuliah."
Gue menatap Lucky, tajam. "Lo mau minta cuti kuliah? Buat apa? Lihat lo ngajar les anak-anak sampe pulang malem aja gue nggak tega. Apa lagi sampe lo kerja sana-sini. Lo mikirin perasaan gue nggak, sih?" jerit gue makin sesenggukkan.
"Ada apa ini? Lucky, Pita?" Wanita yang menjadi pemicu pertengkaran gue dan Lucky membuka pintu kamar dan menatap kita berdua seolah ingin menengahi.
Gue tertawa, setengah menangis. Setelah bertahun-tahun lamanya menghilang, lalu kembali lagi, dan hebatnya, belum genap sehari wanita itu kembali, dia udah bikin gue sama Lucky berantem. Ini pertama kalinya kita bertengkar. Dan gue yakin, ini bukan jadi pertengkaran pertama dan terakhir gue sama Lucky. Selama masih ada Mama di sini, maka akan semakin sering kita berantem.