Sebuah Fakta

2820 Words

Lucky: Sebuah Fakta Genggaman tangan gue nggak terlepas sama sekali. Ketika tatapan mata gue terarah ke luka di pergelangannya. d**a gue sesak banget. Kayak diisi penuh sama banyak sampah yang sulit gue keluarkan biarpun menggunakan berbagai cara. Pagi-pagi tadi, gue balik ke rumah sakit. Semalaman gue nggak bisa tidur mau dipaksa kayak gimanapun. Kalau bukan karena Papa yang memaksa gue buat pulang, gue nggak akan mau meninggalkan Pita sedetik pun. Tetapi Papa nggak berhenti memaksa agar gue mau pulang untuk istirahat walaupun cuma sebentar. Kata Papa, gue udah kayak zombie. Wajah gue pucat, nggak ada tenaga buat berdiri lebih lama—dan bisa aja ambruk dan ikutan dirawat di rumah sakit. Pada akhirnya gue menurut, apa lagi di sana Mama nggak berhenti membujuk juga. Mau nggak mau, gue pu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD