BAB 6 : TAKDIR TANPA RASA

1621 Words
Nada keluar dari wilayah sekolahannya dan netra segera menemukan mobil putih milik Galeo sudah bertengger di sisi kanan sekolah besar itu. Tanpa menunggu lama lagi Nada segera menuju kearah mobil Fortuner itu berada. Ia mengetuk pintu mobil putih itu memberitahu si pemilik bahwa yang di tunggu sudah siap di luar mobil, tak menunggu lama Galeo segera membuka jendela mobilnya. “Masuk, Nad.” pinta Galeo pada Nada Nada menarik handle pintu mobilnya setelah di persilahakan sang pemilik, nafasnya sedikit tersenggal karena takut membuat Galeo menunggunya lama. Untuk kali ini—untuk pembicaraan mereka kali ini apapun nanti keputusan dari pihak Galeo, Nada sudah pasrah meskipun ia menginginkan Galeo juga sama-sama memilih kata setuju dalam rencana ini. “Abang abis ini masih mau jaga?” tanya Nada setelah melihat penampilan Galeo yang masih lengkap dengan jas Dokternya dan stetoskop yang masih bertengger manis di lehernya “Ah—eh iya abis ini masih mau jaga, Nad.” Galeo salah tangkah dan merutuki sikapnya yang lupa melepaskan peralatan dokternya “Iya gapapa kok Bang—di rumah sakit lagi rame banget ya Bang, sampe lupa di lepas itu alat-alatnya.” Galeo hanya mengangguk—iya sangat malu mengetahui sikapnya yang terburu-buru, dan semua ini salah Javier dan Sean yang membuatnya harus mempermalukan di depan Nada. Kemudian suasana kembali sepi, Nada merasa canggung berdua bersama Galeo seperti ini, apalagi di tinggal berdua begini tanpa Nada lakukan sebelumnya memang benar-benar membuat suasana menjadi aneh dan canggung. Galeo sembari melihat-lihat tempat makan yang bisa mereka kunjungi tentunya yang terlihat sengang. Bagi Galeo membicaraan prihal penting dengan suasana riuh menganggu membuatnya tak bisa leluasa mengatakan apa yang akan Galeo sampaikan, namun sayang di saat jam makan siang seperti ini rumah makan yang ingin Galeo kunjungi ternyata di luar dugaan, pengunjungnya rame dari apa yang ia pikirkan. “Nad, mau makan dimana?” tanya Galeo bingung “Semuanya rame ya—abang mau makan di rumah aja?” tawar Nada “Di rumah ya—kamu bisa masak?”tanya Galeo memastikan “Bisa, Abang mau Nada masakin apa?” “Apa aja saya makan.” singkat Galeo dan Nada mengangguk mengiyakan ΩΩΩ Nada kira Galeo akan mengajaknya pulang ke rumah orangtuanya namun ia salah, Galeo malah membelokkan laju mobilnya ke arah rumahnya. Ya rumah bersama Nadi dulu. Nada menatap serius ke arah Galeo yang masih saja santai mengemudikan stir mobilnya, apa ini tidak salah? Galeo mengajak Nada ke rumah pribadi laki-laki itu. Tidak ingin berpikir macam-macam, Nada segera mengalihkan pikiran aneh-anehnya. Ia percaya Galeo bahwa laki-laki di sampingnya ini tidak akan melakukan hal aneh-aneh seperti yang berada di otak cantiknya itu. “Abang serius ngajak aku ke rumah Abang?” “Serius, disini yang sepi—kamu tahu sendirikan dimana-dimana tempatnya rame,” Galeo masih menjawab dengan tenang dan sembari melepas seltbeltnya “Memangnya enggak apa-apa?” cemas Nada “Kamu mikir apa sih Nad? Kan disini kita cuman sekedar makan dan ngomong setelah itu saya antar kamu lagi balik ke sekolah “Oh—oke,” Kemudian Nada mengikuti Galeo masuk ke rumah laki-laki itu. Sebegai kakak dari Nadi—Nada jarang berkunjung ke rumah minimalis ini, Nada akan menunggu Nadi berkunjung ke rumah orangtuanya bahkan bila kepepet saja Nada bersedia ikut datang ke rumah Nadi—hanya karena ia canggung bertatap muka dengan wajah Galeo. Semua orang akan bertanya-tanya ada rahasia apa sampai Nada selalu enggan untuk menatap Galeo atau berkunjung rumah Nadi dan Galeo. Karena semua ada alasannya dan Nada enggan membeberkan sekarang nanti bila waktunya sudah tepat. “Ini dapurnya—kamu bebas mau masak apa, saya ikut apa yang kamu masak.” ujar Galeo setelah menyilahkan Nada untuk masak “Iya, Bang.” “Saya tinggal dulu ke dalam.” Nada mengangguk dan mempersilahkan Galeo pergi ΩΩΩ Galeo tercengang