Hujan masih setia pada bumi, seakan menumpahkan kerinduan selama pergantian musim. Bahkan bertambah deras dengan disertai petir ganas.
Dia menepiskan semua pikiran hampa yang telah terawat sedemikian rupa. Ingin terus ia rawat, tapi percuma. Angin malam mengembuskan kepiluan itu, merasuk hatinya yang kaku. Perasaannya kembali berkecamuk, ketika ia tahu bahwa Senja sudah bersama gadis pilihannya. Undangan pernikahan yang berada di tangannya adalah bukti, bahwa penantiannya selama ini hanya berbuah sakit hati.
"May, itu undangan dari siapa?" tanya papanya yang terperangah melihat putri cantik semata wayangnya itu lesu.
"Dari Senja, Pa. Tetangga kita waktu di kota," jawab Mayola sambil meremas-remas ujungnya.
"Kapan itu, May?" Papanya kembali bertanya.
"Besok, Pa." Mayola mengangkat bokongnya lalu beranjak menuju kamar. Undangan yang tadi berada di tangan, kini terlihat kian kumal karena dilempar ke sembarang tempat olehnya.
"Kalau begitu, kamu harus pergi, May. Kalian sahabatan dari kecil, lho!" ucap papanya dengan semringah. Namun, pernyataan itulah yang membuat Mayola tersadar. Senja adalah sahabatnya, tidak lebih dari sekedar sahabat. Tidak akan pernah menjadi lebih. Hanya harapan Mayola yang terlalu muluk, menganggap Senja lah yang mampu mendapatkan kursi di hatinya.
"Pa, Mayola kekamar bentar ya!" ujarnya, sambil meninggalkan sang papa yang terduduk di kursi roda.
Langkahnya terlihat sangat berat, badan terhuyung tak berdaya. Tanpa aba-aba, air bening di pelupuk mata, telah mengalir dengan derasnya.
Sesampainya di kamar, tangannya meraih sebuah bingkai di atas rak buku. Bingkai itu berisi foto masa kecilnya bersama Senja. Tangannya meraba-raba wajah senja yang hanyalah sebuah kertas berwarna. Tepat disebelah foto tersebut, tergeletak diary kecil berwarna pink. Dia mulai membuka halaman demi halaman. Isinya tak lain, hanya teruntuk Senja, pria tampan yang telah memanah cinta ke dasar hati Mayola. Namun kini, yang tersisa hanya bekas cacah, perih.
***
"Mayola!" terdengar raungan seorang perempuan yang selalu menjadi alarm setiap pagi pagi Mayola..
Sontak Mayola membuka mata lalu melihat keadaan sekitar. "I-iya, Ma," jawabnya gagap sambil mengucek kedua matanya dengan tangan.
Semalam dia menangis lalu berujung tertidur. Foto senja masih setia dipelukannya. Perempuan yang ia panggil mama itu sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Mayola. Matanya menatap nanar pada Mayola karena lagi-lagi ia telat bangun pagi.
“Harus berapa kali Mama bilang? Kamu harus bangun lebih awal, bikin sarapan!” Bola mata perempuan itu seakan ingin segera keluar dari cangkangnya.
Mayola sontak berdiri dari ranjangnya lalu memandang mamanya yang sudah berkemas dengan rapi. Sepertinya, ia akan segera berangkat bekerja. Semenjak papanya lumpuh, terpaksa mamanya harus bekerja, sebagai tulang punggung keluarga. Mayola juga sudah berkali-kali mencari pekerjaan agar dapat membantu ekonomi keluarga.
"Mama ada pekerjaan ke luar kota untuk 3 hari. Jadi kamu jaga rumah, jaga tua bangka itu juga," ucap mamanya, membuat hati Mayola menganga.
Dilemparnya dua keping uang berwarna merah ke arah Mayola. "ini buat belanja dapur," titahnya, lalu berjalan dengan tergesa-gesa.
Mayola hanya bergeming, sampai langkah sang mama tidak lagi terdengar. Dia menyingkap tirai jendela kamar. Terlihat punggung mamanya yang hampir menghilang ditelan pepohonan rindang di halaman rumah. Dia masuk ke dalam mobil mewah berwarna merah yang terparkir tidak jauh dari rumahnya. Disana juga terlihat sesosok pria yang duduk di belakang kemudi, dengan senyum merekah menyambut kedatangan mamanya.
Batin Mayola mengiba, mengingat keadaan rumah yang benar-benar hancur semenjak papanya mengalami lumpuh. Mamanya sudah berubah, tidak seperti yang ia kenal. Kasih sayang seakan tidak ada lagi dalam diri mamanya, sehingga tidak pernah lagi tercurah untuk mayola ataupun papanya.
Setelah lama terdiam di balik jendela, menatap mobil yang sudah menghilang ditelan jarak. Gawai Mayola berbunyi, kemudian ia menyudahi semua lamunan tadi. Betapa terkejutnya ia. Layar gawai yang nyala itu menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dengan tangan gemetar, dia menarik layar berwarna hijau itu.
"Hai...." Terdengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
"I-iya. Hai juga," jawab Mayola, gugup.
"Apa kabar?" Tanya seseorang dari seberang sana.
"Baik! Tumben banget nelpon?" Tanya Mayola. Sebisa mungkin, dia sembunyikan gugup tadi.
“Aku rindu!” ucapnya.
“apa-apaan ih, Senja! Udah mau nikah juga,” ucap Mayola spontan. Dia juga berusaha menghadirkan tawa terpaksa.
"Aku sangat berharap kedatanganmu, May," ucap Senja layaknya seorang teman lama.
“Seberapa penting hadirku di acaramu? Aku tidak bisa meninggalkan sendirian di rumah, mamaku sedang bekerja keluar kota,” Jawab Mayola sambil mengatur nada bicara agar tidak terdengar gemetar menahan sesak.
“Please, May! Kumohon, kali ini saja!” rengek Senja.
"Akan aku usahakan, Sen," jawab Mayola sambil memegang dadanya. Dentam itu semakin menghantam hatinya.
"Aku tunggu kedatanganmu, May," Senja kembali berujar tanpa mengetahui sakit yang Mayola tahan.
Sambungan telepon itu telah terputus, tetapi kenangan tentang mereka masih tersambung rapi. Mayola kembali merebahkan diri ke atas kasur yang tidak terlalu empuk itu.
***
Setelah melalui diskusi panjang antara Mayola dan papanya. Akhirnya, dia menyepakati untuk pergi ke pesta pernikahan Senja. Walaupun terasa sangat berat baginya meninggalkan sang papa sendirian di rumah.
Bermodalkan dua keping uang pemberian mamanya, Mayola memesan tiket travel menuju kota.
"Pa, Jaga diri dirumah, ya!" Mayola mencium punggung tangan papanya.
"Iya, kamu hati-hati ya!"
"Makanan udah May siapkan di meja ya, Pa" ucapnya lagi sambil berlari kecil karena Mang sopir sudah meniup trompet mobilnya.
Perjalanan ia tempuh dengan melewati pepohonan berjejeran hingga melewati rumah-rumahan padat sebagai penggantinya. Artinya aku sudah sampai di kota, sekitar 15 menit lagi ia akan bertemu tempat tujuan.
Dengan langkah ragu ia memasuki kompleks perumahan mewah tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Bentuk dan suasana di tempat ini masih sama.
Langkahnya berhenti di halaman rumah yang telah diberi hiasan bunga-bunga sebagai dekorasi. Dia terus mengamati keadaan sekelilingnya, masih sama seperti dulu, hanya saja pohon mangga yang dulu rimbun di perbatasan antara rumahnya dan rumah Senja kini telah tiada.
Rumah lama Mayola terletak di samping kanan rumah Senja, dengan pagar sepinggang, pagar yang seringkali dipanjat Senja ketika ia ingin main bersama Mayola sedangkan pagar depan dikunci. Senyum manisnya kecut mengingat hal itu, otaknya masih memutar kenangan-kenangan lama bersama Senja di tempat ini.
"Eh, Mayola," sapa gadis dengan dress berwarna hitam dan rambut panjang terjuntai.
"Iya, Dre," jawab Mayola dengan berdecak kagum melihat Andrea temannya waktu SMA, rupanya Senja juga mengundang seluruh alumni yang satu kelas.
"Ayo masuk! Kok bengong depan gerbang," ajak Andrea sambil menarik tangan Mayola.
Mereka melangkah menyusuri pesta itu, sesungguhnya Mayola malu jalan bergandengan dengan Andrea dengan penampilannya yang glamour, baju yang ia kenakan sepertinya keluaran butik ternama sedangkan ia hanya memakai kebaya yang dibeli mamanya semasa perpisahan sekolah. Kebaya dengan warna merah yang tidak lagi cerah.
Banyak pasang mata yang memandang kearah mereka, Mayola melangkah dengan wajah menunduk ketanah berbeda dengan Andrea yang berjalan tegap disampingnya. Andrea masih saja menarik tangan Mayola seperti anak kecil yang membututi ibunya. Langkah mereka akhirnya berhenti pada sebuah titik berkumpulnya teman-teman semasa SMA. Wajah mereka yang dulu polos kini dipolesi dengan berbagai warna sehingga menambah kecantikan dari teman-teman Mayola.
Mayola masih ingat betul siapa mereka, ada Gina seorang anak pejabat yang hobi makan sehingga badan semakin lebar, ada Sania anak model ternama yang cantiknya menurun dari sang ibu, dan Andrea anak pengusaha yang usaha papanya ada di setiap daerah bahkan luar negeri. Ini salah satu yang Mayola takuti ketika menghadiri pesta yang mengharuskan ia bertemu dengan mereka yang serba berada.
"Mayola, udah lama banget kita gak ketemu," sapa Sania sambil bercipika-cipiki dengan Mayola.
"I-iya, San," jawab Mayola yang masih saja menunduk menahan malu.
"Eh, aku tinggal dulu ya," ucap perempuan bertubuh gempal bernama Gina yang membuat Mayola merasa tersinggung. Ada apa dengan Gina? Dia sama sekali tidak menganggap kehadiran Mayola.
Mereka Duduk dibangku dan meja bulat di pesta ini, pesta dengan konsep outdoor sangat menarik. Halaman rumah Senja yang lapang sangat mampu menampung tamu-tamu yang berdatangan.
Sejak tadi kedatangan Mayola, ia sama sekali tidak melihat kedua mempelai. "Dimana Senja? Dimana istrinya?" batin Mayola bertanya-tanya. Karena penasaran, langsung saja ia melontarkan Tanya itu pada Sania dan Andrea.
"Ini pesta kok gak keliatan mempelainya?"
"Iya, May. Aku denger si Mery ga mau duduk bersanding soalnya perut buntingnya takut keliatan," jawab Sania sambil tertawa membuat bulu kuduk Mayola bergidik.
"Hah, Senja ngehamilin orang?" Tanya Mayola heran.
"Iya, May!" lanjut Andrea yang membuat ia semakin sakit.
Mayola sangat tidak menyangka, Senja yang ia kenal sebagai cowok kalem, religius, nekat berbuat seperti itu.
"O, iya. Tadi siapa nama istrinya? Merry? Merry mana yah?" Tanya Mayola sebab ia benar-benar tidak mengetahui sosok Merry yang menjadi pilihan Senja.
"Merry adik kelas kita dulu, May." Mayola berusaha mengingat-mengingat kembali, barangkali pikirannya kembali bertemu dengan sosok Merry pada saat SMA. Iya, walaupun ia dikenal sebagai pelupa akut, tapi kali ini ia mampu memutar ingatan dan mengingat kembali sosok perempuan bernama Mery. Gadis itu benar cantik, setiap lelaki yang dekat dengannya tak jarang berwajah setara atau sekelas dengan wajahnya termasuklah Senja dengan wajah tampannya.
"Oooh," jawab Mayola singkat. Jika pesta ini diadakan untuk menutup aib kehamilan, menurut nya lebih baik tidak usah mengadakan pesta. Sebab, sangat aneh pesta digelar tanpa sepasang kekasih duduk di singgasana bak raja ratu di hari bahagia.
Sania dan Andrea masih saja berbincang-bincang tentang sosok Mery dan Senja pasangan yang menurut mereka serasi membuat jantung Mayola teriris. Detaknya tak lagi berirama, karena pedih. Mayola hanya diam, dan hanya menjawab jika ada yang bertanya atau membalasnya dengan satu kali anggukan karena pembahasan ini sangat tidak menarik baginya.
Gina yang dari tadi menghindari mereka kali ini mendekat dengan langkah tergopoh-gopoh. Ada sosok perempuan yang lebih tua berjalan di depannya. Perempuan itu adalah tante Ana, mamanya Gina. Tiba-tiba dia berujar.
"Eh, anak l***e rupanya disini juga," deg, jantung Mayola kali ini serasa remuk sakitnya melebihi ditusuk pedang perang.
Apa yang membuat tante Ana berucap demikian?