Bab. 3 Cinta Kembang Desa 2 

1017 Words
"Aku mencintaimu, Ki," ucap Mulin dengan tangan kanannya menggenggam tangan Kinan. Sedang tangan kirinya ia sembunyikan di balik punggung. Mulut Kinan pun terasa kelu. Matanya melotot tak percaya. Sedang jantungnya berdebar-debar seakan hendak meloncat keluar. "A… aku…." Ucapan Kinan pun terhenti. Sebab, telunjuk Mulin kini menyentuh kedua bibirnya hingga kembali terkatup. "Jangan jawab dulu. Aku belum siap mental untuk mendengar penolakan," ujar Mulin. "Hah. Tap… tapi," ucap Kinan terbata. Takut Mulin membatalkan pernyataan tadi. Sebab, sebenarnya dia pun memiliki perasaan yang sama. Namun, saking sibuk dengan rasa ketakutannya sendiri. Kinan sampai tidak sadar jika Mulin sedang bersimpuh di hadapannya sambil mengeluarkan sebuah bunga kol yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggung. "Sekarang aku baru siap, Ki," ujar Mulin yang membuat mulut Kinan kembali menganga. Begitu pula dengan gadis-gadis lain yang berada di perkebunan kentang milik keluarga Kinan. Mereka semua menatap iri Kinan dengan mulut yang tak kalah membuka lebar. Bahkan, ada beberapa diantaranya yang saling memeluk satu sama lain. Saking bapernya. "Kalau kamu menerima aku. Ambil bunga kol ini, Ki. Tapi, kalau kamu tolak aku. Kamu bisa buang bunga kol ini," lanjutnya yang langsung membuat orang-orang di sekitarnya ikut memperhatikan dengan jantung deg-degan tak karuan. Menunggu tindakan yang akan dilakukan oleh Kinan kemudian. Kinan pun tersenyum lalu ia segera mengambil bunga kol itu. Kemudian langsung memeluknya erat. Semua orang-orang tua yang tengah bekerja di kebun kentangnya pun langsung bersorak-sorai kegirangan. Sedang para gadis tadi hanya mampu menatap mereka dengan kecewa bahkan ada yang menangis sambil berlari menjauh. "Kamu menerima aku jadi pacarmu?" tanya Mulin yang langsung dijawab dengan anggukan mantap oleh Kinan. "Yes! Yes! Yes!" sorak Mulin dengan histeris. "Ibu-Ibu! Bapak-Bapak! Cinta saya diterima Kinan!" teriaknya pada orang-orang yang berada di sekitarnya. "Hore! Selamat ya, Mas. Selamat!" ujar para petani kentang itu sambil menyalami Mulin satu per satu. Sedang Kinan hanya tersenyum-senyum di pinggir kebun. Bahagia. ******** "Mulin, apa kamu benar-benar mencintai Kinan?" tanya Pak Lurah malam harinya. Mendengar berita dari warga sekitar tentang hubungan kedua insan itu. Membuat Pak Lurah harus segera mengambil tindakan agar ia tidak kecolongan. Selain karena lingkungan desa yang ia pimpin adalah kawasan religi yang selalu mengedepankan aturan agama., wanita yang dimaksud disini adalah keponakannya sendiri yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. Jadi, Pak Lurah benar-benar tidak mau terjadi hal-hal fatal yang merugikan pihak keluarganya. "Benar, Pak. Saya sangat mencintai Kinan," ujarnya sambil menundukkan kepalanya dengan sopan. Mendengar jawaban Mulin, Kinan pun langsung tersenyum bahagia. "Tapi, maaf Mulin. Kami tidak pernah mengijinkan anak-anak di desa kami untuk pacaran. Jadi, apakah kamu siap menikahi Kinan?" tanya Pak Lurah lagi dengan tegas. Mulin pun langsung mengangkat kepalanya. "Menikah, Pak. Tapi, saya harus bicara dulu dengan keluarga saya di kota," jawab Mulin dengan nada yang sedikit bergetar. "Sesungguhnya, kamu bisa saja menikah siri dengan Kinan. Jika nanti tugasmu di sini sudah selesai, baru kamu bisa pulang dan mengabarkan pada keluargamu di kota untuk menikah secara sah," sahut Pak Lurah. Mulin pun terdiam. Sambil terus berpikir sejenak. Sedang Kinan terus menatap Mulin dengan pandangan yang harap-harap cemas. 'Ya Allah, aku mohon. Beri tahu pada Mas Mulin untuk menerima tawaran Pakdhe. Sungguh, aku sudah terlanjur mencintainya,' batin Kinan berulang-ulang. "Bagaimana Mulin? Apa kamu sanggup?" Kini gantian Juragan Parno atau bapak Kinan yang mengajukan pertanyaan. Mulin tetap saja terdiam. Membuat Kinan menitikkan air mata. Takut apa Mulin tidak sanggup menikahinya seperti permintaan keluarganya. 'Sungguh, aku tau menikah itu tidak gampang. Banyak hal yang harus kita siapkan untuk mencapai tujuannya. Tapi, aku ndak mau kehilanganmu, Mas,' ujar Kinan dalam hati. Ia pun mengusap air matanya segera. Tak mau keluarganya ada yang tau kalau ia tengah menangisi lelaki kota itu. "Bagaimana Mulin? Kalau kamu ndak sanggup. Kami pun tidak akan memaksamu," ujar Juragan Parno. "Saya sanggup, Pak," jawab Mulin cepat. Membuat orang-orang yang ada di ruangan itu terkejut semua. "Saya sanggup menikahi Kinan," ulangnya sambil menatap Kinan dengan mantap. Dan Kinan pun menatap Mulin dengan bercucuran air mata bahagia. "Alhamdulillah," ujar Pak Lurah dan Juragan Parno bersamaan. "Sebenarnya kamu tidak usah takut begitu. Semuanya biar kami yang menyiapkan. Kamu tinggal terima beres saja. Lagian tujuan kami melakukan hal seperti ini bukan bermaksud untuk memisahkan kalian. Hanya saja kami tidak ingin kalian salah langkah saat menjalani status pacaran. Sebab, orang pacaran banyak cobaannya," jelas Pak Lurah. "Bener sekali itu, Nak Mulin. Kami pun sebagai keluarga Kinan tidak mau kalian terjadi apa-apa," kata Ibu Sri sambil meletakkan minuman dan camilan seadanya. "Iya, Pak. Bu. Pak Lurah. Saya sangat mengerti akan hal itu," ujar Mulin mantap. "Kalau begitu saya akan segera urus semuanya. Agar kalian cepat halal dan tidak jadi bahan omongan para warga," ucap Pak Lurah. "Baik, Pak. Saya ikut saja. Kalau begitu." Beberapa jam kemudian Mulin pun sudah kembali ke rumah yang digunakan untuk tempat tinggalnya selama di desa ini. Namun, ia tak langsung masuk ke dalam. Ia malah memilih duduk di kursi teras samping sambil menatap kelap-kelip bintang di langit malam. "Udah, pulang loe," sapa Johan. Teman Mulin yang satu Universitas. "Yah. Gitu deh," balas Mulin tak bersemangat. "Kenapa loe jadi nggak semangat gini. Kenapa? Loe nggak disuruh nikah cepet, kan? Hahaha," ucap Johan bercanda. "Iya, Jo. Gue disuruh cepet-cepet nikahi Kinan," jawab Mulin yang langsung membuat tawa Johan menghilang seketika. "Beneran loe?" "Apa loe pikir gue lagi bercanda?" "Enggak sih. Ya udah deh. Kenapa elo harus murung gitu sih. Kinan kan cantik keluarganya kaya lagi. Loe nggak lulus kuliah juga hidup loe terjamin disini, Mul. Jadi, apa yang elo khawatirin?" "Tapi gimana dengan Nenek gue di kota?" "Ck. Nggak usah bingung gitu deh. Loe bisa kan ke kota setelah menikah," ujar Johan sambil menaik-naikkan kedua alisnya bersamaan. Mulin pun menatap kedua manik mata temannya itu. Lalu sedetik kemudian ia pun tersenyum. Mengerti dengan apa yang dipikirkan temannya itu. Terlintas dalam pikirannya tentang sebuah rencana yang sudah handal ia pelajari dari temannya itu. "Loe emang temen gue," kata Mulin sambil melayangkan tinju ke arah lengan Johan. "Hahaha. Siapa dulu dong. Johan," balasnya sambil membanggakan diri. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk membenarkan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah rapi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD