Tiba di rumah Bintang langsung masuk kamar, ia menuju kamar mandi dan tepat saat itu Tari baru keluar dari kamar mandi, Bintang pun terpaku di tempatnya menatap tubuh seksi Tari yang hanya terbalut handuk dari d**a hingga pahanya. Tari spontan memegang erat handuknya dan menyilangkan tangan di dadanya.
"Tar kamu..." Bintang perlahan mendekat, ia menatap Tari begitu intens.
"Mau ngapain?" Tari menatap tajam Bintang, ia berusaha memegang erat handuknya.
Bintang semakin mendekat dan membuat Tari semakin takut.
"Ayo siap-siap, mau kontrol kan" bisik Bintang kemudian berlalu kembali keluar kamar.
Tari menghembuskan nafasnya lega, ia pikir Bintang akan berbuat yang tidak-tidak padanya.
"Ya Tuhan syukurlah. Hhh kenapa juga dia masuk kamar di saat yang tidak tepat" gumam Tari.
Tari bergegas mengenakan pakaiannya dan ketika ia sedang memoles wajahnya dengan make up Bintang kembali masuk kamar.
"Aku mandi dulu" ucap Bintang.
"Hm" angguk Tari.
Tak lama Bintang keluar dari kamar mandi dan langsung menuju walk in closet, ia mengenakan pakaian santai.
"Tadi pulang di antar siapa?" tanya Bintang dingin seraya menatap Tari yang masih memoles wajahnya.
"Oh tadi aku di antar pak Aldi" ucap Tari.
"Pak Aldi? siapa itu?" tanya Bintang penasaran.
"Dosenku" sahut Tari cuek.
"Dosen? yakin cuma dosen? kamu ada hubungan dengan dia? yang aku lihat kalian begitu akrab" ucap Bintang lagi.
"Kamu melihat aku dan pak Aldi?" tanya Tari.
"Ya gak sengaja" bohong Bintang.
Bintang kembali menatap Tari melalui pantulan cermin.
"Kamu ada hubungan dengan dia?" tanya Bintang lagi.
"Kenapa sih? kepo ya?" canda Tari.
"Tar aku serius" omel Bintang.
"Mau tau aja, lagian ngapain sih kamu tanya-tanya, kepo banget. Aku aja gak kepo sama urusanmu dan Luna" ucap Tari.
Bintang mendengus kesal mendengar ucapan Tari, ia memilih menunggu di bawah dari pada harus mendebat Tari.
Keduanya kemudian menuju klinik, Bintang terlihat fokus mengemudikan mobilnya.
"Kamu batal dong jalan sama Luna, dia gak marah?" tanya Tari.
"Ya jelaslah marah" sahut Bintang.
"Lagian kamu mau-maunya nemenin aku, aku kan bisa..." ucap Tari terpotong.
"Bisa minta temenin si Aldi itu? enggak ya Tar. Yang kamu kandung itu anakku, jadi aku yang harus nemenin kamu, gak orang lain apalagi si Aldi itu" omel Bintang.
Tari menatap heran pada Bintang, ia bingung apa yang tengah terjadi pada pria itu.
"Kamu kenapa sih? kamu aneh hari ini Bin?" ucap Tari heran.
Tiba di klinik Tari dan Bintang langsung masuk ruang dokter, Tari segera berbaring di ranjang dan diperiksa.
Bintang dengan jeli melihat ke monitor dan mendengarkan saat dokter menjelaskan kondisi calon bayinya yang masih dikandungan Tari.
"Jadi bagaimana dok? semuanya baik?" tanya Bintang.
"Baik pak, istri dan calon anak bapak baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucap dokter Karin.
Setelah menerima resep vitamin dari dokter dan menebusnya di apotik keduanya pun segera menuju mobilnya dan pulang.
"Bin mampir di perempatan depan ya, aku mau bubur kacang hijau" ucap Tari.
"Anak daddy yang mau ya" ucap Tari Bintang mengusap perut Tari.
"Ih apaan sih kamu" Tari menepis tangan Bintang yang mengusap perutnya, entah mengapa ia merasakan gelenyar aneh setiap kali Bintang mengusap perutnya.
"Pelit banget, aku cuma menyapa anakku" ucap Bintang.
"Tetap aja gak boleh" omel Tari.
Keduanya kini duduk bersama dan menikmati bubur kacang hijau di kedai itu.
"Enakkan" ucap Tari seraya menyuap buburnya.
"Ya enak" angguk Bintang yang juga menyuap buburnya.
"Aku biasanya ke sini sama mama" ucap Tari.
"Mamaku?" tanya Bintang.
"Hm iya" angguk Tari.
Luna yang tak sengaja lewat kedai itu menepikan mobilnya begitu melihat mobil Bintang terparkir. Ia menggeram marah melihat Bintang yang tertawa bersama Tari.
"Jadi ini yang kamu lakukan? kamu mulai jatuh cinta sama nih perempuan?" geram Luna, ia menunjuk-nunjuk Tari.
"Luna" ucap Tari dan Bintang bersamaan.
"Mau alasan apa lagi kamu Bin? mau bilang kalau sudah jatuh cinta sama dia?" Luna kembali menunjuk Tari.
"Apaan sih kamu" omel Bintang.
"Lun ini gak seperti yang lo lihat" ucap Tari.
"Diam lo! senang lo sekarang? sudah merasa berhasil merebut perhatian Bintang?" geram Luna.
"Luna!" tegur Bintang.
"Kamu membatalkan jalan sama aku hanya demi menemani dia makan di tempat ini, kamu kelewatan tau gak Bin. Setelah ini apa lagi? mau putus sama aku?" ucap Luna hampir berteriak.
"Lun gue gak bermaksud apa-apa, gue juga gak berusaha merebut Bintang dari lo" ucap Tari.
"Lalu sekarang apa? buktinya kalian berdua ada di sini" geram Luna.
"Luna cukup!" ucap Bintang.
Bintang menarik Luna keluar dari kedai itu, ia tak mau menjadi perhatian banyak orang.
"Apa-apaan sih kamu" omel Bintang.
"Kamu yang apa-apaan, ngapain kamu berduaan sama dia disini? pacaran? oh enggak, kalian kan sudah suami istri" Luna tertawa miris.
"Lun aku hanya menemani Tari makan di sini, dia lagi mau itu" ucap Bintang.
"Yakin cuma nemenin dia? kalian gak lagi pdkt kan?" selidik Luna.
"Ya enggaklah, lagian Tari juga lagi dekat sama dosennya" ucap Bintang.
"Hahh? siapa?" tanya Luna.
"Katanya sih namanya pak Aldi" ucap Bintang.
"Yakin namanya pak Aldi? dosen muda itu?" tanya Luna.
"Iya Tari sendiri yang bilang namanya pak Aldi. Dan tadi aku sempat lihat pria itu mengantar Tari pulang" ucap Bintang.
Luna mengangguk mengerti, ia senang mendengar kedekatan Tari dan pak Aldi. Ia pikir ia tak perlu mengkhawatirkan kedekatan Tari dan Bintang lagi, karena itu tak akan mungkin.
♥♥♥