Tiga hari setelah akad, Lirna masih belum bisa tidur nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, wajah Arga selalu muncul di antara bayang lampu kamar yang temaram. Suara itu, suara yang dulu menenangkan, kini jadi luka yang menolak kering.
"Selamat tidur, Lirna," suara Rendra lembut, berusaha merengkuhnya dari belakang. Tapi tubuh Lirna kaku. Tak ada kehangatan yang bisa menjawab pelukan itu, hanya d**a yang terasa sesak oleh sesuatu yang tak semestinya tinggal di sana lagi.
Lirna segera memejamkan mata agar Rendra tak melihat air mata yang sudah lama ingin jatuh. "Iya, Mas," katanya pelan.
Tapi begitu Rendra benar-benar tertidur, Lirna bangun pelan-pelan. Ia duduk di sisi ranjang, memandangi cincin di jari manisnya. Logam itu terasa dingin, seperti janji yang tak pernah ia yakini sepenuhnya.
“Sudah seharusnya aku bahagia,” bisiknya, seolah ingin meyakinkan diri sendiri.
Namun di dalam d**a, yang bergema justru suara Arga, yang dulu pernah berucap dengan nada parau, “Aku nggak akan berhenti, Na. Sekalipun dunia nyuruh aku pergi.”
Lirna menggigit bibir, berusaha menekan rasa sakit yang muncul tanpa aba-aba. Ia berjalan ke jendela, menyingkap tirai pelan. Di luar sana, malam tampak diam. Tapi diam itu memantulkan segalanya, bayangan, kenangan, dan rasa yang menolak padam.
Hujan rintik turun, membawa aroma tanah basah yang khas. Aroma itu juga yang selalu muncul di sore-sore bersama Arga ketika mereka duduk di bawah atap seng rumah kecil itu, membicarakan masa depan yang kini terasa seperti kebohongan.
“Lirna?”
Suara Rendra membuatnya tersentak. Laki-laki itu masih setengah sadar, tapi nadanya penuh perhatian. “Kamu nggak tidur?”
“Aku agak... gerah, Mas.” Ia berbohong.
“AC-nya diturunin suhunya, ya?” tawar Rendra.
“Nggak usah, Mas. Aku cuma butuh udara segar aja, kok.”
Rendra mengangguk pelan, lalu memejam lagi. Tapi Lirna tahu, bukan udara yang membuat dadanya panas. Ada api yang belum padam, dan ia tak tahu bagaimana cara memadamkannya tanpa ikut terbakar.
Ia kembali duduk di tepi tempat tidur, menatap cermin di seberang. Wajahnya tampak asing. Dandanan istri orang. Senyum yang tidak lagi miliknya. Bahkan sorot matanya yang dulu berani menatap hidup kini seolah milik orang lain.
Tangannya bergerak refleks, membuka laci di meja rias. Di sana ada sesuatu yang seharusnya sudah ia buang, selembar foto usang, ujungnya sedikit terbakar. Dirinya dan Arga. Di tepi sungai, tertawa tanpa takut pada dunia. Ia menatap lama, sampai matanya memanas.
“Kenapa kamu nggak nyerah, Ga...” bisiknya dengan nada yang patah.
Entah sejak kapan, air matanya jatuh satu-satu. Entah untuk siapa? Untuk dirinya, atau untuk cinta yang dipaksa mati tanpa sempat dikubur.
***
Keesokan paginya, Lirna masih terdiam di meja makan. Rendra sedang sibuk menyiapkan berkas kerja, sambil sesekali menatapnya.
“Kamu nggak makan?” tanyanya.
Lirna tersenyum hambar. “Nanti, Mas. Belum lapar.”
Rendra menghela napas kecil, lalu mendekat dan mencium keningnya. “Aku tahu kamu masih menyesuaikan diri. Tapi kamu jangan menyiksa diri sendiri. Kamu harus bahagia.”