Nada bisa memasak tiga macam masakan dalam waktu sesempit ini, ia memang harus memberikan Nada penghargaan nanti dan masakan Nada memang tak di ragukan lagi—masakan di depannya itu sungguh pas di lidahnya ini—yang memang sulit sekali menyesuaikan masakan ala rumahan. Keduanya menikmati makan siang itu dengan waktu terburu-buru, setelah selesai makan mereka berdua tak beranjak dari tempat duduk mereka di meja makan itu. “Nada.” Nada mengalihkan pandangannya ke arah Galeo yang memanggilnya dengan nada lembut, sungguh Nada kesal dengan suara panggilan Galeo yang lembut di telinganya. “Saya ingin membicarakan tentang rencana konyol kedua orangtua kita—saya rasa menjalani pernikahan ini tak begitu merugikan,” Galeo mulai berbicara “Jadi Abang berubah pikiran.” “Saya kekanak-kanakan kan—saya terlalu larut dalam perasaan egois saya dan tak memikirkan kebahagian Aira kedepannya.” ujar Galeo lagi “Jadi ini karena Aira—ya ampun Nada jangan Geer dulu kamu ini.” Runtuk dalam hati Nada “Jadi Abang menyetujui juga rencana pernikahan ini?” Galeo mengangguk “Iya—saya rasa perkataan Mama dan Mami ada benarnya, saya tidak boleh terus-terusan egois bukan.” Nada mengangguk membenarkan “Tapi Nada, ada yang harus kamu tahu—“ “Apa?” “Jangan pernah mengharapkan apapun dari pernikahan ini, karena—perasaan apapun itu jenisnya masih terukir nama Nadi disini. Jadi saya mohon untuk kamu tak berharap lebih pada pernikahan ini.” “Nada tahu—karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah terlihat.” balas Nada penuh makna “Nada, saya minta maaf—“ “Ah—enggak apa-apa aku mengerti, Bang.” Nada mencegah Galeo merasa tak enak hati “Bisa antar aku sekarang kembali ke sekolah karena tiga puluh menit dari sekolah jam makan siangku sudah abis.” Galeo mengangguk segera bangkit dari tempat duduknya. ΩΩΩ Sepuluh menit berlalu—seharusnya Nada bahagia dan senang Galeo sudah menyetujui pernikahan ini. Namun ada sisi perasaan lain yang membuatnya tersentil, perkataan mendalam laki-laki itu. Bagaimana bisa Nada merasakan hal kecewa yang tak terlihat lagi, sungguh seharusnya ia senang-senang saja bukannya malah kepikiran hal seperti  ini. Ia tak ingin mengatakan kenapa Tuhan tak adil dengannya, saat bersama Mahendra perasaan ganjil selalu ada mengiringi namun kenapa rasa pada masalalunya terngiang aneh tak ingin usai. Kesal dengan perasaannya, Nada bangkit dari duduknya mungkin ia membutuhkan teh hangat untuk menangkan rasa yang membludak yang bermetamorfosisi menjadi emosi. “Eh—mau kemana, Nad?” tanya rekan Nada yang bernama Gia “Kantin sebentar Bu.” Balas Nada singkat “Abis ini masih ada rapat jangan lama-lama,” Nada mengacungkan jempolnya kearag Gia dan kemudian pergi ke kantin. Ia butuh teman bicara tapi nanti setelah jam kerjanya selesai dan setelah dari kantin ia ingin fokusnya hanya terfokus pada urusan sekolah. ΩΩΩ “Sean, gue udah ngomong sama Nada tadi.” “Ya udah bagus—terus ngapa muka lo malah kusut bukannya happy?” tanya Sean “Gue kayanya salah ngomong deh Sean,” “Salah ngomong gimana lo?” kepo Sean lagi “gue cuman ngomong gini ‘Jangan pernah mengharapkan apapun dari pernikahan ini, karena—perasaan apapun itu jenisnya masih terukir nama Nadi disini. Jadi saya mohon untuk kamu tak berharap lebih pada pernikahan ini’ ya kurang lebih gue ngomong gitu sih sea—“ “g****k!” erang kesal Sean “Baru kali ini gue punya temen, dokter lagi tapi begonya ngalahin orang bucin—“ “Apa sih—yang jelas lo.” “Lo yang ga jelas, Galeo! Lo mikir kagak kalo si Nada bakal kepikiran sama kata-kata lo hah!?” kesal Sean pada ekspresi Galeo “Memang salah gue ngomong gitu? Kan gue ngomong apa adanya.” “Salahlah b**o banget lo—hah!” geram Sean lagi “Udahlah urus aja dulu kebegoan lo ini—semoga Nada setelah mendengar kata-kata lo tadi, pas di hari H-nya enggak milih kabur karena calon suaminya otaknya emang masih di dengkul.” ujar Sean yang kemudian meninggalkan Galeo bingung dengan ekspresinya Galeo semakin gemas dengan perasaannya—ada apa sebenarnya, apalagi melihat ekspresi Sean menanggapi apa yang Galeo ceritakan. Benarkah apa yang di katakannya tadi siang sungguh melukai hati Nada? ΩΩΩ Kesal melengkapi Nada dan tentu rasa kecewa yang berulang kali Nada tepis namun sayang pikiran-pikiran itu semakin menggerogoti pikirannya yang tak bisa tenang dari tadi, hingga waktu kerja sudah usai. Untung tadi pagi ia pergi bekerja minta di antar oleh sopir ayahnya bila ia nekat membawa mobil sendiri Nada tak yakin ia bisa selamat sampai di rumah seperti saat ini. Pikirannya berkelana kemana-kemana sungguh itu menyusahkan. Sepertinya ia membutuhkan waktu bersenang-senang mengajak Gia berjalan-jalan sebagai teman boleh juga, mungkin ia bisa bermalam di apartement sahabatnya itu. “Mama, Nada mau ijin sebentar ya dari ngurus Aira—aku mau me time sebentar.” Ijin Nada “Lama?” “Kayanya aku mau nginep di rumah Gia, boleh?” Mila menatap putrinya. “Kalo bisa pulang ya Mbak, kalo masih bareng Gia ya sudah enggak apa-apa, toh besok weekand.” “Mama ijinin kan kalo Nada nginep di apartemennya Gia?” “Memangnya Mama bisa larang?” lanjut Mila lagi “Makasih Mama—Aira aunty pergi sebentar ya, nanti kamu bisa habisin malam minggu sama Papa, begadang sama Papa ya.” Nada pamit pada keponakaannya “Hati-Hati Aunty,” Mila membalas pamit Nada dengan meniru suara anak kecil “Pamit ya Ma, Assalamu’alaikum.” pamit Nada “Wa’alaikumsalam.” ΩΩΩ Menghabiskan waktu dengan sahabat adalah hal yang sudah jarang Nada lakukan bahkan dengan Gia pun  karena mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan serta tugas masing-masing, apalagi pekerjaan di sekolah tempat mereka mengampu sedang sibuk-sibuknya menyiapkan acara lomba olimpiade, Nada dan Gia kembali di percaya untuk mengurus acara olimpiade yang sudah sekian kali menjadi tuan rumah untuk ajang mengasah kecerdasaan itu. Dan sekarang waktunya untuk memanjakan diri setelah berkecimpung dengan persiapan-persiapan yang memang menguras tenaga itu. Menjadi anggota yang di daulat menjadi kepercayaan olimpiade ini mereka berdua tak ingin setengah-setengah karena Nada dan Gia menginginkan kegiatan ajang olimpiade ini berbeda dari tahun yang lalu. “Pertama-tama kita makan dulu yuk,” ajak Nada “Oke, makan banyak ya Nad—gue laper banget tadi siang nggak sempat makan nih.” keluh Gia “Oke, kita makan di The Bancakaan ya—kan porsinya banyak tuh,” Nada memberi ide “Boleh, gue juga lagi kurangin daging nih.” yang kemudian mereka berdua berjalan kearah dimana restoran itu berada Sore itu tak begitu rame membuat Nada dan Gia segera mendapat tempat duduk, sembari menunggu menu mereka datang Nada dan Gia saling melempar candaan dan tak lepas dari kata menilai penampilan orang-orang yang lewat di depan restoran tersebut. “Btw, Nad—lo beneran yakin ambil itu rencana nikah?” tanya Gia penasaran “Iya, gue udah setuju kok Gi—cuman untuk Aira, bukan lain-lain.” “Lah—kenapa lo mau aja sih Nad—lo enggak mikirin hati lo?” “Saat ini gue mau ikutin alurnya dia dulu Gi, dia mau berubah syukur, dia masih tetap mau sama masalalunya ya udah, gue kan nggak bisa maksa.” “Hell! Lo istrinya Nada, lo bakal jadi istri sahnya.” “Iya gue tahu—gue nggak bisa maksa—doain aja deh Gi,” pinta Nada “iya nanti gue doain—biar Bang Galeo dapet karma,” kesal Gia “Giaaa! Ih ngomongnya begitu.” “Karmanya biar jadi jatuh cinta ke elo—jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, sekalian tuh jadi bucin, kesel gue.” “Hahahahahaha—ya udah makan dulu, nanti kita lanjut lagi.” Ajak Nada segera menikmati menu yang sudah berada di depan mereka Inilah yang membuat Nada bahagia berteman dengan Gia, Gia adalah manusia terrealitis yang pernah ia temui, wanita di depannya ini, sahabatnya ini, meski hidupnya penuh lika-liku ia tetap santai menghadapi masalahnya. ΩΩΩ
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD