Bab 4

3074 Words
Arsya tiba di rumah mewahnya, di belakang Gio berjalan pelan sambil menundukkan kepala. Dia menautkan kedua jari-jemarinya dan memainkannya. Ia tahu bahwa sekarang Ayahnya pasti sangat marah besar padanya. Apalagi tadi Arsya sempat memarahinya dengan nada lumayan tinggi. Kedatangan mereka disambut oleh Mama Riya, Ibu dari Arsya. Dia langsung menghampiri cucu kesayangannya yang terlihat begitu kalut dan tundukan kepalanya menafsirkan bahwa anak itu sedang ketakutan. "Arsya? Kamu apain anak kamu?" tanya Mama di belakang Arsya, ia berjongkok dan menengok wajah sang cucu yang enggan mengangkat wajahnya. "Apa yang harus aku lakuin supaya Gio bisa ngerti. Bukannya setiap anak harus nurut sama orang tuanya? Apa aku gagal didik dia? Apa yang harus aku bilangin lagi supaya dia mau berubah. Aku ngerti, ini semua berat buat Gio jalanin, tapi apa aku salah marahin dan tegur dia saat dia berbuat salah untuk yang kesekian kalinya. Apa Gio gak pasang telinganya waktu aku bicara?" Arsya tidak berbalik sama sekali, karena masih merasa begitu kecewa. Mamanya yang sudah tua tapi masih terlihat fresh kembali berdiri dan memegang pundak anaknya. "Tapi kamu harus sabar hadepin dia. Jangan sampai dia jadi takut sama kamu." "Kalau aku diem, sama aja aku ngejerumusin dia ke jalan yang salah. Aku gak mungkin biarin dia, aku cuma bisa lakuin apa yang bisa aku lakuin." "Tapi gak gitu juga caranya." "Semuanya udah aku lakuin. Tapi Gio ... Dia ..., dia...," Arsya sudah kehilangan kata-kata hingga ucapannya menggantung di tenggorokannya. "Tapi aku takut waktu Ayah bentak aku! Aku takut!" teriak Gio mengangkat kepalanya. Mendengar teriakan anaknya, Arsya kontan berbalik, disusul dengan pandangan mama Riya pada sang cucu yang sedikit membelalak. "Mama gak pernah bentak aku! Tapi kenapa Ayah gitu?! Aku gak mau ngomong sama Ayah!" lanjut Gio lagi dengan nada mengeras. Ia kembali menangis dan berlari menuju kamarnya. Tak ada niatan Arsya untuk mengejarnya, untuk saat ini biarkan anak itu berpikir. Mulai sekarang ia tak akan mendidiknya dengan cara yang manja. Itu tak akan baik untuk masa depan Gio. Anaknya harus bisa bersikap mandiri sejak dini meski terdengar begitu sulit. "Tuh, anak kamu jadi marah. Gak seharusnya kamu marahin dia. Sekarang gimana caranya bikin anak kamu ngerti? Anak itu susah dibujuk, mama pusing kalau udah kaya gini." "Terus sekarang mama nyalahin aku?" tanya Arsya menarik napas berat dan mengeluarkannya sambil memandang langit-langit. "Kamu harus sedikit sabar! Atau nanti Gio jadi tertekan. Mama cuma ngingetin kamu," ucap mama memberikan peringatan. Ia tidak akan membiarkan cucunya bersedih karena Arsya, dia sudah cukup kehilangan Ibunya kandungnya, jadi mulai sekarang dialah yang akan mendidiknya. Ia juga tak akan membiarkan cucu semata wayangnya merasa kesepian dan menyimpan amarah dalam hatinya. Mama Riya pun pergi dari hadapan Arsya, bermaksud untuk menyusul Gio di kamar. Kedua bola mata Arsya mulai memerah dan menghangat. Tidak seharusnya ini terjadi. Tidak seharusnya Riana meninggalkannya pergi, tidak seharusnya Gio bersikap tidak baik, tidak seharusnya mamanya memanjakan cucunya. Serasa dunia tengah hancur dan atmosfir bumi telah memanas. Arsya memegang keningnya merasa frustasi. Apa dia bisa menghadapi ini semua? Pasti bisa. Arsya sadar, dia adalah seorang laki-laki. Mana mungkin dia menyerah begitu saja hanya demi membuat Gio bersikap dewasa. Tapi rasanya, sekarang Arsya merasa bahwa dirinya lemah, kehilangan semua akal sehat dan ketenangan hatinya. Araya terduduk di sofa dengan banyak pikiran yang memenuhi penatnya, belum lagi ada masalah kecil yang terjadi di kantornya. Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh bahu Arsya, sentuhan hangat itu terasa begitu menenangkan. Pria itu mengalihkan pandangannya ke samping dengan mata berbinar, wajah cantik dan bercahaya itu kini tengah tersenyum padanya. Arsya dapat melihat jelas senyum merekah dan penuh semangat di wajah Riana yang sangat harum nan cantik. Tak ada goresan pucat lagi, tak ada kesakitan lagi. Mungkinkah Surga yang telah merubahnya? Tanpa sadar, Arsya perlahan memeluk jiwa yang tak bernyawa itu dengan erat, ia memeluk istrinya sembari menangis tanpa suara. Riana juga ikut memeluk Arsya dengan penuh kasih sayangnya. Betapa besar rindu Arsya pada wanita yang kejam karena telah meninggalkannya pergi. Hidupnya berubah karena kepergian dia. Apa dia tidak tahu bahwa Arsya sangat mencintainya dan sama sekali tidak ingin kehilangannya. Tak memberikan waktu yang lama, Arsya menyadari bahwa ia hanya sendiri. Riana sama sekali tidak ada di sisinya. Semuanya hampa dan kosong. Arsya menghapusi jejak air matanya, ternyata tadi hanya halusinasinya saja. Mungkin Riana tidak ingin melihatnya terus menerus tenggelam dalam kesedihannya, untuk itu ia menghampirinya sesaat. Memberinya kekuatan untuk tetap berdiri. *** "Nenek ngerti kamu marah sama Ayah. Tapi nenek kasih tau, mending sekarang kamu minta maaf sama Ayah. Nenek yakin, dia gak akan lagi marahin kamu dan dia juga bakal minta maaf," bujuk mama Riya. "Gak mau!" Tampak Gio memanyunkan bibirnya. "Terus kamu maunya gimana?" "Aku gak mau ngapa-ngapain! Aku maunya di sini. Nenek juga keluar!" "Kalau kamu kaya gini, Ayah kamu gak akan ngasih kamu uang yang banyak. Apa kamu bisa tanpa Ayah?" "Abisnya Ayah nyebelin. Bukan aku nek yang salah. Tapi Bima, dia duluan yang ngajak aku berantem," Gio bersikukuh bahwa dirinya sama sekali tidak salah, hanya Ayahnya saja yang salah memahaminya. "Nenek ngerti. Apa kamu gak kasian sama Ayah? Dia itu bersikeras buat ngebesarin kamu sendiri, apalagi sekarang Ibu kamu udah gak ada. Kasian Ayah kalau kamu masih terus-terusan bandel." "Biarin!" "Gio sayang, jangan begitu." "Gio sebel, Gio kesel!" "Gio, nanti kamu jadi anak durhaka, loh kalau terus kaya gini," neneknya mencoba menakut-nakuti Gio. Secara tiba-tiba Gio mulai merasa takut saat kata 'anak durhaka' terlontar dari mulut neneknya. Dulu, almarhum Ibunya pernah berkata, bahwa jangan sampai dia menjadi anak yang durhaka, karena mereka yang durhaka akan dimasukan oleh Tuhan ke dalam api neraka. Saat itu pula Gio merasa bahwa ia sudah berdurhaka pada Ayahnya. Anak itu terdiam beberapa saat tanpa membuka mulutnya lagi. "Mau, kan minta maaf sama ayah?" tanya neneknya lagi. Tak ada jawaban apa-apa dari Gio, mulutnya masih tertutup dengan pandangan masih ke depan dengan lurus. "Nanti nenek beliin ice cream sama permen yang banyak deeh," bujuknya lagi. Namun tetap, tak ada anggapan apa-apa dari anak berkulit putih itu, entah apa yang tengah menari-nari dalam benaknya. *** Langit tampak cerah dengan warna biru mudanya, awan-awan putih menggumpal dengan berbagai bentuk, ditambah dengan cahaya matahari di ujung Timur sana. Pagi hari adalah waktu dimana cahaya matahari bisa dikatakan sehat karena terasa begitu hangat. Banyak orang