Happy Reading . . .
***
Wanita itu melangkahkan kakinya menuju ruang kerja sang suami sambil membawa sebuah dokumen di tangannya. Setelah memasuki ruangan tersebut, Ravena langsung menaruh dokumen tersebut di atas meja dan membuat Sebastian mengalihkan pandangannya dari layar ponsel menuju tangan yang tepat berada di depannya dan terdapat luka memar yang begitu membekas di pergelangannya.
"Semua rencananya sudah berada di sini."
"Bagaimana jika masih tidak bisa?" Tanya Sebastian sambil menaikkan pandangannya menuju wajah Ravena.
"Aku baru melihat sikap pesimis-mu ini."
"Aku hanya tidak ingin rencana ini akan semakin lama mencapai tujuannya."
"Tenang saja. Karena aku akan menyerang orang-orang tercintanya terlebih dahulu, dengan cara memperalatnya."
Pria itu pun beranjak dari kursi kebesarannya, lalu ia mengangkat tubuh Ravena dan mendudukkan di atas meja.
"Persetan dengan rencana itu. Apakah tubuhmu sudah baik-baik saja?"
"Ya, tentu. Aku baik-baik saja."
Setelah melihat kedua pergelangan tangan Ravena yang keduanya bernasib sama, pria itu membuka tali pada dress sang istri yang bermodel kimono dan menurunkan pakaiannya hingga tubuh Ravena yang tinggal terbalut pakaian dalam langsung memperlihatkan bekas luka yang berubah menjadi lebam bewarna hitam kebiruan itu.
Tubuh putih bersih Ravena begitu kontras dengan luka-luka tersebut. Belum lagi bagian punggungnya-lah yang paling banyak menjadi sasaran pria itu dua hari yang lalu, menimbulkan rasa sakit yang sebenarnya sampai saat ini masih Ravena rasakan di sekujur tubuhnya. Setelah menyingkirkan rambut panjang wanita itu di bagian punggung, Sebastian pun melihat hasil karyanya yang terpampang jelas di sana.
"Aku baik-baik saja, Romeo." Ucap Ravena sambil mendorong sedikit tubuh sang suami yang sedang menghimpitnya.
"Kau masih memanggilku dengan sebutan itu?"
"Sudah aku katakan itu terdengar manis, bukan?"
"Semanis bibirmu ini, huh?" Balas Sebastian yang langsung menjilat lalu mengecup bibir Ravena yang sedang tersenyum itu.
"Jadi, kau sudah memberikanku izin bukan?"
"Dengan satu syarat."
"Katakanlah."
"Kau harus mengerti dengan kedudukanmu. Kau hanya sebatas menjadi umpan saja untuknya. Jangan memberikannya harapan lebih, apalagi dengan kau yang memiliki harapan kepadanya. Ak-"
"Intinya kau tidak ingin kehilanganku, bukan? Aku mengerti, Romeo. Dan aku mengerti dengan kedudukanku."
"Dan kedudukanmu sebagai istriku. Aku tidak ingin disaat aku sedang membutuhkanmu, kau justru tidak ada di sampingku."
"Tentu, Romeo."
"Sebutkan waktu yang akan kau gunakan untuk menyelesaikan rencana itu?"
"Aku tidak tahu, pria itu masih belum aku kenal. Dan aku juga belum mengetahui apakah sikapnya itu keras kepala sepertimu atau tidak."
"Jadi aku ini keras kepala?"
"Baru mengetahuinya? Keras kepalamu itu sudah melebihi batu."
"Benarkah?" Balas pria itu sambil memberikan kecupan-kecupan di bibir sang istri.
"Dasar tidak peka!". "Ya sudah, kalau begitu aku ingin menyuruh Ivy untuk membantuku mempersiapkan semuanya." Ucap Ravena sambil sedikit mendorong tubuh Sebastian untuk turun dari atas meja.
"Kau ingin memulainya hari ini?"
"Lebih tepatnya nanti malam. Aku mendapatkan informasi bahwa kelompok mereka akan merayakan keberhasilan misi yang mereka lakukan di salah satu Club, dan itu akan menjadi salah satu kesempatanku." Jelas wanita itu sambil memakai dan merapikan kembali pakaiannya.
"Tidak adakah pilihan lain sebagai seorang stripper?"
"Apakah kau memiliki pilihan lain yang cocok untukku? Menjadi pelayan? Itu bukan untukku, lebih baik aku mencari kesempatan lain untuk mulai menjebaknya. Lagi pula aku juga mengerti dengan dasar-dasar menjadi stripper. Kau pernah melihatnya sendiri, bukan?" Balas wanita itu sambil mengedipkan sebelah mata di akhir kalimatnya kepada sang suami.
"Kau benar-benar wanita yang sangat nakal, Sugarboo."
Sebastian pun langsung mengangkat wanita itu lagi ke gendongannya, dan pria itu menaruh tubuh Ravena di kursi kebesarannya lalu dihimpit-lah sang istri di sana.
"Apakah kau membutuhkan keberuntungan untuk malam ini?"
"Aku menyukainya, Romeo." Balas Ravena sambil menggigit bibirnya menggoda.
"Katakan sekali lagi. Aku suka mendengarnya."
Sambil membuka kembali pengikat pada dress-nya, wanita itu mengulang ucapannya dengan begitu sensual pada saat di dengar. Dengan membuka kedua kakinya lebar-lebar, wanita itu seakan begitu siap menerima kembali setiap serangan Sebastian kepadanya.
"Kau selalu bisa membuatku menginginkanmu, Sugarboo."
"Kalau begitu tutup mulutmu dan segera nikmati tubuhku."
"Dengan senang hati, milikku."
Saat itu juga, Sebastian langsung menuruti perintah sang istri. Kedua insan yang selalu haus dan tidak pernah lelah akan percintaan yang selalu mereka lakukan dengan begitu panas seakan tidak ada hentinya bagi mereka, terutama bagi sang pria.
***
Dengan pakaian yang begitu minim nan menggoda, Ravena mulai menjalani perannya dengan menyamar sebagai salah satu penari striptis di Club yang sudah ia targetkan sebelumnya. Seluruh luka lebam yang ia miliki di tubuhnya itu sudah ia tutupi dengan tebalnya make-up, dan begitu juga dengan dirinya yang ia ubah menjadi berpenampilan lebih menggoda dari biasanya. Rambut panjang hitam yang diikal di bagian bawahnya, serta warna lipstick merah gelap yang ia pilih untuk mewarnai bibir membuat dirinya benar-benar seperti jalang bernama Gemma. Nama samaran yang akan ia gunakan untuk menjalankan rencananya kali ini.
Bagian pribadi tubuhnya yang begitu menantang dan tidak bisa disembunyikan di balik pakaian minimnya itu, sudah menjadi pusat perhatian bagi para pria yang semakin tidak ingin menjauh dari wanita itu. Dan sudah dua jam lamanya, Ravena melakukan penyamaran tersebut namun sejauh itu juga ia belum melihat tanda-tanda keberadaan Venezio dan kelompoknya. Wanita itu sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan menjijikkan pria-pria yang sedang menjadi penontonnya semakin bertambah banyak. Namun Ravena harus bertahan sampai ia bertemu dengan Venezio.
Hingga wanita itu sedang menunjukkan kemampuannya dengan menari tiang, dari kejauhan ia bisa melihat datangnya kelompok Venezio yang sejak tadi sudah ia tunggu-tunggu. Tidak akan di sia-siakan kesempatan tersebut, Ravena akan semakin mengeluarkan pesonanya hingga pria itu dapat melihat dirinya. Pada akhirnya, Venezio pun duduk di sebuah meja yang tidak jauh dari panggung tempat Ravena sedang tampil.
Sambil menyibukkan diri memberikan penampilan yang memukau, Ravena tidak melepaskan tatapannya pada pria itu. Pandangan yang kini saling bertabrakan pun membuat wanita itu memutuskan untuk mengakhiri tariannya dan mengakhiri Venezio dengan gaya sensual. Dengan penuh percaya diri, Ravena mendudukkan diri di pangkuan pria itu tanpa meminta izin ataupun mengucapkan sepatah kata pun terlebih dahulu.
"Hhmm... hallo," ucap Venezio dengan nada canggung dan cukup bingung.
"Hai," balas Ravena sambil memberikan senyuman sejuta pesona.
Dan mata hitamnya kini, kembali bertatapan dengan mata abu-abu yang dulu sudah memberikan rasa takut dan trauma akannya. Sekelebat bayangan akan masa lalu sedikit menghantui pikiran wanita itu sesaat.
"Apa kau baru, di sini?"
"Ya, Sir."
"Tetapi penampilanmu tadi begitu memperlihatkan kemampuanmu itu yang begitu memukau."
"Terimakasih, Sir."
"Siapa namamu?"
"Gemma."
"Baiklah, Gemma. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu kembali. Mungkin rekan-rekan saya bisa menerimamu."
"Memangnya kau tidak menginginkanku? Apakah aku kurang cantik?"
"Kau luar biasa, Gemma. Tetapi maafkan saya yang tidak bisa menemanimu."
"Kau tidak tertarik denganku? Tetapi aku ingin bersama denganmu," ucap wanita itu dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Mungkin kau bisa mencari yang lain, Gemma."
"Tetapi bukankah kau yang memperhatikanku sejak tadi dan tidak bisa mengalihkan pandanganmu dariku? Apakah aku benar?"
"Ya, saya memang memperhatikanmu sejak tadi. Tetapi bukan berarti saya tertarik denganmu."
"Aku bisa menemanimu, memberikan hal yang akan membuatmu tidak bisa melupakan malam indah ini." Bisik Ravena sambil membelai rahang Venezio yang lebat akan rambut janggut yang tumbuh di sana.
Rambut pria itu yang sedikit panjang sampai sebatas rahangnya, tidak luput dari seorang jalang bernama Gemma permainkan juga. Dibelai dan diremas perlahan, dengan percaya dirinya wanita itu beraksi.
"Maafkan saya, Gemma. Tetapi saya tetap tidak bisa."
"Ayolah, jangan menjadi pria yang menyebalkan." Bujuk wanita itu sambil meliuk-liukkan bokongnya yang menempel dengan sempurna di titik bagian sensitif pria itu.
"Gemma, saya masih ingin bersikap baik kepada kau yang mulai memperlihatkan sifat aslimu ini."
"Tidak masalah jika kau tidak tertarik denganku. Tetapi apakah kau ingin menemaniku minum?"
"Sudah saya ka-"
"Satu gelas saja. Dan setelah itu aku berjanji akan langsung pergi," sela wanita itu.
Terdengar hembusan nafas berat yang menandakan pria itu sudah mulai jengah dengan keberadaan Ravena di dekatnya.
"Baiklah, hanya satu gelas saja." Balas Venezio yang membuat wanita itu langsung tersenyum.
"Kau ingin minum apa?"
"Apa saja."
"Baiklah, kalau begitu kita ke meja bar."
Setelah beranjak dari pangkuan pria itu, Ravena pun menggenggam tangan Venezio dan mengajaknya ke meja bar yang berjarak tidak terlalu jauh.
"Seperti biasa, Eve." Pinta Ravena kepada salah satu bartender yang berjaga di bar sambil memberikan pandangan penuh arti kepada Ivy. Ya, wanita itu sengaja menyuruh sang asisten untuk menyamar sebagai bartender juga agar minuman yang dimintanya itu sudah diberi obat tidur terlebih dulu.
"Kau juga orang baru di sini?" Tanya Venezio dengan menyelidik ke Ivy.
"Eve dan aku sama-sama anak baru di sini. Jadi, rupanya Club ini sudah menjadi tempat favoritmu? Sampai-sampai kau begitu mengerti dengan siapa saja yang menjadi pegawai baru di sini," balas Ravena melindungi sang asisten dari pertanyaan yang bisa saja menjadi jebakan atau halangan pada rencananya tersebut.
"Tidak juga, tetapi saya dan rekan-rekan sering datang ke sini."
"Menyenangkannya bisa menghabiskan waktu bersama rekan-rekan.”
"Minuman anda," ucap Ivy sambil memberikan segelas minuman masing-masing di hadapan Ravena dan Venezio.
"Bersulang!" Seru Ravena sambil mengambil lalu mengangkat gelas ke hadapan pria itu.
Setelah dentingan antar gelas berbunyi, Ravena pun hanya menempelkan bibir gelas pada mulutnya dan berpura-pura meminum minuman tersebut sambil memperhatikan Venezio yang sudah meminum habis minumannya.
"Kau ingin tambah?"
"Tidak. Kau mengatakan hanya satu gelas, bukan?" Balas pria itu yang mulai terdengar merasa kesal.
"Baiklah. Senang bertemu denganmu, Sir."
Namun ketika Venezio baru saja hendak berdiri dari kursi, tiba-tiba saja tubuhnya pun limbung. Pria itu langsung tidak sadarkan diri dengan Ravena yang menahan tubuh Venezio agar tidak terjatuh. Obat tidur yang bekerja sangat begitu cepat dengan seketika membuat pria itu menjadi tidak sadarkan diri. Tubuh yang sedikit lebih besar dari Sebastian dan sangat berat itu untungnya dibantu dengan kedatangan Jim yang cepat karena salah satu anak buah suaminya itu ikut dalam menjalankan rencana tersebut.
"Kau tidak kuat?" Tanya Ravena langsung kepada Jim.
"Dia begitu berat, Queen."
"Dimana yang lain?"
"Menunggu di mobil, Queen."
"Ivy, panggil yang lainnya untuk membantu Jim." Perintah Ravena kepada sang asisten yang langsung dilaksanakan.
"Kita harus cepat atau anak buah Venezio akan mengetahui keberadaan kita."
"Saya sedang berusaha, Queen."
"Maka dari itu perbanyak olahraga dan angkat beban agar kau bisa diandalkan walau hanya seorang diri."
"Maafkan saya yang sudah mengecewakan anda, Queen."
Tidak lama kemudian beberapa anak buah yang dipanggil tadi pun datang, secepat mungkin agar tidak dapat diketahui oleh para anak buah Venezio, pria itu dibawa keluar dari Club dan langsung dimasukkan ke dalam mobil.
Rencana Ravena selanjutnya adalah dengan membawa Venezio ke sebuah apartement kecil dan berpura-pura jika apartement tersebut adalah tempat tinggalnya. Ia akan menjebak pria itu dengan cara membuat keadaan yang seakan mereka telah melalui percintaan satu malam bersama.
***
Hari telah berganti dan sinar matahari sudah menembus kaca jendela ruangan kecil apartement tersebut. Ravena yang sejak semalam tidak tertidur dan hanya memperhatikan Venezio yang tertidur, dengan setia tidak mengubah posisinya yang sudah ia atur sedemikian rupa sejak semalam.
Setelah tiba dari Club semalam, wanita itu langsung membuka seluruh pakaian Venezio dan begitu juga dengan dirinya yang sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut tipis yang menutupi kedua tubuh mereka di atas ranjang kecil tersebut.
Beberapa saat kemudian disaat ia melihat Venezio yang menunjukkan tanda-tanda ingin terbangun, membuat Ravena langsung memeluk tubuh pria itu dengan erat dan berpura-pura untuk tertidur.
"Sial! Apa yang terjadi?"
Suara keterkejutan Venezio itu membuat Ravena langsung membuka mata seakan-akan ia sehabis terbangun dari tidurnya.
"Selamat pagi," sapa Ravena dengan tersenyum.
Melihat wanita itu yang sedang memeluk tubuhnya, membuat Venezio segera melepas pelukan tersebut dengan paksa dan sedikit menjauh darinya.
"Apa yang terjadi?"
"Kau tidak mengingatnya? Padahal semalam itu adalah hal yang sangat menyenangkan, kau tahu? Terimakasih kasih sudah memuaskanku, Sir." Balas Ravena sambil hendak meraih tangan Venezio, namun pria itu dengan cepat langsung menepisnya.
"Katakan yang sejujurnya apa yang terjadi dengan kau dan saya!" Seru Venezio yang mulai panik.
"Kita baru saja menghabiskan malam yang menyenangkan, Sir. Dan dalam artian lain semalam kita baru saja melakukan percintaan panas yang mungkin bisa saja membakar apartement-ku ini. Rupanya kau itu sangat nakal dan liar, Sir. Aku menyukainya. Bisakah sekarang kita ulangi lagi? Aku mohon, aku sangat menginginkannya." Rengek Ravena.
"Kau benar-benar wanita gila!"
Senyuman kecil pun terbit di sudut bibir Ravena saat melihat Venezio yang sudah beranjak dari ranjang dan langsung memakai pakaiannya yang berserakan di lantai dengan perasaan sangat kesal. Dengan melilitkan selimut hingga menutupi tubuhnya, Ravena pun beranjak dari ranjang lalu menghampiri Venezio dan ia memeluk tubuh pria itu dari belakang.
"Jangan pergi, aku menginginkanmu di sini. Apakah kau tidak ingin menemaniku? Aku sendirian," pinta wanita itu dengan merajuk.
"Enyahlah, jalang! Kau tidak pantas menyentuh tubuhku," balas Venezio sambil menarik tubuhnya yang sedang dipeluk itu dengan paksa.
"Kau kasar sekali. Aku tidak suka dengan kau yang kasar seperti ini."
Ravena yang hendak memeluk tubuh Venezio kembali, dengan cepat pria itu terlebih dahulu menampar pipi Ravena dengan kencang hingga wanita itu terjatuh dan keningnya juga terantuk tepi meja yang cukup tajam hingga menimbulkan sedikit luka goresan di sana.
"Sadarlah jalang! Kau itu p*****r yang tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun!" Maki pria itu yang langsung meninggalkan kamar apartement tersebut dengan bantingan pintu di depan sana.
Sedangkan Ravena yang mendapatkan hal yang tidak ia sangka dan membuatnya terkejut itu hanya bisa tersenyum dibuatnya saja. Wanita itu senang karena rencana yang ia susun ternyata dapat berjalan dengan baik. Dengan sikap pria itu yang begitu marah kepadanya, ia yakin hal yang baru saja terjadi akan menjadi bayang-bayang untuk Venezio.
Karena menurut informasi yang didapatkannya, Venezio itu bukanlah tipe pria yang tidak bisa menjadi pemarah kepada seorang wanita. Apalagi sampai bersikap kasar dengan fisik seperti tadi, Ravena yakin kejadian hari ini akan menjadi beban pikiran bagi pria itu. Ravena sangat yakin akan itu.
***
To be continued . . .