Lirna ingin percaya. Tapi kata “bahagia” itu malah terasa seperti beban baru yang menggantung di lehernya.
Begitu pintu tertutup, ia menunduk. Di layar ponselnya ada pesan tak bernama yang masuk dini hari tadi. Hanya satu kalimat. Pendek, tapi cukup untuk membuat jantungnya berhenti berdetak beberapa detik.
>
Lirna menatap layar itu lama. Tak ada nama, tapi ia tahu siapa pengirimnya. Tiap huruf terasa seperti luka yang baru dibuka. Ia menggenggam ponsel itu kuat-kuat, lalu menutup matanya. Napasnya tersengal.
“Arga...”
Suara itu nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya gemetar.
***
Malamnya, Lirna kembali ke kamar. Rendra belum pulang, katanya lembur. Tapi entah kenapa, sepi itu terasa seperti jebakan. Ia berjalan ke jendela lagi, menatap hujan yang turun lebih deras dari malam sebelumnya. Tetes air yang menabrak kaca seolah mengetuk pintu masa lalu yang belum juga tertutup. Dan kali ini, Lirna tak berusaha lagi menahannya. Ia menangis sejadi-jadinya.
Bukan karena menyesal menikah. Tapi karena tahu, di suatu tempat, ada seseorang yang masih berjuang untuknya, saat ia sendiri sudah menyerah pada takdir.
“Maaf, Ga... Aku capek.”
Namun di dalam keheningan malam itu, entah kenapa, Lirna merasa seperti ada yang membalas bisikannya. Bukan lewat suara. Tapi lewat detak hujan, yang seolah menjawab lirih:
“Aku belum menyerah, Na.”
Rintik hujan makin berat. Di balik kaca jendela, Lirna melihat bayangan samar di luar pagar rumah, seolah ada seseorang berdiri di bawah naungan pohon flamboyan yang menggigil sendirian. Ia tahu itu mungkin cuma imajinasinya. Tapi sesuatu dalam d**a berdenyut aneh, seperti tubuhnya mengenali sesuatu yang matanya tak bisa pastikan.
Bayangan itu diam. Tak bergerak. Tapi ketika petir menyambar jauh di langit, siluetnya tampak jelas sesaat. Sosok tinggi dengan bahu tegap, berdiri menghadap rumah, dan kemudian menunduk perlahan.
Lirna menahan napas. Matanya panas. Jari-jarinya gemetar di sisi jendela. “Arga...?” suaranya nyaris pecah.
Tak ada jawaban. Ketika petir kedua menyambar, bayangan itu sudah hilang. Yang tersisa hanya kursi taman yang basah kuyup dan aroma hujan yang semakin kuat menusuk hidungnya. Tapi entah kenapa, Lirna tahu yang baru saja dialaminya bukan mimpi. Ada sesuatu yang nyata barusan. Sesuatu yang masih menolak pergi, sama seperti kenangan yang belum ia kubur.
Lirna merapatkan selimut di bahunya, mencoba mengusir dingin yang justru terasa datang dari dalam tubuh. Sambil menatap hujan yang tak kunjung reda, Lirna berbisik lagi, kali ini bukan karena ingin didengar, tapi karena ingin meyakinkan diri bahwa yang ia rasakan bukan gila.
“Dia nggak akan datang lagi... kan?”
Namun jauh di seberang jalan, di balik gelap dan derasnya hujan, seseorang berdiri diam dengan kemeja hitam menempel di tubuh basahnya. Tatapannya terpaku pada jendela kamar lantai dua, tempat cahaya lampu masih menyala lembut di balik tirai putih.
Mulutnya bergerak, pelan tapi tegas.
“Aku nggak pernah pergi, Na.”
Dan saat itu juga, langit meledak dengan suara petir ketiga. Hujan seakan berhenti sejenak, cukup lama untuk membuat dunia menahan napas bersama dua hati yang belum selesai saling menunggu.
~~~
^vee^