pula yang memanfaatkannya dengan cara lari dan berolah raga. Tapi Arsya, ia sama sekali tidak bisa memanfaatkan waktu itu, sekarangpun dia sudah tiba di kantornya. Kakinya keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, pintu bagian kedua terbuka dari dalam. Kaluar seorang anak laki-laki dari sana, yang tak lain adalah Gio. Kini ia menapaki kakinya di halaman kantor Ayahnya, kedua iris hitamnya ia arahkan ke segala tempat, ia tampak asing berada di tempat ini. Arsya sama sekali tidak tahu bahwa putranya mengikutinya dan bersembunyi di bagasi mobil. Gio memutuskan ini karena tadi pagi saat sarapan di meja makan, Arsya sama sekali tidak menyapanya. Padahal Gio sudah beberapa kali mengajaknya bicara, tapi Ayahnya itu hanya menjawab seadanya dengan ucapan singkat. Menandakan bahwa Ayahnya masih marah padanya karena kejadian memalukan kemarin. Demi mendapatkan maaf dari sang Ayah, Gio rela bolos sekolah. Anak itu mulai melangkahkan kakinya, mencari-cari di mana ia akan menemukan Ayahnya. Tapi, setelah berpikir beberapa saat, ia tidak berani masuk ke dalam, untuk itu dia akan berdiam diri di luar sampai Ayahnya keluar. Siapa tau saja setelah ini Arsya akan memaafkannya karena pengorbanannya ini. Gio duduk di pinggiran teras dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat. Anak itu bukan tipe yang sabar, dia gampang marah dan tak sabaran. Tak lama Clara keluar sambil membawa tempat sampah, berniat untuk membuang sampah di dalamnya. Kedua matanya tak sengaja menangkap sesosok anak kecil yang duduk di teras, keningnya mengernyit seolah bertanya 'anak siapa itu?' Clara pun memutuskan untuk menghampirinya. Clara tiba di depanya dan mengyimpan tempat sampah itu di sampingnya. "Hey. Kenapa duduk di sini?" tanya Clara lembut. Gio mendongkakkan kepalanya. Ia hanya melakukan itu tanpa menjawab pertanyaan Clara. Gadis itu pun berjongkok. "Kamu siapa? Mau ketemu siapa? Nanti aku anter ke dalem kalau emang mau ketemu sama orang tua kamu." "Aah gak usah so' kenal," balas Gio tanpa diduga. Mata hitam Clara membola dengan sangat sempura setelah mendapat respon tak mengenakan dari anak kecil di hadapannya ini. "Kenapa jawabannya gitu? Aku kan nanya baik-baik," sejujurnya dalam hati Clara ia begitu menyesal karena sudah bertanya pada anak laki-laki itu. "Aku lagi kesel! Aku lagi kesel sama Ayah aku karena dia gak mau maafin aku! Aku kan anaknya, tapi kenapa Ayah keras banget sama aku?! Aku nyusul ke sini cuma buat dapetin maaf dari dia. Itu sebabnya aku lagi males bicara sama orang!" jelas Gio panjang lebar. Clara menelan ludahnya kasar. Ohh jadi itu permasalahannya. "Ayah jahat!" Setelah mendengar cerita dari Gio, Clara sudah langsung ikut kesal pada sosok Ayah yang dikatakannya. Sangat menyebalkan, mengapa dia tidak mau memaafkan kesalahan kecil anaknya sendiri? Itu terdengar begitu kejam. "Ohh gitu. Ya udah, mana Ayah kamu? Ayo bawa aku ke Ayah kamu biar aku marahin dia, kalau perlu aku laporin dia karena dia udah gak berbuat baik sama anaknya!" sekarang malah Clara yang lebih marah. Gio mengedip-ngedipkan matanya. Perempuan di depannya itu terlihat begitu percaya diri. Clara membawa tangan Gio dan menariknya berdiri. "Ayo! Kita cari Ayah kamu!" ajaknya semangat. "Aku udah gak sabar mau ngasih dia pelajaran." Clara segera mengajak Gio masuk ke dalam, anak laki-laki itu hanya diam dan tak berkutik karena tangannya terus saja dibawa pergi entah kemana oleh seorang