P8.........
Ternyata beradu mulut dengan wanita 'bertopeng' itu benar-benar menguras emosinya sampai ke ubun-ubun. Aditya sebelumnya tidak pernah merasa kesal maupun benci pada seorang wanita. Baru kali ini ada wanita yang sungguh-sungguh menguji emosi dan amarahnya. Bayangan wajah wanita 'bertopeng' itu bahkan selalu hadir dalam benaknya tanpa pernah dia minta sekalipun.
Aditya langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah bar, kemudian memesan sebotol vodka. Mungkin minuman ini bisa sedikit membantunya melepas penat dan kekacauan yang melanda akibat insiden adu mulutnya dengan Indria.
Gelas demi gelas berisi vodka masuk tanpa jeda ke dalam mulutnya. Ya, minuman beralkohol sudah menjadi menu wajib bagi Aditya setiap hari. Apalagi, ketika pikirannya sedang suntuk seperti sekarang, maka keinginan untuk minum semakin bertambah.
Drrtt.....Drttt....
Handphone-nya berdering menandakan ada panggilan masuk. Aditya menatap layar telepon selulernya, dimana terpampang sebuah nama dari si pemanggil yaitu Raka.
"Ngapain Raka ngehubungi gue? Apa wanita itu mengadu tentang apa yang gue ucapkan tadi? Tapi, rasanya tidak mungkin karena itu sama saja dia membongkar aibnya sendiri." Aditya menerka-nerka.
"Dimana lo?!" tanya Raka di seberang sana dengan nada yang sepertinya tengah marah.
"Gue di bar. Ngapain lo nelepon gue?" Aditya balik bertanya pada saudara kembarnya itu.
"Berengsek lo! Gue suruh buat ngejagain Indria, tapi lo malah asyik minum di bar." Nada suara Raka terdengar murka.
"Gue baru nyampai di sini. Habis datang dari rumah lo, Raka. Asal nuduh aja lo," jawabnya tak terima. Dia baru menghabiskan waktu kurang dari 30 menit di bar ini. Tetapi, perkataan Raka seolah-olah menunjukkan sebaliknya.
"Gue kagak peduli. Sekarang lo harus cabut dari bar itu dan pergi ke rumah sakit." Perintah Raka dengan nada memaksa.
"Rumah sakit? Buat apaan?" tanya Aditya tak mengerti akan maksud saudara kembarnya.
"Indria masuk rumah sakit karena mengalami kontraksi pada perutnya tadi. Tolong lo jaga dia, Dit. Gue minta tolong ke lo," pinta Raka dengan serius.
"Yang benar lo? Kok bisa?" Aditya masih tak percaya akan pemberitahuan saudara kembarnya itu.
"Mana gue tahu! Gue lagi di Jakarta. Seharusnya gue yang nanya kayak gitu ke lo! Karena gue sudah berpesan agar lo bisa ngejaga dia dengan baik. Tapi, nyatanya apa?" Raka sangat kesal dengan tingkah Aditya yang mengabaikan permintaannya untuk menjaga wanita itu selama dirinya bertugas di Jakarta.
"Dia enggak apa-apa 'kan?" Aditya malah bertanya dan mengabaikan ucapan Raka. Rasa khawatir serta bersalah menerjang secara bersamaan.
"Awalnya pas gue ngehubungin Indria tadi, dia bahkan enggak mau ngaku kalau lagi di rumah sakit. Dia memang sering mengalami kontraksi tapi tetap aja gue cemas. Seandainya bisa, gue pengin balik hari ini juga buat ngejaga Indria," cerita Raka. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan Indria. Apalagi, setelah rencana ini realisasikannya.
"Tenang aja lo. Gue bakal jaga dia di sini. Lo enggak usah repot-repot balik dari Jakarta." Janji Aditya serius.
"Tenang? Lo nyuruh gue buat tenang disaat Indria sedang kesakitan sendirian tanpa ada yang menemani? Gampang banget mulut lo ngomong kayak gitu, Dit." Raka terbawa emosi. Persepsi di antara mereka sepertinya tidak sejalan.
"Lo yang salah menafsirkan perkataan gue, Raka! Gue udah punya niatan baik buat ngejaga istri lo dengan benar mulai sekarang, tapi lo nuduh gue yang enggak-enggak." Aditya mulai ikut terpancing.
"Omongan lo kali ini bisa gue pegang kagak, Dit? Gue enggak akan main-main kalau sudah menyangkut urusan yang berkaitan dengan Indria." Raka ingin memastikan keseriusan saudara laki-lakinya itu dalam memegang janji.
"Gue serius. Gue bakal jaga istri lo sampai tiba waktunya dia melahirkan nanti. Lo bisa pegang janji gue ini," tekad Aditya bulat.
"Oke, gue akan percaya. Tapi, jika sesuatu yang buruk terjadi padanya lagi. Gue kagak bisa maafin lo," ancam Raka.
"Terserah! Yang penting gue udah janji sama lo." Aditya malas mengulangi perkataan yang menurutnya tidak terlalu penting.
"Oke gue minta lo tolong jaga dia dan juga keponakan lo," lirih Raka saat mengatakan kata 'keponakan'.
"Ya, gue bakal jaga mereka dengan baik. Gue serius," balas Aditya. Niatannya untuk minum vodka sirna seiring dengan pemberitahuan Raka mengenai keadaan Indria yang kurang sehat bahkan wanita itu kini sedang berada di rumah sakit akibat kontraksi yang dialami.
Kenapa gue jadi merasa khawatir enggak karuan begini ya? s**l!
"Gue harap lo bisa jaga Indria. Apalagi di rumah dia hanya sendirian pada malam hari. Gue takut terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi nanti padanya." Raka was-was.
"Jadi, dia cuma sendiri di rumah? Gila, kenapa lo baru kasih tahu gue sekarang?" Aditya terkesiap. Jika bisa dihitung mungkin dia dan Indria tidak bertatap muka selama kurang lebih dua minggu sejak pertemuan pertama mereka dengan status baru wanita itu sebagai istri Raka.
Dan tadi sore merupakan pertemuan kedua antara dirinya dan Indria yang dihiasi oleh peristiwa adu mulut serta mengusiran dari wanita 'bertopeng' itu terhadapnya.
Kenapa gue ngerasa jadi tambah bersalah? Benar-benar s**l!
"Memangnya Indria kagak cerita sama lo? Gue kira kalian udah saling akrab." Giliran Raka yang bersandiwara, seakan-akan dia tak tahu hubungan yang tercipta di antara saudara kembar dan istrinya.
"Tidak," jawab Aditya singkat. Mood-nya berubah secepat kilat.
"Setiap malam Indria selalu berada sendirian karena asisten rumah tangga kami tidak tinggal di sana. Beliau harus merawat suaminya yang sakit stroke," jelas Raka.
"Paling tidak lo bisa nyewa orang buat jaga istri lo itu. Penghasilan lo kayaknya lebih gede dari gue. Masa buat nyewa orang aja enggak punya," usul Aditya kemudian.
"Gue pasti akan ngelakuin hal tersebut kalau saja Indria tak menolak. Dia gak mau nyewa orang asing buat ngejagain dirinya selama gue pergi." terang pria itu.
"Begitulah wanita, mereka sok terlihat kuat, namun pada akhirnya kerapuhan dalam dirinya pasti akan tampak juga," komentar pedas Aditya pun keluar.
"Ah, gue lagi malas debat sama lo. Yang penting lo harus segera berangkat ke rumah sakit. Tolong jagain Indria buat gue," pinta Raka. Hati Aditya bergemuruh karena secara tak langsung dia dapat menangkap keposesifan Raka melalui kata-katanya yang mengklaim Indria mutlak adalah miliknya.
"Gue bakal segera berangkat. Tapi, bisa enggak lo bujuk dia buat mau tinggal di apartemen gue untuk sementara waktu?"
"Soalnya nggak mungkin bagi gue bolak-balik setiap malam ke rumah lo. Paginya gue kerja. Jarak apartemen gue dan kantor juga dekat. Lumayan bisa menghemat waktu. Tapi, kalau gue berangkat dari rumah lo, waktu gue banyak kebuang belum lagi kejebak macet. Seenggaknya gue bisa tetap kerja sambil jaga istri lo," Aditya memperjelas maksudnya.
"Oke, gue bakal bujuk Indria. Lagipula, gue rasa jarak kantor dia juga lebih dekat dari apartemen lo dibanding rumah gue. Tapi, awas lo jangan macam-macam sama istri gue," peringat Raka tegas.
"Ck, lo kira memang apa yang bisa gue lakukan dengan wanita yang sedang hamil tua?" ucap Aditya dengan suara khasnya yang sinis.
"Kali aja. Lo 'kan playboy kelas kakap." sindir Raka. Di seberang telepon Aditya hanya membalas lewat decakan.
"Terserah! Tolong kirimin gue alamat rumah sakitnya." Aditya menutup sambungan telepon seenaknya.
Ya gue akui gue memang pernah tidur sama istri lo, tapi itu dulu. Walaupun gue dicap playboy dan berengsek, gue gak akan ngerusak kebahagiaan lo bersama dia. Meski gue juga benci dengan wajah topeng wanita itu, gue akan tetap berusaha menjaga dia demi keponakan gue yang sebentar lagi lahir ke dunia ini.
Keponakan?
Apakah dia yakin jika janin yang dikandung Indria merupakan keponakannya?
Tidakkah ada ikatan batin sebagai seorang ayah yang dia rasakan?
****************
Indria masih merasakan sedikit sakit di bagian perutnya. Dia mengalami kontraksi untuk sekian kalinya, entah Indria juga lupa sudah berapa banyak dia menahan sakit dan pingsan akibat kontraksi ini. Terkadang jika jiwanya terguncang atau memikirkan sesuatu secara berlebihan, maka kontraksi tersebut akan datang tanpa diundang. Tetapi, Indria sangat bersyukur karena sampai saat ini bayi dalam rahimnya tumbuh dengan baik dan tidak ada gangguan berarti yang terjad,i meski dia lumayan sering mengalami kontraksi, menjadi wanita hamil dengan kadar emosi yang labil bukan hal mudah baginya. Namun, Indria bersikeras untuk tetap kuat, dia ingin melahirkan bayinya dengan selamat.
Dering telepon berhasil membuyarkan Indria dari lamunan serta pikirannya yang melayang-layang entah kemana. Terlalu ada banyak persoalan yang mengganggu hidupnya kini, terutama dengan kembalinya sosok pria berengsek bernama Aditya tanpa pernah diduganya.
"Hallo, Sayang." sapa Raka. Indria tersenyum mendengar suara bariton sahabatnya.
"I'm here Raka," jawab wanita itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan di atas ranjang rumah sakit sendirian?" tanya Raka. Indria terkekeh.
"Aku hanya berbaring sambil menerima telepon darimu," balasnya. Malam ini dia akan menginap di rumah sakit.
"Maafkan aku Indria," ucap Raka dengan lirih. Dia merasa bersalah karena tidak bisa berada di samping wanita itu.
"Kamu tidak salah untuk apa minta maaf," ujar Indria. Dia paling tidak suka jika Raka mulai menyalahkan dirinya sendiri. Padahal dialah yang salah karena tak bisa menjaga kondisi dengan baik.
"Coba saja aku ada di sisimu. Kamu pasti tidak akan menanggung rasa sakit tersebut sendirian, Indria," kata Raka sedikit emosi.
"Aku baik-baik saja kok di sini. Bagaimana dengan pekerjaanmu di sana? Berjalan lancar 'kan?" Indria mengalihkan topik pembicaraan.
"Jangan membahas hal lainnya. Aku tidak suka kamu mengalihkan pembicaraan." Raka memperingatkan. Indria malah terkekeh.
"Haha, baik, Sayang. Kamu sensian jadi orang." Indria mengejek suaminya dengan nada santai.
"Aku bukan sensi, tapi khawatir sama kondisi kamu. Dasar tidak peka." Raka melemparkan ejekan juga.
"Hahaha, keadaanku baik-baik saja kok. Benar deh enggak bohong. Kamu sudah makan belum?" tanya Indria.
"Belum. Aku tidak nafsu makan," jawab Raka dari seberang telepon.
"Memangnya kenapa? Nanti kamu sakit. Segeralah makan." Perintah Indria.
"Nafsu makanku hilang karena rindu padamu, Sayang. Kamu kok ga peka-peka?" keluh Raka dengan nada bercanda.
"Haha, kamu yang alay. Laki-laki kok suka banget bersikap lebay." Indria tak bisa menahan tawanya. Dia suka geli sendiri mendengar candaan Raka.
"Aku serius. Aku merindukanmu. Rasanya ingin aku pulang hari ini juga." Pria itu mengungkapkan rasa rindunya.
"Kita pasti akan bertemu kembali Raka jika tugasmu di sana telah selesai. Aku juga merindukanmu. Semangat, Sayang," balas Indria. Di ujung telepon Raka hanya mampu memejamkan matanya.
"Aku menyayangimu, Indria. Tetaplah sehat demi bayi kita. Aku akan segera pulang dan menemanimu. Bersabarlah, Sayang," ujar Raka tulus dan serius.
"Terima kasih. Aku juga sangat sayang padamu, Raka. Cepatlah kembali. Aku membutuhkanmu." Isakan mulai terdengar keluar dari bibir Indria. Dia butuh sandaran.
"Aku pasti kembali untuk menjagamu dan anak kita. Tapi, tolong jangan menangis, Sayang. Kamu sudah berjanji padaku tidak akan menangis tanpa ada aku bersamamu," ingat Raka.
Isakan Indria semakin keras. Untung saja di ruangan inap ini tak ada orang lain, hanya dirinya seorang.
Maaf Raka. Aku melupakan janji yang sudah kita buat. Bahkan aku menangis di depan pria berengsek itu.
"Baiklah. Aku tidak akan menangis." Indria menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Ingatlah janji tersebut. Kamu tidak boleh terlihat lemah di depan orang lain," pesan Raka.
"Baiklah." Indria tidak tahu harus menjawab dengan kata apa lagi.
"Indria. Aku ingin mengajukan satu permintaan. Aku mohon kamu mau menurutinya. Ini demi keselamatanmu dan anak kita." Raka sangat berharap Indria tidak menolak. Jika pun dia tak mau, Raka akan memaksa.
"Apa itu?" tanya Indria to the point.
"Berjanjilah dulu padaku jika kamu mau menuruti permintaanku ini. Aku mohon mengertilah Indria." Raka terus membujuk.
"Baik. Aku akan menuruti permintaanmu. Aku janji. Ayo bilang kamu ingin aku melakukan apa?" Wanita itu penasaran.
"Aku minta untuk sementara waktu tinggallah di apartemen Aditya karena dia ingin menjagamu selama aku berada di sini," jawab Raka. Tubuh Indria mendadak menegang.
"Apa? Itu tidak mungkin, Raka. Aku tidak mau!" Tanpa sadar Indria meninggikan nada suaranya saking terkejutnya akibat permintaan Raka.
Yang benar saja, dia harus tinggal di apartemen yang menjadi saksi bisu dimana ia kehilangan masa depannya karena perbuatan berengsek pria itu? Sungguh Indria tidak ingin menggali kembali masa lalu yang sudah dia kubur sedalam mungkin agar tak mengingatnya lagi.
"Aku mohon Indria. Mungkin ini sulit untukmu, Sayang. Tapi, tolong pahamilah." Raka mencoba memberi pengertian.
"Mana mungkin aku bisa tinggal dengan pria lain yang bukan suamiku. Bahkan, aku tidak terlalu mengenal kepribadian saudara kembarmu itu. Pokoknya aku tidak mau!" Indria bersikeras untuk menolak. Menerima permintaan tersebut sama saja akan membunuhnya secara perlahan.
"Oke, kalau kamu tetap menolak. Biar aku saja yang menjagamu. Aku akan meninggalkan tugas kantorku atau jika perlu aku akan berhenti dari pekerjaanku," ancam Raka. Wanita itu menghela napas.
"Jangan mengancamku, Raka. Aku bisa menjaga diriku di sini dengan baik. Saudara kembarmu itu tak perlu repot-repot untuk menjagaku dan anak ini. Aku bukan wanita lemah," tegas Indria. Dia mencari alibi agar bisa menolak.
"Aku mohon, Sayang mengertilah. Aku tidak bisa membiarkan dirimu sendirian di sana. Sekali saja turuti permintaanku." Nada bicara Raka melembut.
"Tapi....." Indria masih ingin membantah.
"Ayolah, Sayang. Dia tidak akan macam-macam denganmu." Raka berusaha meyakinkan.
"Kenapa aku harus tinggal di apartemen saudaramu itu? Lantas bagaimana dengan rumah kita?" Indria mengajukan pertanyaan.
"Karena jarak apartemen ke kantornya lebih dekat daripada rumah kita. Jadi dia bisa tetap menjagamu sambil bekerja. Aku rasa kantormu dan apartemen Aditya juga berdekatan jadi tidak ada alasan untuk menolak, titik." Putus Raka.
"Mulai besok kamu akan tinggal bersamanya. Indria, kamu hanya menetap di sana sampai anak kita lahir. Setelah itu kamu akan kembali lagi ke rumah," jelasnya. Indria berpikir sejenak.
"Ba....baiklah aku mau." Akhirnya wanita itu mengabulkan permintaan Raka meski dengan berat hati.
Sebenarnya apa maumu Aditya? Apakah kamu belum cukup puas menghancurkan hidupku? Adakah hal lain yang kamu persiapkan untuk menyakitiku lebih jauh lagi?
**********
.