"Dia akan baik-baik saja, Rebecca." Suara siapa itu? Suara seorang pria. Aku mulai tersadar dari kegelapan yang melingkupiku. Aku mendengar suara pria. Bukan Zeus. Aku mengumpulkan tenaga untuk menahan sinar yang berebut masuk ke mataku. Tanganku dengan lemah menutupi wajahku. "Tuan, Simca sudah bangun!" kata pria yang memakai jas putih, kepalanya setengah botak, kacamatanya tebal dan dengan kumis tebal yang sama seperti rambut di kepalanya. Aku mengenal senyum ramahnya. "Dr. Antonio?" Aku memastikan aku tidak mengada-ada sambil memusatkan pandanganku. “Apakah itu benar dirimu?” tanyaku dengan suara serak. Oh, apa yang terjadi dengan suaraku? Sudah berapa lama aku tertidur? "Hai, Cantik. Syukurlah kau masih mengingatku. Itu berarti hantaman shock-nya tidak sekuat yang kubayangkan,” je

