BAB 20 - Yogyakarta Menelepon Lagi

2940 Words
POV Dimas Telepon itu datang hari Rabu malam. Bukan dari ibunya kali ini — dari adiknya, Dira, yang biasanya menghubungi lewat w******p dengan pesan-pesan pendek dan meme yang tidak selalu Dimas mengerti konteksnya. Telepon langsung dari Dira berarti sesuatu yang lebih dari sekadar kabar biasa. Dimas sedang di mejanya, menyelesaikan laporan yang deadline-nya besok pagi, ketika layar ponselnya menyala. Dira. Ia mengangkat. "Halo." "Mas Dim." Suara Dira lebih serius dari biasanya — adiknya yang dua tahun lebih muda dan yang biasanya berbicara dengan kecepatan yang membuat Dimas kadang harus meminta ia mengulang. Malam ini kecepatannya berbeda. "Mas lagi sibuk?" "Sedang kerja. Ada apa?" "Ibu." Dimas meletakkan penanya. "Ada apa dengan Ibu?" "Bukan sakit, Mas, tenang." Dira cepat menambahkan itu — sudah tahu kakaknya akan langsung ke kesimpulan terburuk. "Tapi Ibu habis nangis tadi. Saya tidak tahu harus bagaimana." Dimas menunggu. "Tadi sore Bude Ratih telepon lagi. Soal Laras itu." Suara Dira turun sedikit. "Ibu bilang ke Bude Ratih bahwa Mas belum bisa dihubungi soal itu. Bude Ratih kayaknya bilang sesuatu yang — Saya tidak dengar semuanya, Mas, tapi habis telepon Ibu masuk kamar dan waktu saya ketuk pintunya matanya merah." Dimas menutup matanya sebentar. "Bapak tahu?" tanyanya. "Bapak lagi di luar kota sampai Jumat." "Ibu sekarang bagaimana?" "Sudah lebih tenang. Lagi di dapur, masak sesuatu. Mas tahu Ibu kalau sedang berat pasti masak." Dira berhenti sebentar. "Saya cerita ini bukan untuk buat Mas khawatir. Saya cerita karena — saya tidak tahu, Mas. Saya merasa Mas harus tahu." *** Setelah menutup telepon, Dimas duduk di kursinya cukup lama. Laporan di layar laptop masih terbuka — data yang setengah diolah, grafik yang belum selesai, kalimat di paragraf terakhir yang berhenti di tengah. Semuanya masih di sana, tidak ke mana-mana, menunggu dengan sabar untuk dilanjutkan. Tapi Dimas tidak melihat ke layar. Ia menatap meja kayu yang sudah agak pudar warnanya, goresan kecil di sudut kanan yang sudah ia kenal sejak dua tahun lalu — dan membiarkan informasi dari percakapan tadi duduk di dalam dirinya dengan cara yang tidak bisa ia percepat atau perlambat. Ibunya menangis. Bukan untuk pertama kalinya — ada hari-hari di Yogyakarta yang ia ingat, tahun-tahun yang lebih awal, di mana ibunya menangis karena hal-hal yang berbeda. Tapi setiap kali mendengar tentang itu, ada sesuatu yang bergerak di dalam Dimas yang tidak pernah menjadi lebih mudah meskipun sudah terjadi beberapa kali. Karena ibunya menangis bukan karena Dimas melakukan sesuatu yang jahat. Bukan karena ia menyakiti siapa pun. Bukan karena ada masalah yang bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. Ibunya menangis karena ada jarak — jarak yang tidak bisa diukur dengan kilometer, jarak antara apa yang ibunya harapkan dan apa yang kenyataannya ada, jarak yang Dimas sudah hidup di dalamnya selama bertahun-tahun dan yang tidak pernah benar-benar menutup tidak peduli berapa banyak iya Bu dan nanti Bu yang ia ucapkan. *** Ia menelepon ibunya jam sembilan malam. "Dim." Suara ibunya terdengar normal — sudah stabil, sudah kembali ke versi sehari-harinya yang hangat dan tidak memberikan beban kepada orang yang menelepon. "Lagi apa?" "Habis kerja. Ibu baik-baik saja?" "Baik, Dim. Kenapa nanya?" "Iseng." Dimas tahu ibunya tahu bahwa ia menelepon bukan iseng. Ibunya tahu bahwa Dira pasti sudah menghubunginya. Tapi ini adalah cara mereka — tidak langsung, tidak konfrontasi, bergerak ke sesuatu yang penting lewat jalur yang lebih panjang tapi yang lebih aman untuk keduanya. "Kamu sudah makan?" "Sudah." "Jangan cuma kopi, Dim." "Sudah makan betul, Bu. Ada katering kantor." "Bagus." Suara ibunya hangat — dan di balik kehangatannya ada sesuatu yang Dimas bisa dengar sekarang, setelah puluhan percakapan telepon selama tiga tahun terpisah: ada kelelahan kecil yang tidak selalu ada. "Bapak masih di Semarang. Pulang Jumat katanya." "Iya, Dira bilang." Jeda singkat. "Dim." "Iya, Bu." "Bude Ratih tadi telepon." "Tahu." Dimas menjaga suaranya tetap pelan, tetap sabar. "Ibu tidak perlu menjelaskan ke Bude Ratih apa-apa." "Bukan soal menjelaskan." Ibunya berhenti sebentar. Ada suara lemari yang dibuka di latar belakang — dapur, mungkin. "Bude Ratih bukan orang jahat. Laras juga bukan orang jahat. Ibu tidak mau kamu salah paham." "Ibu, saya tahu mereka bukan orang jahat." "Tapi kamu tidak mau." Bukan pertanyaan. Pernyataan yang diucapkan dengan nada yang tidak menuduh tapi yang mengandung pertanyaan lain di bawahnya — pertanyaan yang tidak pernah diucapkan secara langsung selama tiga tahun tapi yang selalu ada di sana. Dimas menutup matanya sebentar. "Saya belum siap, Bu," katanya. Versi yang sudah ia ucapkan berkali-kali, yang masih benar, yang akan terus benar bahkan ketika belum siap mulai terasa seperti alasan yang semakin tipis. "Belum siap karena apa, Dim?" Ibunya mengucapkan itu pelan — bukan dengan nada yang menggugat, tapi dengan nada yang sungguh-sungguh ingin tahu. Nada seorang ibu yang mencintai anaknya dan tidak mengerti kenapa anaknya yang sudah dua puluh lima tahun, yang sudah mapan, yang tidak ada yang kurang dari hidupnya secara kasat mata, masih mengatakan belum siap setiap kali. Dimas tidak menjawab langsung. Di luar jendela kamarnya, Menteng malam itu lebih sepi dari biasanya — mungkin hujan yang baru saja berhenti membuat orang-orang pulang lebih awal, mungkin hanya kebetulan. Bayangan daun yang biasanya bergerak di tirai hampir tidak ada karena anginnya juga ikut berhenti. "Ibu," katanya akhirnya, "ada hal-hal yang—" Ia berhenti. Memulai lagi. "Saya tidak mau membuat keputusan yang tidak bisa saya jaga. Itu tidak adil untuk siapa pun." Ibunya diam sebentar. "Dim." Suaranya berubah sedikit — lebih pelan, lebih dekat ke sesuatu yang lebih dalam dari percakapan biasanya. "Ibu tidak memaksa. Ibu tidak pernah mau memaksa." "Saya tahu, Bu." "Tapi Ibu khawatir." Napas kecil. "Bukan soal Laras. Bukan soal siapa pun yang spesifik. Ibu khawatir karena Dim kelihatannya—" Ia mencari kata. "Kelihatannya menanggung sesuatu sendirian. Dari dulu. Ibu tidak tahu apa. Tapi Ibu tahu anaknya." Dimas tidak menjawab. Ada tekanan di dadanya yang familiar — bukan sakit fisik, tapi jenis tekanan yang datang dari dua hal yang sama-sama nyata dan sama-sama penting yang tidak bisa ada bersamaan dengan cara yang mudah. "Ibu baik-baik saja?" tanyanya, mengalihkan. Ibunya diam sebentar — mengenali pengalihan itu, memutuskan untuk membiarkannya. "Baik, Dim. Jangan khawatirkan Ibu." "Ibu yang jangan khawatirkan Dimas." "Itu tidak mungkin." *** Setelah menutup telepon, Dimas tidak kembali ke laptopnya. Laporan itu bisa menunggu — atau tidak bisa, tapi malam ini ada hal yang lebih besar dari laporan yang perlu ia duduki dulu. Ia berbaring di kasurnya, menatap langit-langit. Ritual yang sudah sangat ia kenal. Langit-langit yang sudah sangat ia kenal. Tapi malam ini berbeda dari malam-malam inventarisasi yang biasa — malam ini tidak ada yang bisa ia letakkan rapi di tempatnya, tidak ada yang bisa ia labeli dan simpan dan tutup pintunya. Ibunya menangis karena sesuatu yang Bude Ratih katakan. Dira menelepon dengan nada yang tidak biasa. Laporan yang belum selesai. Farhan dengan percakapan kopinya. Raka dengan Mas tidak harus selalu lelah sendirian yang masih ada di suatu tempat di dalam dadanya. Dan di bawah semua itu — di lapisan paling bawah yang jarang ia kunjungi karena terlalu dalam dan terlalu gelap untuk dikunjungi terlalu sering — pertanyaan yang tidak punya jawaban yang aman: Sampai kapan. *** Ia tidak mengirim pesan ke Raka malam itu. Biasanya ada pesan di malam hari — tidak selalu panjang, tidak selalu tentang sesuatu yang penting, tapi ada. Kehadiran kecil yang sudah menjadi bagian dari ritme hari-hari mereka. Malam ini Dimas membiarkan ponselnya di meja. Bukan karena tidak ingin menghubungi. Bukan karena ada yang salah dengan Raka atau dengan apa yang ada di antara mereka. Tapi karena ada momen-momen di mana seseorang perlu duduk dengan sesuatu sendirian dulu sebelum bisa membawanya ke orang lain — bahkan kepada orang yang sudah ia percayai cukup untuk bilang iya tentang kelelahannya. Malam ini adalah malam seperti itu. *** POV Raka Raka memperhatikan ketiadaan pesan itu. Tidak langsung — ia tidak duduk menunggu di depan ponsel, tidak mengecek setiap lima menit. Tapi jam sebelas lewat, ketika biasanya ada sesuatu, dan tidak ada — Raka memperhatikan. Ia tidak mengirim pesan duluan. Ini juga sudah menjadi sesuatu yang ia pelajari — mengenali kapan Dimas sedang membutuhkan ruang, kapan kehadiran yang terbaik adalah kehadiran yang tidak memaksakan diri. Tidak mudah dipelajari, tidak selalu berhasil, tapi ia berusaha. Ia membuka buku sketsanya sebagai gantinya. Menggambar tanpa tujuan — garis-garis yang tidak membentuk apa pun spesifik, eksplorasi tekstur yang tidak ada dalam tugas mana pun, tangan yang bergerak mengikuti kepala yang sedang dalam kondisi yang tidak bisa dikatakan khawatir tapi juga tidak bisa dikatakan tidak. Di suatu halaman, tanpa ia rencanakan, muncul gambar sebuah jembatan. Bukan jembatan yang spesifik — tidak ada referensi nyata, hanya jembatan dalam pengertian paling dasar: sesuatu yang menghubungkan dua tepi yang tidak bisa saling menjangkau sendiri. Di bawahnya ada air — bukan air yang tenang, bukan yang bergelombang dramatis, hanya air yang bergerak dengan caranya sendiri. Raka menatap gambar itu. Kemudian, di halaman berikutnya, menggambar hal lain. *** Keesokan harinya, Kamis. Pesan dari Dimas datang pagi-pagi — lebih awal dari biasanya, sebelum Raka benar-benar bangun: >Maaf tidak ada kabar semalam. Raka membaca itu dari kasur, mata yang masih setengah terbuka. Iya. Ada yang perlu diurus. Bisa ketemu hari ini? Sore. Raka duduk di kasurnya. Bisa ketemu hari ini dari Dimas, di hari kerja, di hari yang tidak ada rencana sebelumnya — berarti ada sesuatu yang ia ingin atau perlu katakan dengan cara yang tidak bisa dilakukan lewat pesan. Paragraph Coffee. Jam enam. <Oke. Saya akan di sana. Raka tiba di Paragraph Coffee pukul lima lima puluh. Bukan untuk shift — hari Kamis bukan jadwal shiftnya, dan Sinta yang bertugas malam ini memandangnya dengan ekspresi sedikit terkejut ketika ia masuk dari pintu depan bukan pintu belakang. "Kamu tidak kerja hari ini," kata Sinta. "Tahu. Ketemu seseorang." Sinta memandangnya sebentar — dengan ekspresi yang sudah sangat Raka kenal dan yang tidak perlu direspons — kemudian kembali ke pekerjaannya. "Mau pesan sesuatu?" "Nanti kalau sudah ada yang lain." Ia duduk di meja dekat jendela — meja yang bukan mejanya sebagai barista tapi yang sudah punya arti tersendiri, tempat di mana percakapan-percakapan tertentu terjadi. Dari posisi ini ia bisa melihat pintu masuk dan sebagian besar ruangan, termasuk bar tempat ia biasanya berdiri. Berbeda, melihat kedai dari sisi ini. Tapi tidak asing. *** Dimas datang pukul enam tepat. Kemeja hari ini gelap — bukan yang biasanya ia pakai, warnanya lebih berat, yang membuat Raka tidak bisa memutuskan apakah itu pilihan yang disengaja atau kebetulan. Tas kerja di bahu. Ekspresi yang biasa tapi dengan sesuatu di matanya yang sudah Raka kenali sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang sudah ia bawa sepanjang hari dan belum bisa diletakkan. Ia melihat Raka di meja dekat jendela, bukan di balik bar, dan ada sesuatu di wajahnya yang bergerak sebentar — sesuatu yang terasa seperti lega yang tidak mengumumkan dirinya sendiri. Ia memesan ke Sinta — americano panas, tanpa gula — kemudian menghampiri meja. Duduk di seberang Raka. "Kamu sudah lama?" tanya Dimas. "Sepuluh menit." "Terima kasih sudah mau." "Tentu." Sinta mengantarkan americano — meletakkannya di meja dengan cara yang sangat profesional, tidak menatap siapa pun secara khusus, pergi dengan efisien. Mereka duduk sebentar tanpa berbicara. Bukan diam yang canggung — lebih ke diam yang memberikan ruang, yang membolehkan seseorang tiba di suatu tempat dengan kecepatannya sendiri. *** "Semalam Dira menelepon," kata Dimas akhirnya. Raka mendengarkan. Dimas menceritakannya — dengan cara yang terukur seperti biasanya, memilih kata-kata dengan hati-hati, tapi kali ini ada sesuatu yang sedikit berbeda dari cara biasanya bercerita. Lebih langsung. Lebih sedikit lapisan yang perlu ditembus sebelum sampai ke isinya. Tentang Dira yang menelepon. Tentang ibunya yang menangis. Tentang percakapan dengan ibunya malam tadi — termasuk kalimat yang jarang keluar: Ibu tahu anaknya. Raka tidak menyela. Tidak mengisi jeda-jeda dengan pertanyaan yang tidak perlu. Hanya mendengarkan dengan cara yang sudah Dimas tahu artinya — mendengarkan yang sungguh-sungguh, yang tidak sedang menunggu giliran berbicara. Ketika Dimas selesai, ada keheningan yang tidak kosong. "Mas merasa bersalah?" tanya Raka akhirnya. Dimas memikirkannya. "Bukan persis bersalah." Jari-jarinya bergerak di permukaan meja — kebiasaan yang muncul ketika ia sedang mencari kata yang tepat. "Lebih ke — tidak bisa memberikan apa yang orang-orang yang saya sayangi harapkan. Dan tidak bisa menjelaskan kenapa." "Karena menjelaskannya berarti—" "Berarti banyak hal bergerak yang tidak bisa saya kontrol." Dimas menatap cangkirnya. "Dan saya tidak tahu apakah saya siap untuk konsekuensi dari semuanya bergerak." Raka mengangguk pelan. "Ibu Mas tahu lebih banyak dari yang Mas kira?" tanyanya hati-hati. Dimas berpikir cukup lama. "Mungkin. Ibu perempuan yang cerdas. Dan ibu yang sangat mengenal anaknya." Ia menyesap kopinya. "Tapi antara tahu dan mengakui bahwa tahu — ada jarak yang mungkin sama besarnya dengan jarak antara saya mengakui dan mengatakannya." "Jarak yang keduanya memilih untuk tidak menyeberangi dulu." "Karena menyeberanginya berarti semuanya berubah." Dimas menatapnya. "Dan tidak ada yang tahu persis berubah jadi apa." *** Di luar jendela, Jakarta sore itu mulai gelap lebih awal — awan yang tebal, mungkin akan hujan, langit yang tidak bisa memutuskan warnanya. Raka memikirkan sesuatu sebelum mengucapkannya — bukan karena tidak yakin ingin mengucapkannya, tapi karena ingin mengucapkannya dengan cara yang benar. "Mas," katanya akhirnya. "Iya." "Saya tidak akan berpura-pura bahwa saya mengerti semua yang Mas hadapi. Atau bahwa saya punya jawaban untuk sesuatu yang memang tidak punya jawaban yang mudah." Dimas menatapnya. "Tapi saya ingin tanya sesuatu." Raka menjaga kontak mata. "Dan Mas tidak harus menjawab kalau belum siap." "Tanya." "Mas — kalau tidak ada pertimbangan eksternal. Kalau keluarga, kantor, ekspektasi orang lain semua tidak ada dalam persamaan. Mas ingin apa?" Pertanyaan yang sederhana secara struktur. Yang sangat tidak sederhana dalam isinya. Dimas diam cukup lama — lebih lama dari jeda biasanya, jeda yang terasa seperti seseorang yang sedang berjalan ke suatu tempat yang jarang ia kunjungi karena jalan ke sana tidak selalu terasa aman. Di kedai, mesin espresso berdesis. Seseorang di meja lain tertawa pelan. Sinta menggerakkan sesuatu di balik bar. "Saya ingin," kata Dimas akhirnya, dengan suara yang lebih pelan dari percakapan ini sebelumnya, "tidak harus selalu memikirkan apa yang bisa membuat sesuatu runtuh hanya karena saya ada." Raka mendengarkan. "Saya ingin," lanjut Dimas, "bisa berada di tempat yang saya pilih, dengan orang yang saya pilih, tanpa itu menjadi sesuatu yang perlu dijaga seperti rahasia." Ia berhenti. Menatap cangkirnya. "Tapi saya tahu," katanya lebih pelan lagi, "bahwa menginginkan itu dan bisa mendapatkannya adalah dua hal yang berbeda. Dan di antara keduanya ada banyak orang yang akan terdampak oleh pilihan-pilihan yang saya buat." "Termasuk Mas sendiri," kata Raka. Dimas mengangkat mata. "Mas juga orang yang terdampak." Raka mengucapkan itu dengan cara yang tidak menghakimi — lebih ke mengingatkan. "Bukan hanya orang-orang yang Mas khawatirkan." Hening. Di luar, hujan akhirnya turun — pelan-pelan dulu, kemudian lebih keras, suaranya familiar di atap kedai. Dimas menatap hujan di jendela. "Saya tahu," katanya akhirnya. Dua kata yang terasa berat — bukan berat yang menekan, tapi berat yang mengandung banyak hal sekaligus: pengakuan, kelelahan, sesuatu yang mungkin sudah ia tahu lama tapi baru hari ini diucapkan kepada seseorang lain. Mereka duduk dengan hujan di luar dan kedai yang mulai ramai oleh orang-orang yang masuk mencari berlindung. Tidak ada yang diselesaikan malam ini. Tidak ada resolusi yang rapi, tidak ada keputusan yang diambil, tidak ada peta tentang ke mana semuanya akan pergi. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari semua percakapan sebelumnya — sesuatu yang terasa seperti kedalaman yang baru, tempat yang belum pernah mereka masuki bersama tapi yang malam ini mereka masuki, pelan-pelan, dengan hujan sebagai latar dan Paragraph Coffee sebagai tempat yang sudah menjadi milik mereka dalam cara yang tidak perlu dideklarasikan. *** Pukul delapan, kedai hampir tutup. Mereka adalah yang terakhir — Sinta sudah mulai membalik kursi-kursi, lampu-lampu display sudah dimatikan, hanya lampu bar yang masih menyala. "Mas harus pulang," kata Raka. "Iya." Tidak ada yang bergerak langsung. Hujan di luar sudah mereda menjadi gerimis — bukan berhenti, tapi cukup pelan untuk tidak memaksa berlari. "Raka." "Iya." "Saya tidak tahu," kata Dimas — dan ini adalah kalimat yang mengandung banyak hal, yang bisa berarti banyak hal berbeda, yang Raka tidak langsung minta klarifikasinya. "Tentang banyak hal. Tentang bagaimana semuanya akan berjalan. Saya tidak tahu." Raka mengangguk. "Tapi saya tahu," lanjut Dimas, lebih pelan, "bahwa percakapan seperti ini — yang seperti malam ini — tidak pernah ada sebelumnya. Dengan siapa pun." Raka menatapnya. "Dan saya tidak mau berpura-pura bahwa itu tidak berarti apa-apa." Kalimat yang tidak meminta apa pun. Tidak membuat janji. Tidak memetakan ke mana. Hanya mengakui bahwa ada sesuatu yang berarti — yang nyata, yang tidak bisa ia pura-pura tidak ada. Raka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangguk — sekali, pelan, dengan cara yang sudah menjadi bahasa mereka untuk hal-hal yang lebih besar dari kata-kata. *** Di depan pintu kedai, di bawah gerimis yang masih ada, Dimas berdiri sebentar sebelum pergi. "Mas akan menelepon Ibu lagi?" tanya Raka. "Besok, mungkin." Dimas menatap trotoar yang basah. "Tidak ada yang bisa saya ubah dalam satu malam. Tapi setidaknya—" Ia berhenti. "Setidaknya Mas tidak harus membawanya sendirian malam ini," kata Raka pelan. Dimas menatapnya. Sesuatu di wajahnya bergerak — sesuatu yang besar dan kecil sekaligus, yang Raka bisa lihat tapi tidak bisa gambarkan dengan kata-kata yang tepat. "Iya," katanya. "Setidaknya itu." Ia pergi ke bawah gerimis. Raka berdiri di depan pintu kedai yang masih setengah terbuka, menonton sampai Dimas menghilang di tikungan jalan. Kemudian masuk kembali, membantu Sinta membereskan meja terakhir, dan pulang ke Bekasi dengan KRL yang lebih sepi dari biasanya di jam ini. Di dalam ranselnya, buku sketsa dengan gambar jembatan di suatu halamannya. Di dalam dadanya, sesuatu yang tidak lebih ringan dari sebelum malam ini — karena masalah yang ada tidak menjadi lebih kecil hanya karena sudah dibagikan. Tapi sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sudah dibawa berdua, meskipun hanya malam ini, meskipun hanya di kedai kopi kecil di Sudirman dengan hujan di luar dan lampu bar yang kuning. Berbeda dari dibawa sendirian. Selalu berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD