Lucky: Firasat (2) Bugh! Perhatian orang-orang terarah ke gue. Ruang tunggu yang semula agak bising kini mendadak hening. Beberapa orang beranjak dari bangku, lantas berlalu meninggalkan tempat duduk mereka. Baru aja gue kena pukul Kak Evan. Gue yang jelas nggak siap apa-apa jatuh tersungkur ke lantai. Nggak ada satu orang pun yang membantu gue berdiri selain menatap gue dengan tatapan serbasalah. Bahkan—Abang gue tetap berdiri di tempatnya lalu pergi sambil menjejalkan sebelah tangannya ke dalam saku. Kini, cuma ada gue, Kak Evan dan Mama mertua gue. Rasa perih bercampur panas terasa di sudut bibir gue. Kak Evan menatap gue penuh amarah. Kenapa Kak Evan semarah ini sama gue? Apa yang udah gue perbuat emangnya? "Van, udah!" Mama mertua berusaha menarik Kak Evan menjauhi gue. Wa

