“Baik.” Humas yang bertugas menerima tamu dan rekan yang diutus sementara untuk membantu menjawab bersama.
Pandangan Dinda terakhir jatuh pada Manda: “Manda Aulitama, dengar-dengar kamu merupakan karyawan terbaik di Departemen Bisnis. Nanti kamu ikut di samping Presiden Direktur baru dan bertanggung jawab atas pekerjaan di sampingnya, hal lainnya kamu nggak perlu urus.”
Manda menganggukkan kepala belum sempat menjawab, karyawan Humas Madona sudah menunjukkan pandangan menertawakan: “Manda, jika Presiden Direktur baru kita belum menikah, apa kamu akan mendapat kesempatan terlebih dulu?”
Omongan bagusnya adalah punya kesempatan mendekati Presiden Direktur baru, tapi siapapun tahu kalau ini merupakan sebuah kentang panas, siapa pun nggak bersedia menerima barulah bisa sampai giliran Manda.
Wajah Dinda mengerut dan melototi Madona: “Hari ini mungkin berhubungan dengan kedudukan kita semua nantinya, jadi semuanya lebih serius lagi.”
Begitu dimarahi Dinda semua nggak lagi bersuara. Manda diam-diam menarik nafas, berusaha mengeluarkan sikap terbaik saat bekerja.
Juga nggak bisa menyalahkan Dinda cemas, siapa sangka hal ini datang begitu mendadak.
Ketika semua mengira perusahaan baik-baik saja, jajaran Direksi mendadak mengeluarkan kabar kalau Presiden Direktur akan digantikan oleh orang baru.
Dan Boss besar yang akan mengambil alih ini sangat misterius, penanggung jawab setiap Departemen melalui berbagai saluran mencari tahu tapi nggak mendapat informasi apapun tentang dia.
Manda bukan orang yang suka ikut-ikutan biasanya, sekarang juga ikut memanjangkan lehernya memandang pintu masuk untuk melihat dewa darimana Boss besar ini?
“Datang, datang, setiap Direktur dan Presiden Direktur baru sudah datang.” Suara penerima tamu muncul dari walkie talkie dan menyebar ke telinga semua pekerja.
Rekan kerja semuanya secara nggak sengaja mulai merapikan baju dan berdiri di pos masing-masing dengan hormat.
Manda mengikut di belakang Dinda untuk pergi menyambut Boss besar misterius yang sudah dinanti lama oleh semua orang.
Baru saja berjalan beberapa langkah, sudah terlihat seorang lelaki tinggi besar yang mengenakan jas berwarna abu-abu silver dan dikerumuni beberapa lelaki berpakaian jas hitam melangkah dengan elegan menuju ruangan konferensi pers.
Nggak lihat masih nggak tahu, sekali melihat Manda langsung terpaku.
Lelaki tinggi besar yang mengenakan jas abu-abu silver berjalan paling depan dalam kumpulan orang jelas-jelas merupakan suami yang baru dinikahinya---Leonard Biantara!
“Nggak mungkin!” Manda pikir dia berhalusinasi, dia segera memejamkan mata dan menggoyang kepalanya agar dirinya segera sadar kembali.
Tapi ketika membuka matanya dan melihat lagi, rupa lelaki tersebut masih nggak berubah.
Jika orang lain dia mungkin bisa salah mengenali, tapi ini merupakan suami yang baru dia nikahi, nggak mungkin dia salah mengenalinya.
Wajah yang sempurna seperti pahatan pisau, badan kekar dengan tinggi 188 cm, dan saat berjalan terpancar aura menawan dan elegan.
Dari segi mana saja yang ditunjukkan oleh lelaki ini sangat persis dengan suami yang baru dinikahinya.
“Le, Leonard?” Manda menatap kuat lelaki itu dan mulutnya secara refleks memanggil namanya.
Seolah-olah mendengar suaranya, pandangan lelaki berpindah pelan dan berhenti di atas tubuhnya.
Mendapat tatapannya, Manda tegang hingga hampir lupa untuk bernafas.
Dia nggak pernah menyangka kalau suami “biasa” yang baru menikah berubah menjadi Presiden Direktur baru di perusahaan dia bekerja.
Dia menatapnya, kepalanya seperti diledakkan, mulai berdengung.
Pandangan lelaki terhenti di atas tubuhnya sebentar saja langsung dialihkan, acuh seperti sama sekali nggak mengenali dirinya.
Melihat pengacuhannya, hati Manda dengan cepat menjadi kelam.
Jelas-jelas dia adalah Leonard Biantara, merupakan suami yang baru dinikahinya. Kenapa menatap dia dengan pandangan yang begitu dingin?
Hanya dalam sekejap, di dalam hati Manda sudah terlintas berbagai pemikiran.
Yang paling mendekati realitas adalah dia mengira kalau saat ini sedang bermimpi, sebuah mimpi yang nggak realistis.
Leonard itu selalu lembut dan elegan, berbicara dan melakukan sesuatu sangat sopan, nggak akan mungkin melihatnya tapi masih berpura-pura nggak kenal.
Dia segera mencubit dirinya dengan kuat, kesakitan hingga sudut mulutnya bergeliat kemudian barulah dia menyadari kalau ini bukan mimpi melainkan memang dialaminya sekarang.
Jika memang ini bukan mimpi maka hanya ada satu kemungkinan, yaitu lelaki ini hanya memiliki wajah yang sama dengan Leonard, namun sebenarnya merupakan dua orang yang sangat berbeda.
Dinda menarik Manda dengan kuat dan memarahinya dengan suara rendah: “Manda, ini kondisi apa, sebenarnya apa yang kamu lakukan?”
Manda seperti sadar dari mimpi dan sedikit kesal dirinya kembali melamun.
Dinda kembali memarahinya dengan pelan: “Masih nggak cepetan ikut?”
Manda menganggukkan kepala dan dengan cepat ikut di belakang Presiden Direktur baru dan secara bersamaan sudah menyembunyikan perasaan pribadinya. Dia menggunakan identitas profesionalnya menghadapi Boss besar yang rupanya mirip dengan suami yang baru dinikahinya.
Dinda mempercepat langkah mengikuti sekelompok orang Presiden Direktur baru, membukakan pintu ruang perjamuan konferensi pers: “Dipersilahkan untuk semua Direktur dan Presiden Direktur baru!”
Diiringi dengan suara tinggi Dinda jatuh, ruangan konferensi pers yang besar muncul tepukan tangan yang meriah, semua orang melototi pintu masuk dan menunggu Boss besar yang misterius menampakkan diri.
Manda diam-diam menarik nafas dan mengikuti Boss besar dengan erat. Setelah Boss besar duduk dia dengan cekatan menyerahkan informasi yang sudah disiapkan.
Meskipun dia memiliki pengasahan profesi yang profesional tapi Boss baru perusahaan merupakan suaminya sendiri, dampak hal ini sangat kuat baginya jadi tangannya nggak sengaja bergetar dan getaran ini membuat data terjatuh dua buah.
Manda sedang bersiap jongkok untuk mengambil data yang jatuh, Leonard sudah membungkuk mengambil terlebih dulu kemudian dia menekan suaranya pada telinga Manda berkata: “Nanti malam tunggu saya di rumah.”
Jika Leonard nggak mengatakan ini, Manda masih bisa memaksa dirinya mengangap dia hanya orang yang mirip denggan suaminya. Begitu bicara, kepala Manda langsung meledak terpaku, dia tertegun bodoh dan melupakan apa yang harus dilakukannya.
Untung saja semua perhatian wartawan nggak pada dirinya, sehingga membuatnya memiliki sedikit waktu untuk mengatasi perasaannya.
Tapi, para wartawan nggak memperhatikan dia, karyawan Humas yang jeli nggak melewatkan sedikitpun episode singkat ini.
Departemen Humas menyiapkan dengan baik, semua Departemen juga bekerja sama dengan bagus. Leonard juga memiliki wibawa yang cukup menakutkan di tempat jadi konferensi pers jabatan baru dilaksanakan dengan sukses.
Sekelompok orang Presiden Direktur baru saja pergi, Madona sudah mendempet datang: “Manda, tadi kamu ‘nggak sengaja’ menjatuhkan dokumen, termasuk berhasil menarik perhatian Presiden Direktur baru kita.”
Alis Manda sedikit berkernyit, dia membalikkan tubuh dan berkata pada Dinda: “Bu Dinda, urusan Humas sudah selesai, saya kembali ke Departemen Bisnis dulu.”
Melihat punggung Manda, Madona marah dan menghentakkan kakinya: “Dia nggak pedulikan saya, bagaimana bisa dia nggak pedulikan saya. Atas dasar apa dia begitu angkuh?”
Dinda melototi Madona: “Setiap hari jangan hanya tahu mencari gara-gara, jika kamu masih beronar, yang pergi selanjutnya adalah kamu. Kalau ada kemampuan lakukan pekerjaan sendiri dengan baik. Asalkan kamu bisa naik ke posisi yang lebih tinggi dari dia maka kamu juga punya hak untuk angkuh.”
Madona melototi punggung Manda yang berjalan menjauh, menggertakkan giginya dengan benci: “Iya saya tahu kakak sepupu.”