Cleaning Service ini. Di perjalan, tak sengaja Clara dan Gio bertemu dengan pria berjas hitam yang tak lain adalah Dimas. Mereka langsung menghentikan langkahnya. Dimas juga ikut berhenti tatkala melihat Clara yang tengah memegang tangan anak kecil. Tanpa pikir panjang, karena takut dimarahi karena sudah membawa anak orang lain, Clara berusaha menjelaskannya. "Maaf pak. Saya harus cari dulu Ayah dari anak ini. Karena dia udah nelantarin anaknya. Kasian kan, Pak," ucap Clara dengan rusuh. Gio tertegun karena kini Ayahnya sudah berada tepat di hadapannya. "Ayah yang gak bertanggung jawab banget kan, Pak?! Kesel deh saya!" lanjut Clara lagi yang tanpa disadari bahwa ucapannya itu telah membuat Dimas tersinggung. "Ayah," panggil Gio. Clara mengalihkan pandangannya pada Gio setelah mendengar suaranya yang memanggil 'Ayah'. Ekspresinya kian berubah di titik itu juga. "Ayah," panggil Gio. Clara mengalihkan pandangannya pada Gio setelah mendengar suaranya yang memanggil 'Ayah'. Ekspresinya kian berubah di titik itu juga. "Ayah?" bisik Clara tak mengerti. Gio segera melepaskan genggaman tangan Clara dan beralih tempat berdiri di sebelah Arsya dengan eskpresi takut dan setengah geram. Karena sedari tadi wanita itu memegang kencang tangannya yang mungil dan menariknya ke sana kemari. "Jadi ini Ayah kamu?" tanya Clara memastikan. "Iya! Emang kenapa?" jawab Gio dengan langsung. "Ooooh, hehehe," Clara mulai tertawa, menyembunyikan rasa malu yang kini menyelimutinya, ditambah dengan warna rona merah jambu di kedua pipinya. "Kenapa kamu gak bilang dari tadi kalau Ayah kamu itu namanya Pak Arsya. Kan saya bisa anter kamu ke ruangannya," lanjut Clara sambil setengah tertawa. "Sekarang, apa kamu mau ngasih pelajaran ke saya?" tanya Arsya yang langsung menghentikan Clara yang sedang salah tingkah. "Aahhh nggak lah!" gadis itu melambai-lambaikan tangannya. "Masa saya mau ngasih pelajaran ke bos saya sendiri? Nanti saya bisa dipecat," Clara tersenyum dan tersipu malu, sekarang dia benar-benar merasa tak enak. "Ya makannya kamu gak usah sok tau dan jadi pahlawan kesiangan," dengan ucapan pedasnya, Arsya meraih tangan Gio dan membawanya pergi dari tempat itu. Gio kini hanya mengikuti kemana Ayahnya akan membawanya. Dan tinggal hanya ada Clara yang masih terdiam sana. Dia memandang kepergian Ayah dan anak itu dengan intens. Pantas, anak laki-laki itu mirip sekali dengan Arsya dan kulitnya yang putih pasti turunan dari Ibunya yang pasti cantik. Clara baru tahu, bahwa Dimas ternyata sudah mempunyai seorang anak dari istrinya yang sudah meninggal. Clara bisa merasakan bagaimana keadaan mereka sekarang, pasti menyedihkan bukan? Karena gadis itu juga pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan, ya walaupun ia belum pernah bertemu dengan orang itu, karena Ibunya sudah meninggalkannya pergi saat Clara lahir ke dunia. Clara mengerti, sikap dingin dan tegasnya Arsya mungkin karena suasana hatinya yang tiba-tiba berubah karena sesuatu yang sangat menyakitkan telah terjadi padanya. *** "Mamaa aku cinta sama seseorang, tapi kenapa dia cuma mau manfaatin aku doang?" Ayumi sangat merasa sebal jika mengingat kejadian kemarin. "Ya udah putusin dia apa susahnya sih!" mamanya tidak peduli. Ayumi memegang tangan Mama Riya dan menggoyang-goyangkannya. "Tapi aku cinta sama diaaaa," gadis itu berekspresikan seperti anak kecil yang tengah meminta jajan pada Ibunya. "Terus maunya gimana Ayumi?" mamanya mulai kesal. Karena sekarang dia tengah sibuk menyaksikan acara televisi yang berisikan berita terhangat. "Mama bantuin Ay dong! Kasih solusi atau apa, kek." "Mama gak ngerti sama yang gituan. Jadi stop bicara gitu, mama gak suka! Kamu jangan nambah-bambah masalah dong, ah." Ayumi memajukan bibirnya beberapa centi. Mengapa mamanya selalu tidak mau mendengar curhatnya. Apa dia tidak pernah mengalami cinta? Hmmm payah! "Nanti setelah kakak kamu pulang, kamu curhat aja sepuasnya sama dia." "Kak D?Arsya sibuk! Apalagi si Gio yang rewel," Arsya mengambil keler di atas meja. Ia mulai mengemil keripik dengan ekspresi yang benar-benar tak enak dipandang. Cara melahapnya pun sangat cepat bak orang kelaparan. "Iiish kamu itu. Apa ada yang bisa dilakuin apa selain ngemil sana curhat?" "Biarin!" Ayumi masa bodo. Mama Riya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya. Dalam ruangan kerjanya, Arsya mempertanyakan kedatangan Gio yang tiba-tiba. "Jadi kamu bolos sekolah?" tanya Arsya pada Gio. Sekarang dia berjongkok di depan Gio. Gio menganggukan kepalanya, "Ayah, tolong maafin Gio. Gio tau Gio salah, Gio nakal, tapi Gio gak bisa apa-apa kalau Ayah terus diemin Gio. Gio juga tau, sekarang pasti Ayah juga marah sama Gio karena Gio bolos. Gio janji, ini untuk yang terakhir kalinya," ia mengacungkan jari telunjuknya sebagai ucapan janji. Arsya dapat melihat raut penuh penyesalan yang tergambar di wajah tampan dan lucu putranya. Bibirnya yang tipis, mengingatkannya pada Riana. Kedua bibir itu terlihat sama tatkala keduanya ingin mengucapkan maaf dan merasa sangat bersalah. Arsya mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali berdiri. "Emmm Ayah maafin kamu gak ya?" fikir Arsya memegang bibir dengan telunjuknya. Seolah tengah berpikir bagaimana menyelesaikan soal matematika. "Ayolah Ayaaah, sekalii lagi," bujuk Gio dengan gemas. "Tapi kamu harus terima hukuman dari Ayah dulu karena kamu udah bolos sekolah," ucap Arsya yang kembali membuat Gio mengeluh. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Masuk," Arsya mempersilahkannya dengan sekali ucapan. Tak lama, pintu pun terbuka dari luar. Muncul sosok perempuan dari sana dengan seragam Cleaning Servicenya. Seulas senyum tergambar di wajahnya. "Maaf saya ganggu," Clara kembali menutup pintu. "Tante ngapain ke sini? Mau marahin Ayah?" tanya Gio seolah mengintrogasi tersangka yang baru saja masuk ke dalam ruang introgasi "Eeh bukan. Dan jangan sebut saya tante, saya itu masih muda," sempat-sempatnya Clara menjawab pertanyaan Gio dan menanggapi ucapannya. Setelah itu, tanpa menunggu lama lagi Clara mulai mendekati Arsya, sesuatu berada di tangannya. "Pak Arsya, saya ..., saya cuma mau ngasihin ini ke bapak," Clara menyodorkan sebuah dasi pada Arsya dengan corak indahnya, "Saya udah cuci ini kemarin, dan untungnya saya langsung jemur dan akhirnya kering dengan waktu yang cepet.. Anggap aja ini sebagai permintaan maaf saya, karena kemarin saya udah lakuin dua kesalahan. Pertama, saya udah berani pinjem ponsel bapak dengan cara yang gak sopan...," Gio yang sedari tadi mendengar dan menyimak Clara sedikit kaget. "Apa? Tante berani lakuin itu? Waah tante emang hebat," sela Gio memberikan jempolnya. "Iya, aku emang hebat!" lagi-lagi Clara menanggapi ucapan Gio yang sama sekali tidak penting. "Kedua, saya udah numpahin kopi di baju bapak. Saya bener-bener minta maaf," sesal Clara. "Dan cuma ini yang bisa saya lakuin, kalau perlu bapak mau suruh saya buat nyuci kameja bapak yang kemarin kotor gara-gara saya, saya mau kok." Arsya mulai mengambil dasi yang berada di tangan Clara, "Makasih," Clara tersenyum senang dan lega. "Itu tandanya kamu orang yang penuh tanggung jawab," Arsya melanjutkan. Entah mengapa, ucapan Arsya yang terakhir telah membuat jantung Clara berdetak cepat. Gadis itu terenyuh selama beberapa saat. Sesuatu telah menerbangkan hasratnya sampai langit ke tujuh. Pria dingin di hadapannya telah berkata bahwa dia adalah seseorang yang mempunyai tanggung jawab penuh. Hal yang sangat langka, bukan? Hal yang sungguh tidak disangka-sangka. "Aaah tante dibilang gitu aja wajahnya udah merah. Ketauan kalau tante malu, kan?" celetuk Gio yang langsung mendapat lebaran mata dari Clara. "Eeeh anak kecil gak usah sok tau," balas Clara kesal. "Tante yang sok tau!" Kali ini Clara tidak menanggapi Gio, dia kembali mengalihkan pandangannya pada Dimas. "Jangan dengerin apa kata anak bapak itu pak, saya gak malu kok. Dan....." Clara menyeka ucapannya. "Tante orang yang penuh tanggung jawab?" Gio menyela lagi. "Kalau tante orang yang gitu, terus kenapa ninggalin tempat sampah di luar sana? Tante pasti lupa." Clara tersentak. Ya, dia baru ingat bahwa tadi ia meninggalkan tempat sampah di halaman kantor. Aduh! Gadis itu menepuk jidatnya merasa bodoh.. Ini bisa gawat. "Oh iya!" Gio tertawa cekikikan melihat ekspresi Clara. "Ya udah pak, saya keluar dulu," pamit Clara dengan sangat sibuk. "Oh ya pak, inget. Jangan marahin lagi anaknya, jangan gak mau maafin dia. Kan kasian. Sebagai Ayah bapak harus sabar. Dan bapak harus cepet-cepet nikah lagi karena anak bapak butuh seorang Ibu, dan bapak juga pastinya butuh istri yang siapin semua keperluan bapak, kaya baju, dasi, dan semuanya deh!" Arsya mengernyitkan kening. "Fighthing!" gadis itu mengacungkan kepalan tangannya seolah memberikan semangat. Setelah bicara panjang lebar bak dia tak akan bertemu lagi dengan mereka, gadis itu keluar dengan membawa rasa setengah malu karena telah memberikan saran seperti apa yang tadi dikatakannya pada bosnya. Clara keluar dari sana dan kembali menutup pintu. Mendengar itu, Gio tiba-tiba saja tersenyum. Ternyata tante-tante itu mengerti akan dia. Sama saja dia membelanya. Sementara Arsya hanya diam, dia memandang dasi yang sudah bersih tanpa noda di tangannya. Terhirup bau yang wangi pula yang masuk ke dalam rongga penciumannya. Untuk pertama kalinya lagi dia merasakan ini. "Ayah gak akan hukum aku, kan?" tanya Gio. Arsya menyimpan dasi tersebut di atas meja kerjanya dan kembali pada Gio. "Asal kamu jangan buat salah lagi," Arsya lalu menggendong tubuh kecil putranya. "Beneran Ayah?" Arsya pun tersenyum dan menganggukan kepalanya. Dalam gendongan Arsya, Gio mengecup kening sang Ayah. Disusul dengan cubitan gemas Arsya di pipi Gio. Keduanya kembali akur dan tertawa senang. Di luar, Clara masih berdiri di belakang pintu. Dia memegang dadanya yang berdegup kencang, seluruh organnya terasa menegang. Bisa-bisanya dia menyuruh Arsya untuk menikah lagi. Apa itu haknya? Dia hanyalah seorang Cleaning Service, mana mungkin Arsya mau mendengarnya. Lagi pula, mereka baru saja kenal. Benar-benar, hari ini dia sudah bertindak bodoh. Sangat memalukan. Fiuuuhhh.. Clara mengeluarkan seluruh napasnya lalu kembali berjalan meninggalkan tempat sebelumnya. Segera melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD